
Hari-hari ku lalui dengan indah, amat menyenangkan memiliki sahabat yang slalu menemaniku dalam keadaan suka maupun duka, memiliki keluarga yang utuh, juga seseorang yang mencintaiku.
"Heiii" Seseorang berteriak tepat di belakangku, suaranya yang sangat keras berhasil membangunkanku dari lamunan.
"Bisa ga sih ga usah ngagetin?" Aku menarik nafas panjang, jantungku seperti hendak copot.
"Hehe, ngapain atuh ngelamun wae kamu teh. Jangan-jangan ketauan selingkuh tuh sama si Cepi" Lagi-lagi Annisa ia tersenyum puas merasa bangga telah berhasil membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya.
"Haha, bodo amat !" Aku berjalan meninggalkan Annisa yang masih berdiri di belakangku.
"Eh mau kemana? Ikut !" Annisa berlari kecil mengikutiku.
"Eh tau ngga Nis, kemarin waktu aku bolos sama Akbar.." Aku menceritakan semua yang terjadi hari kemarin ketika sekumpulan pria mengarahkan jari tengah ke arahku di depan warung dekat danau.
"Hah, serius? Siapa?" Annisa mulai penasaran.
"Justru itu, aku gatau. Aku jadi keinget Cepi deh"
"Maksud kamu , orang-orang itu temen Cepi" Annisa mendahului langkahku, ia berdiri tepat di hadapanku lalu berhenti berjalan dan menatapku.
"Wah serius, tamat riwayatmu playgirl kelas kakap" Ujar Annisa.
"Entahlah aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya tidak mungkin. Lagipula Cepi kan sedang PPL , ia masih perlu beberapa bulan lagi untuk menyelesaikan tugas akhirnya"
" Jangan-jangan bener lagi, itu orang-orang nya Cepi, Cepi kan bergerombol kayak ikan sarden udah gitu aku denger-denger dari gosip tetangga katanya Cepi juga ketua genk yang sekarang lagi naik daun" Memang benar, Cepi dan teman-temannya seperti ikan sarden, mereka selalu bergerombol, suka turing, bahkan tak jarang mereka meresahkan warga dengan tawuran di jalanan depan sekolahku. Sama seperti Akbar, Cepi merupakan seorang anggota gengster yang cukup terkenal di kala itu.
"Ga usah nakut-nakutin deh, dah lah yuk kita balik" Aku menarik tangan Annisa, dengan perasaan yang terus gelisah mengingat semua ucapan Annisa yang memang masuk akal, belum lagi mengingat sifatnya yang over protective membuat ku hampir gila dan merasa terancam.
__ADS_1
Tiba-tiba Mala berjalan menghampiriku. Ia yang sudah lebih dulu pulang, kembali mencariku memberitau keberadaan Cepi kepadaku.
" Ra , si Cepot nyariin tuh" Mala menghentikan langkahku dengan nafas yang terengah-engah sepertinya ia baru saja berlari mencariku.
"Hah? Cepi? dimana dia?" Tanyaku, yang mulai panik. Setengah mati aku benar-benar ketakutan, rasanya seperti kiamat akan terjadi beberapa detik lagi.
"Tadi ada di warung abah" Jawab Mala singkat.
Dengan terburu-buru aku berlari ke arah yang berbeda dari biasanya, jika biasanya aku akan pulang melewati warung Abah, kali ini aku berjalan cepat melewati TK yaitu arah yang berlawanan dengan arah pulang yang biasanya, memang sedikit jauh sih tapi setidaknya arah itu akan membantuku menghindari amukan Cepi. Aku menyadari kemarahan nya karena semalam tadi ia berkali-kali mencoba menghubungi ku meski ku abaikan ia tetap tidak menyerah sampai akhirnya mengeluarkan kalimat-kalimat kotor melalui pesan singkat SMS.
Rupanya langkah ku kalah cepat dari Cepi, ia telah berdiri di depan gerbang menungguku, sepertinya ia tau kalo aku sedang menghindarinya.
" Kamu ko ada di sini? bukannya kamu lagi PKL?" Aku terperanjat, firasatku mengatakan sudah pasti ada yang tidak beres dengan Cepi terbukti dari wajahnya yang menampilkan amarah dan kekecewaan, terlebih ulahku semalam yang terus mengabaikan telponnya.
" Ayo pulang" Cepi membentakku.
'' Tapi aku pulang sama Annisa" Melihat wajahnya yang memerah membuat ku merasa takut untuk menatap wajahnya.
"Cepi, please ! aku gamau" Aku menolak untuk ikut pulang dengannya, tapi ia tetap menarik tanganku dengan kasar tanpa memperdulikan aku yang hampir menangis.
Mau tidak mau akhirnya aku tetap mengikuti Cepi dengan menaiki motor metic yang ia bawa. Sepanjang jalan Cepi terdiam, sampai akhirnya ia membuka topik pembicaraan.
"Kemarin kamu kemana?". Cepi bertanya dengan nada yang begitu tinggi.
"Main " Jawabku santai.
"Sama siapa?" Ia masih menahan amarahnya yang sudah memuncak.
__ADS_1
''Temen". Tubuhku mulai gemetar, aku mulai takut dengan sikap Cepi.
"Temen yang mana, cewe atau cowo?". Cepi bertanya dengan raut wajah yang merah padam dan menakutkan seperti ikan hiu yang hendak melahap mangsanya.
"Cowok"
"Anak SMA 20 ?" Tanya Cepi, motor yang tadinya melaju perlahan ia naikkan kecepatannya, membuat dudukku tidak seimbang dan hampir terjatuh.
"Iya, kok tau?" Jawabku yang terlihat santai, padahal aslinya aku begitu ketakutan.
"Pacar kamu?"
"Iya"
Jawaban dinginku membuat Cepi benar-benar marah tapi entah kenapa meski aku merasa takut tapi aku benar-benar tidak peduli , yang aku pikirkan hanya Akbar, Akbar dan Akbar. Sepertinya aku mulai di butakan oleh Akbar. Bahkan jika hari ini Cepi membunuhku, aku hanya akan mengingat nama Akbar di akhir hidupku. Ya begitulah aku dengan kisah baruku yang tak seorangpun boleh menghancurkan kebahagiaan kami.
" Turun kamu!'' Cepi membentakku, ia mematikan motor meticnya.
" Tapi rumahku masih jauh" Aku mengeluh.
" Cepat turun, aku tidak peduli, mulai hari ini kita putus.."
" Oh begitu, baik" Jawabku seakan tidak peduli bahkan jika aku tau seberapa sakit perasaan yang ia rasakan saat ini.
Dia menarik kembali tanganku lalu melepaskannya sehingga membuatku terjatuh.
" Aw sakit " aku menjerit, namun sedikitpun tak berani menatap wajahnya yang merah padam .
__ADS_1
" Dengar, saat kamu menyakiti orang lain, seseorang akan menyakiti mu jauh lebih dalam daripada ini, karma itu ada karma itu nyata Naura Demi Tuhan kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini" Dia berteriak tepat di telingaku.
Aku terdiam tidak dapat berbicara sepatah katapun , dan Cepi pergi meninggalkanku sendiri. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengan Cepi lagi, bahkan bertukar kabar. Ia telah pergi dan menghilang entah kemana. Bahkan ia tak memberikanku kesempatan untukku meminta maaf padanya.