Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 27. Nyamuk Dewa penolong.


__ADS_3

Milea masih saja tertawa cekikikan, sampai Leonardo kini sudah berdiri di depannya baru Milea menghentikan tawanya.


"Tu-Tuan." Milea gugup saat melihat Leonardo tiba-tiba berdiri di depannya.


Leonardo berjalan mendekat, dengan tatapan sulit diartikan, Milea baru mundur selangkah namun sudah kepentok pintu, Milea tidak bisa mundur lagi.


Hah! Dia mau apa? Mengapa dia mendekatiku, mendekatiku, aaaa!


Leonardo memegang kepala Milea, pria itu putar-putar kepala Milea, sampai tubuh Milea ikutan bergerak seirama kepalanya yang di putar-putar.


Dia kenapa sih! Dia mau apa sih! Hei kepala aku pusing! haduh haduh aaa! Pusing!


"Sudah, sekarang saraf kamu sudah normal." Leonardo bicara seraya memegang dagu Milea.


Milea terkejut dengan ucapan Leonardo, matanya sampai melotot bulat, wajahnya yang baby Face dengan rambut keriting, malah seperti boneka hidup.


Mengapa dia lucu sekali, batin Leonardo yang terus memperhatikan wajah Milea.


Dia pikir sarafku kenapa? Bukan kah caranya tadi bisa membuat leher kepala aku patah, bagaimana coba kalo patah, aku tidak punya leher dan kepala, Milea terdiam hanyut dalam pikirnya seraya menata mata Leonardo.


Saling tatap.


Hening.


Wajah mendekat, bibir sudah hampir menempel.


Ngung- ngung, suara nyamuk tiba-tiba hingap di pipi Leonardo.


Plak!


Aww! Pekik Leonardo saat merasakan pipinya panas di tampar Milea.


"Maaf Tuan Muda, Maaf! Tadi ada Nyamuk jadi saya bunuh nyamuknya," ucap Milea seraya menunjukan nyamuk yang nempel di telapak tangannya, Nyamuk itu sudah mati.


Leonardo hanya melihat sekilas telapak tangan Milea, kemudian mengibaskan tangan, Leonardo berjalan memasuki kamar mandi.


Milea langsung bernafas lega setelah melihat Leonardo pergi.


Untung ada Nyamuk dewa penolong, bila tidak pasti ciuman pertamaku sudah diambil sama dia, batin Milea seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang.


"Mele! Ambilkan aku handuk!" Leonardo berteriak, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi.


Milea kembali kaget mendengar suara Leonardo.

__ADS_1


"Ba-baik Tuan, tunggu se-sebentar." Milea langsung berjalan menuju almari tumpukan handuk, mengambil satu warna putih lalau memberikannya pada Leonardo.


Sekali ketukan pintu, sudah Leonardo buka pintunya.


Deg!


Aaa!


Milea terkejut dan menjerit saat menyerahkan handuk, Leonardo membuka pintu kamar mandi dengan lebar, memperlihatkan tubuhnya yang polosan.


Mataku yang suci telah ternodai! batin kesal Milea dengan tingkah Leonardo, sembari melengos ke arah lain.


Tapi Leonardo malah bersikap santai, dengan bibir tersungging licik, Leonardo mengambil handuk di tangan Milea, kemudian masuk ke dalam lagi.


Tadi dia bilang apa? Saraf aku kongslet! Aku rasa saraf dia deh yang kongslet, ucap Milea seraya berjalan menjauh dari pintu kamar mandi.


Milea menyiapkan pakaian kerja Leonardo, setelah selesai menyiapkan, matanya melihat deretan jam mewah.


"Sepertinya ini akan membuat dia lebih tampan," ucapnya dengan tersenyum seraya mengambil salah satu jam mewah yang menurut Milea cocok untuk Leonardo pakai.


Hih! kenapa aku tersenyum saat menyebut dia tampan, batin Milea setelah sadar dari ucapannya, seraya menampar pelan pipinya.


Tiga puluh menit berlalu.


Wajah Ibu Alenta benar-benar di tekuk, dirinya yang sudah menunggu pasangan muda itu sedari tadi, kini baru muncul, sementara dirinya sudah merasa lapar sejak tadi.


Milea makan dengan diam, merasakan hawa-hawa tidak enak, tanpa Milea kunyah langsung telan saja.


Leonardo memperhatikan Milea, kali ini dirinya baru tahu bila mata Milea sembap.


"Kenapa mata kamu?" tanya Leonardo sembari menyuap makanan.


"Ha, mata," ulang Milea dengan wajah bingung.


"Mata kamu sembap, kamu nangisi apa?" kunyah-kunyah seraya menyuap lagi.


Menangisi hidupku yang menderita karena kamu! Batin Milea ingin bicara seperti itu, tapai tidak miliki keberanian.


"Oh? Saya menangis bahagia Tuan, karena menikah dengan Anda." Milea tersenyum manis ke arah Leonardo, sampai membuat Ibu Alenta yang melihat itu berasa ingin muntah.


Sudah aku duga, Milea menyukai putraku sejak dulu, wajahnya sok polos tapi pikirannya licik, cuma ingin hidup enak berani dia menentang aku! Ibu Alenta menatap tajam ke arah Milea.


Milea bukan tidak tahu di tatap tajam oleh Ibu Alenta, tapi Milea milih diam, tidak mau ambil pusing.

__ADS_1


"Hari ini kamu ikut ke kantor, Ya."


Yang terkejut mendengar ucapan Leonardo mengajak Milea ke kantor, tidak hanya Milea tapi Ibu Alenta lebih terkejut.


Wajah Ibu Alenta semakin kesal, karena berpikir Milea sudah mempengaruhi Leonardo, karena Ibu Alenta tahu betul Leonardo tidak akan mengajak wanita ke kantor bila pria itu tidak miliki rasa.


Ibu Alenta yang marah berpikir hal buruk pada Milea, sampai melupakan bahwa keduanya sudah menikah.


"A- aku tidak bisa pe-pekerjaan kantor Tu-tuan," ucap Milea takut-takut.


"Siapa yang meminta mu mengerjakan pekerjaan kantor!" jawab Leonardo dengan sengit.


"Lalu-."


"Ikut saja," jawab cepat Leonardo sampai Milea tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Milea ahirnya pasrah, tidak bisa menolak, menolak pun juga percuma, tetap saja Milea yang bakalan kalah.


"Leon? kamu hari ini bekerja, apa tidak libur saja, Nak?"


"Tidak, Bu. Di kantor banyak pekerjaan," jawab Leonardo yang kini sudah selesai sarapan pagi, juga sudah meneguk air minum.


Ibu Alenta manggut-manggut, Milea langsung ikut berdiri setelah Leonardo berdiri, dan berjalan mengikuti langkah pria itu.


Di halaman mobil sudah disiapkan, sudah ada Sekertaris Alan juga yang kini berdiri di samping pintu mobil, Leonardo masuk ke dalam, di susul Milea, Sekertaris Alan menutup pintu mobil kemudian di susul dirinya masuk ke mobil duduk di kursi kemudi.


Ibu Alenta menatap mobil yang membawa Leonardo pergi dengan tatapan kebencian, benci pada wanita yang saat ini bersanding di sisi Leonardo.


Aku akan memisahkan kalian berdua! Lihat saja Milea, aku akan membalas perbuatan kamu, kamu hanya wanita miskin dan selamanya kamu akan tetap miskin! batin Marah Ibu Alenta dengan tangan terkepal.


Sementara itu Milea yang saat ini berada di dalam mobil yang sedang melaju, baru sadar bila belum ganti baju, tadi sudah mandi cuma masih memakai baju rumahan.


Milea melirik pria di sampingnya, memakai setelan kerja rapih, aromanya wangi, tampan dan gagah.


Milea balik melihat dirinya, wajahnya lesu, berpikir bila dirinya memang pantas jadi pembantu.


Milea ... Kenapa kelupaan tidak ganti baju sih! Hah! Tapi ya sudahlah lagian tidak ada yang tahu bila aku istri Tuan Leonardo, jadi tidak akan membuat dia malu.


Tidak ada percakapan diantara keduanya selama dalam perjalanan, sekertaris Alan sesekali melihat ke belakang melalui kaca, Leonardo dan Milea sama-sama membuang muka ke arah yang berlawanan.


...****************...


__ADS_1


Sekarang hari Senin, boleh ya klik vote nya teman-teman, mohon dukungannya ❤️❤️


__ADS_2