
Setelah mendapat telepon dari Leonardo, Milea menuju toko rotinya lebih dulu, tidak langsung meluncur kesana.
"Nindi, Tata, aku mau pergi dulu ya," ucap Milea setalah baru sampai di toko rotinya.
Nindi dan Tata hanya mengangguk tidak bertanya soal Milea mau kemana, karena juga bukan urusannya, dan Milea bersyukur karena dua temannya itu bukan type orang kepo, jadi setiap pergi tidak perlu menjelaskan akan kemana, mereka juga tidak bertanya.
Setelah menaruh kunci sepeda motornya, Milea mengambil tas yang selalu ia bawa, menuju etalase untuk mengambil tiga roti.
"Cukup Kak cuma ambil tiga saja?" tanya Tata yang berdiri di samping etalase melihat Milea mengambil roti.
Milea tersenyum. "Cukup kan cuma aku saja, aku pergi ya, bay!"
Milea langsung kabur keluar dengan berjalan cepat, Tata terus melihat Milea sampai gadis itu kini menaiki ojek online dan pergi sampai hilang dari pandangan mata Tata.
Gedung Armada Group.
Leonardo sibuk berdiri di depan kaca, bila dihitung menit sudah lima belas menit berdiri di sana, dan yang dilakukannya sedari tadi hanya melihat penampilannya, merapikan rambut, menciumi aroma tubuh untuk memastikan wangi atau tidak.
Sekertaris Alan yang berdiri tidak jauh dari Leonardo hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Tuannya.
"Alan rambutku sudah rapi belum?"
Bertanya lagi tapi tatapan matanya menusuk memaksa harus memberi jawaban iya, dan sudah ke yang berapa kali Leonardo bertanya dengan kalimat itu itu aja.
"Sudah rapi Tuan," jawab Alan dengan suara malas, sudah berkali-kali menjawab dengan jawaban yang sama.
Melirik Alan dengan tajam, tangannya masih sibuk merapihkan rambut. "Alan, suara kamu kenapa lemas begitu? kamu tidak makan satu tahun ya." Tersenyum mengejek, kembali menatap cermin di depannya.
Hem.
"Berani sekali kau menjawab aku dengan seperti itu." Leonardo melempar sisir yang dipegangnya ke arah Sekertaris Alan.
Alan menangkap dengan gelagapan. " Ma-maaf Tuan." Alan menyimpan sisir di belakang tubuhnya.
Leonardo mendekati Alan, berdiri tepat di depan pria itu. "Dari dekat sini parfum yang aku pakai masih wangi tidak."
Hah pertanyaan konyol apa lagi sih ini! jelas-jelas masih wangi mengapa Anda bertanya, apa Anda tidak bisa mencium aroma wangi lagi Tuan Muda.
"Masih wangi Tuan Muda."
"Aku tahu, kan aku cuma bertanya sama kamu."
Apa sih maksudnya! tadi bertanya, sekarang menjawab sudah tahu, Aaaa Anda membuat saya pusing Tuan Muda.
__ADS_1
"I-iya Tuan Muda." Sekertaris Alan menunduk.
"Kembalikan sisirnya."
Sekertaris Alan langsung memberikan sisir itu kembali pada Leonardo, pria itu kembali menuju depan cermin setelah mendapatkan sisir yang tadi dilemparnya ke Sekertaris Alan.
Menyisir kembali rambut yang sudah rapih itu, kemudian meletakkan sisirnya, memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk melihat tampilannya rapih atau tidak.
Perasaan dahulu saat mau bertemu dengan Nona Kharisma, Tuan tidak seribet ini, mengapa sekarang mau bertemu Nona Milea, jadi ribet seperti itu, batin Sekertaris Alan yang tidak mengerti tingkah Leonardo.
Tok.
Pintu dibuka.
"Tuan, Nona Milea sudah datang," ucap Manajer Nana, yang diminta untuk menunggu Milea datang.
"Suruh masuk."
Yang bicara bukan Leonardo tetapi sekertaris Alan, sementara Leonardo sudah berpindah duduk di sofa pasang wajah sok cool, wajah yang biasanya Milea akan takut bila melihatnya.
Padahal tadi sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut saat Milea datang, namun setelah orangnya tiba malah menakuti.
Milea masuk setelah pintu dibuka oleh Manajer Nana, seketika Milea melihat bahwa di dalam ruangan ini tidak hanya ada Leonardo tapi juga ada Sekertaris Alan.
Kini saat nya Milea berjalan mendekati pria yang berwajah angkuh, yang saat ini duduk di sofa dengan satu kakinya diangkat bertumpu pada kaki yang satunya, duduk dengan nyaman di sana.
"Tuan," sapa Milea yang baru saja menempelkan pantatnya ke kursi sofa.
"Kenapa lama."
Suaranya terdengar dingin disertai tatapan remeh.
"Ma-maaf Tuan, tadi saat Anda menelpon saya sedang menuju pulng ke toko, mengembalikan motor dan sekalian mengambil roti untuk aku bawa ke sini."
"Tidak tanya alasanmu, sekarang mana rotinya."
Huh rasanya Milea ingin memukul kepala Leonardo, biar tidak bicara seenaknya, jelas-jelas tadi bicara bertanya.
Hanya senyum yang dipaksakan yang Milea tunjukan meski dalam hatinya penuh umpatan.
Tangan yang masuk ke dalam tas kini keluar membawa tiga buah roti, Milea meletakkan di atas meja, Leonardo melihatnya dengan tatapan tidak suka.
Hah pasti rasanya tidak enak, begitulah arti tatapan Leonardo.
__ADS_1
"Aku laper Tuan, ijin makan ya." Milea bicara tangannya sudah membuka bungkus roti, setelah bungkus roti terbuka, hap hap Milea langsung melahapnya, kunyah-kunyah lagi melahap lagi sampai satu bungkus roti habis tidak butuh waktu lama.
Leonardo memperhatikan Milea yang makan roti, glek! menelan ludah dengan kasar, Alan yang melihat hal itu jadi ingin tertawa namun ia tahan.
Memperhatikan Milea sampai gadis itu mau membuka bungkus roti yang kedua, jemarinya sudah siap untuk menyobek, namun diurungkan.
"Memang itu rasanya seperti apa."
Milea tersenyum jahil saat mendengar pertanyaan Leonardo.
"Ini rasanya uwenak." Milea mengangkat dua jempolnya.
Leonardo mencari jawaban apa maksud uwenak ke Sekertaris Alan, namun pria itu juga menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
"Cobalah," ucap Milea masih tersenyum jahil, menyodorkan roti yang sudah dibuka bungkusnya ke depan mulut Leonardo.
Leonardo tidak minat mau memakannya, tapi terhipnotis senyuman manis yang dibuat-buat Milea, ahirnya membuka mulutnya.
Mengunyah satu gigitan, habis menggigit lagi dan lagi sampai roti itu habis.
"Enak?" tanya Milea seraya menjauhkan tangannya yang tadi memegang roti menyuapi Leonardo.
"Tidak."
His jelas-jelas kau memakannya sampai habis masih bilang tidak, batin kesal Milea dengan jawaban aneh Leonardo.
Masih ada satu bungkus lagi, Milea mau membukanya karena masih lapar, satu roti tidak cukup untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Bungkus roti sudah terbuka, siap mau Milea makan, mulutnya sudah terbuka dan sedikit lagi roti itu akan ke gigit, namun tiba-tiba.
Leonardo merebutnya dengan cepat, Milea sampai melotot ke depan melihat roti di tangannya hilang, kemudian menoleh melihat Leonardo yang ternyata roti itu berpindah tangan , tidak! yang benar berpindah mulut dimakan Leonardo.
Aaaaaa! aku lapar kenapa kau tidak beli sendiri! maki Milea dalam hati dengan tatapan menyedihkan melihat Leonardo.
Leonardo hanya tertawa seraya menghabiskan roti yang tengah dimakannya.
Sekertaris Alan yang paling ingin tertawa kencang, melihat Tuannya menjahili istrinya.
Milea duduk berdiam, wajahnya di tekuk, kesal itulah yang Milea rasakan.
Leonardo terkekeh. "Alan, pesan pizza dan hamburger sekarang, di depanku sedang ada anak kecil yang merajuk."
Hahahah!
__ADS_1
Sana! tertawa keras sana! Milea melirik Leonardo.