Pena Hitam

Pena Hitam
18


__ADS_3

Perempuan yang berdiri tegak di depanku bernama Farin Anjani, ia adalah salah satu teman dekatku ketika kami duduk di bangku MTS, kami sangat dekat , sama dekatnya seperti aku dengan Annisa , hanya saja Farin tidak pernah tinggal di pondok, sejak lulus MTS Farin melanjutkan sekolah di SMA 20 , sekolah yang sama dengan Akbar dan Iwan. Walaupun begitu, mereka tidak saling mengenal satu sama lain.


" Hei Naura... Apa kabar? ya ampun lama banget ga ketemu. Aku tidak apa-apa, maaf sudah membentakmu barusan" Ia memelukku perlahan, ku cium pipi kiri dan kanannya yang lembut.


"Hehe tidak masalah, aku yang salah karena melamun jadi menabrakmu deh" Walaupun dulu ia sempat terkenal karena kecantikannya, tapi di banding dulu, sekarang ia jauh lebih cantik lagi juga cukup dewasa, aku hampir tak mengenalinya karena ia benar-benar terlihat sangat berbeda.


Sejak lulus MTS aku dan Farin hampir tak pernah berkomukasi sama sekali , entah karena kita belajar di tempat yang berbeda atau memang kita di sibukkan dengan kesibukan masing-masing, dan hari ini Tuhan mempertemukan kita kembali setelah 3 tahun lamanya kami tidak bertemu.


"Kamu mau kemana sekarang?" Tanya Farin, aku yang masih sibuk dengan kacaunya pikiranku, melirik ke arahnya.


"Aku.. entahlah, masih belum ada tujuan yang pasti hehe" Jawabku ngasal.

__ADS_1


"Gimana kalo kita jalan-jalan aja, kita juga udah lama banget kan ga ketemu?" Usul Farin.


Aku menyetujuinya, kami berjalan bersama mencari sebuah cafe, sambil menikmati indahnya kota Bandung, bercerita banyak hal tentang kehidupan juga bernostalgia mengingat masa kecil kami yang penuh dengan kejutan, kepolosan dan juga kebahagiaan yang nyata, dimana di jaman itu tak banyak beban yang ku rasakan.


Farin adalah anak pertama dari 4 bersaudara, ayahnya seorang pengusaha batu bara sukses asal jawa tengah, sedangkan ibunya memiliki usaha rental mobil yang cukup tenar di kampungnya.


Walaupun begitu, ia tidak sombong. Ia cukup baik pada semua orang.


Kalo tidak salah, ia juga seorang model. Model majalah remaja pada saat duduk di bangku SMA, ya begitulah kabar yang ku dengar saat itu, meski kabar itu hanya sekedar gosip tapi aku cukup mempercayainya, mengingat ia memanglah cantik dan juga cukup populer.


"Oh kamu lagi nyari kerja, kebetulan nih di tempat pacar aku PPL lagi ngebutuhin karyawan. Kamu minat ngga kerja di kantor XXX di daerah Subang , ya lumayan jauh sih. Kalo kamu minat kita bisa kost bareng, gimana?"

__ADS_1


'' Hah , beneran? aku mau, mau banget ! tapikan kamu di Bandung, gimana bisa kita kost bareng?"


"Nanti biar ku ceritakan rahasiaku" Ia tersenyum sambil berbisik kepadaku.


"Kenapa? apa kamu lagi ada masalah sama mama mu?"


Orang tua Farin cukup kaya, tidak mungkin jika membiarkan anaknya menjadi gelandangan , biasanya jika ia keluar dari zona nyaman ia sedang berada dalam masalah dengan mamanya , setauku Farin memang sering berantem dengan orang tuanya terutama mamanya, kesibukan kedua orang tuanya membuatnya haus akan kasih sayang yang membuatnya selalu menentang kedua orang tuanya, atau ia akan sengaja mencari masalah agar membuat mamanya marah.


"Ya begitulah, kamu tau kan mamaku kayak gimana?" Ia memperlihatkan kesedihan di raut wajahnya, wajahnya yang putih namun terlihat pucat.


"Kamu bisa cerita kalo kamu mau" Aku mencoba menawarkan diri untuk mendengarkan semua keluhannya.

__ADS_1


"Oh ya,  kamu siapin berkasnya ya. Besok kita akan berangkat ke Subang, ini nomor telponku. Aku harus pergi" Farin mengalihkan pembicaraan dengan memberikan sebuah kartu berisikan nama dan nomor telpon padaku. Ia berlalu meninggalkanku begitu saja.


__ADS_2