Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 30. Batuk sialan.


__ADS_3

Milea! umpatan kesal Ibu Alenta dengan tangan terkepal, setelah Leonardo keluar dari kamarnya.


Meski tadi kepalanya mengangguk saat mendengar ucapan Leonardo, tapi ternyata hatinya masih saja miliki rencana jahat untuk memisahkan Milea dengan Leonardo.


"Tidak! aku tidak akan pernah rela sampai kapan pun, tidak akan pernah!" ucapnya dengan sangat marah, wajahnya nampak berapi-api.


"Tidak sudi bila keturunan keluarga Armada harus terlahir dari rahim wanita miskin itu!" imbuhnya lagi dengan nada sangat marah.


Ibu Alenta menatap tajam ke arah pintu keluar, seolah menembus menatap Milea yang berada di luar sana, yang saat ini sedang bicara dengan dokter Arman di lantai satu.


Milea tertawa cekikikan bicara dengan Dokter Arman, pria muda berjas putih itu juga tertawa, namu tawa mereka seketika hilang saat mendengar suara dehheman keras, sebuah kode keras.


Jangan tertawa-tawa bersama istriku! begitulah maksud dehheman yang dokter Arman artikan.


"Ah, Tuan Leonardo, aku baru tahu bila nama Anda dengan istri Anda itu sama."


Leonardo hanya acuh mendengar ucapan dokter Arman, milih langsung duduk di sofa, sementara Milea yang lebih penasaran.


"Sama," ulang Milea dengan wajah bingung.


"Yea, Leo Lea." Dokter Arman melihat bergantian wajah Milea dan Leonardo.


Milea tersenyum-senyum sembari berpikir iya juga ya? selama ini tidak terpikirkan bila ada kesamaan.


Dan senyum-senyum Milea kembali Leonardo tangkap, pria itu langsung berdecih tidak suka.


"Pulanglah pekerjaanmu sudah selesai!" usir Leonardo lengkap dengan auranya yang dingin.


Milea sampai mendelik mendengar ucapan Leonardo yang mengusir. Sementara dokter Arman sudah tahu kodenya.


Dasar manusia bucin! hahaha, bila aku mengerjainya sepertinya lucu, batin dokter Arman dengan seringai tipis.


"Nona saya melihat kening ada merah, boleh saya periksa." Dokter Arman mendekat mau menempelkan telapak tangannya ke kening Milea, namun sebelum benar-benar dilakukannya sudah mendengar suara bariton.


"Pergi!"


"Ah iya iya!" Dokter Arman lari terbirit-birit saat melihat Leonardo sudah memegang sepatu pantofel, yang siap melayang ke wajah dokter Arman.


Milea menatap bingung bergantian dua pria yang tingkahnya aneh tidak Milea mengerti.


"Kamu!


Milea menoleh. "Saya Tuan Muda?"

__ADS_1


Leonardo langsung berdecih tidak suka, melengos ke arah lain.


Milea mendekat. "Tuan Muda butuh apa?"


Leonardo hanya diam tapi menggerak-gerakkan kakinya, dan siapa yang paham maksudnya itu.


Kalo kau diam saja bagaimana aku tahu maumu apa? tanya Milea dalam hati seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tuan Muda mau dipijit kakinya? Iya." Milea berinsiatif bertanya setelah melihat kaki Leonardo di gerakan-gerakan sedari tadi.


Hem.


Jawabnya singkat, Milea langsung menghela nafas panjang.


Kamu anaknya siapa sih nyebelin banget! huh huh! umpat Milea dalam hati seraya membuat pukulan di udara.


"Aku lelah, capek! dari tadi lari-lari muluk," ucapnya setelah tangan Milea mulai memijit kakinya.


Ya siapa yang suruh Anda lari-lari Tuan Muda! batin Milea seraya menggelengkan kepala.


Hahahah! "Kenapa kepala kamu geleng-geleng, kamu dzikir?"


Dzikir gundul mu peang!


"Hah! sudahlah terserah kamu mau dzikir atau apa lah, aku mau tidur."


Tapi yang Milea inginkan tidak terkabulkan, setelah selesai dipijit pria itu juga bangun, yang terus menuju ke ruang kerja yang ada di rumah ini.


Mau menyelesaikan pekerjaannya di rumah, ucapnya tadi.


Mana aku peduli mau kamu kerja di rumah atau mau kerja di kantor, sahutan batin Milea yang kesal.


Sementara Ibu Alenta tidak keluar kamar sampai seharian, entah karena malu sudah ketahuan bohong pura-pura sakit, sampai minum obat tidur berlebihan.


Namun saat tiba makan malam, Ibu Alenta turun ke bawah, ikut makan malam bersama. Malam ini tatapannya hanya menunduk, yang biasa selalu memandang Milea sengit, tapi malam ini Milea tidak melihat tatapan sengit itu.


Bahkan Milea terus memperhatikan Ibu Alenta yang sedang makan melalui ekor matanya.


Malam ini ada yang beda dari Ibu, sepertinya salah obat bisa membuat orang berubah, xixixi, batin Milea cekikikan.


Leonardo sudah selesai makan, mengelap bibirnya dengan tisu, kemudian melihat Milea yang lagi makan.


"Ibu, besok aku mau bulan madu bersama Mele," bicara tanpa melihat ibunya, terus menatap Milea, yang seketika makanan di dalam mulut Milea menyembur ke wajah Leonardo, karena terkejut.

__ADS_1


Ah sial, umpat Leonardo seraya mengusap wajahnya yang penuh semburan makanan Milea.


"Tuan Muda, Tuan Muda ma-maf." Milea mau membantu membersihkan wajah Leonardo, namun pria itu tepis tangan Milea, yang kemudian langsung menuju lantai tiga di kamarnya berada.


Milea langsung menyusul langkah Leonardo, sungguh saat ini Milea sangat merasa tidak enak hati, karena kecerobohannya yang begitu terkejut sampai menyemburkan makanan ke wajah Leonardo.


"Tuan?" Wajah Milea sedih menatap Leonardo yang kini sudah keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah bersih, dan juga tercium aroma wangi, mungkin tadi membasuh wajahnya menggunakan facial wash.


Leonardo tetap diam tidak menanggapi Milea, hatinya masih merasa kesal, Milea terus mengikuti langkah Leonardo dengan kepala menunduk.


Brukk!


Leonardo melempar handuk kecil bekas mengeringkan wajahnya ke wajah Milea, Milea langsung menangkap dengan gelagapan. "Tuan ma-maaf kan aku."


"Kamu kenapa gugup aku mengajak kamu bulan madu."


Duarr!


Milea terlonjak kaget ditanya bulan madu oleh Leonardo, bingung mau memberi alasan apa?


"Pergilah aku mau tidur," ucapnya dingin seraya mengibaskan tangannya, yang langsung ambruk di ranjang.


"Tuan Muda bukan begitu," ucap Milea dengan perasaan bersalah.


Sebenarnya tidak masalah sih bila dia marah, tapi khawatir nanti efeknya malah kemana-mana, batin Milea diselimuti kebingungan.


Milea sudah duduk di pinggir ranjang, melihat punggung yang pemiliknya masih ngambek.


"Ibu masih belum menyukaiku, aku ingin mendapat restu ibu dahulu," ucap Milea dengan kepala menunduk, wajahnya dibuat sesedih mungkin.


Semoga dia percaya, aku tidak bisa bulan madu sama dia, tidak! pokoknya tidak bisa.


"Baiklah terserah kamu," jawab Leonardo tanpa merubah posisi tetap memunggungi Milea, dari suaranya bicara, Leonardo sudah tidak selera.


Milea langsung mengusap dadanya lega, ahirnya terbebas dari rencana bulan madu, sementara Leonardo, pria itu langsung tertidur pulas.


Milea kemudian menuju kursi sofa, mau menyusul tidur juga, namun matanya belum mau terpejam, Milea menatap langit-langit kamar, sembari memikirkan sesuatu yang hanya Milea yang tahu.


Sedangkan Ibu Alenta sedari tadi terbatuk-batuk, sejak mendengar ucapan Leonardo yang mengatakan mau mengajak Milea bulan madu.


Uhuk-uhuk.


"Ini tidak bisa dibiarkan, uhuk-uhuk."

__ADS_1


"Hah! aku harus cari cara secepat mungkin untuk memisahkan mereka- uhuk-uhuk."


"Batuk sialan ... uhuk-uhuk."


__ADS_2