
Aku menurutinya dengan sangat berat hati, dengan penuh kecemasan dan ketakutan.
"Apa kamu akan meninggalkanku setelah ini?" . Aku memandang wajahnya dengan penuh ketakutan. Ya aku begitu takut ia meninggalkanku setelah semua yang sudah kita lakukan sejauh ini.
"Jangan berfikir macam macam, apa aku terlihat begitu buruk di mata mu?". Akbar bertanya balik.
Aku memandangnya dengan penuh keraguan, rasanya ingin sekali mengatakan kebenarannya jika saat ini ia memang sangat buruk di mataku.
Pria di hadapanku adalah ayah dari calon bayiku, bagaimana bisa ia membuang calon bayiku begitu saja, bahkan seekor harimau yang lapar tidak memakan anaknya sendiri.
" Baiklah, aku percaya padamu, aku akan membuangnya tapi setelah ini aku mau kita memiliki sebuah ikatan lebih dari sekedar berpacaran, kau tidak perlu menikahiku secepatnya, aku akan memberimu jarak untuk itu . Aku hanya ingin satu ikatan yang lebih serius dari sebelumnya". Ku pandang wajahnya yang terlihat kebingungan.
"Aku setuju". Akbar menganggukan kepala, aku sadar betul, ia hanya mencoba untuk menghiburku, meyakinkanku sepenuhnya agar aku bersedia membuang bayi yang ada di dalam perutku.
"Jika terjadi sesuatu denganku , apa yang akan kamu lakukan ?".
Apa yang bisa ku lakukan saat ini? Membiarkannya hidup pun rasanya tidak mungkin mengingat ia akan menjadi aib di keluargaku, apa jadinya jika aku tetap memilih untuk mempertahankannya? Mungkin Mama akan sangat syok dan aku jelas tidak ingin hal itu terjadi, tapi membunuh nya pun bukanlah hal yang benar. Ia bayiku, dan kesalahan adalah milikku, ia hanyalah korban bahkan jika ia dapat berbicara mungkin ia tidak akan sudi memiliki ibu yang kejam sepertiku.
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi, aku akan slalu bersamamu, jangan memikirkan apapun selain masa depan kita ". Persetan dengan laki-laki bajingan ini, ia slalu bisa meyakinkanku dan dengan bodohnya aku selalu mempercayainya, begitu besar rasa sayangku padanya sehingga mampu membutakan mata hati dan pikiranku sepenuhnya.
Ku coba fahami keadaan walau sebenarnya hati kecilku tak mampu menerima kenyataan yang ku alami detik ini , dengan perlahan aku mengangguk mengiyakan pilihannya, yakni membunuh darah dagingku sendiri .
"Maafin Ayah ya nak, Ayah bukan tidak menginginkan mu hanya saja kehadiranmu bukan di saat yang tepat" Akbar mengelus perutku yang masih rata dengan tangan kanannya, lalu perlahan menciumnya. Hatiku seperti tersayat melihat pemandangan yang menyedihkan itu, Tapi, Akbar ada benarnya. Ia hadir bukan di saat yang tepat, mungkin jika ia tetap hidup aku akan lebih sakit lagi mengingat ia akan menjadi bahan olok teman-temannya kelak.
Sebuah pil berwarna putih, berbentuk bulat dan rasanya begitu pahit ku rasakan di ujung lidahku.
Akbar memberikannya padaku beberapa menit yang lalu, yang aku tau pil itu akan bekerja dengan cepat bahkan kurang dari 24 jam, walau Aku tidak pernah melihat pil itu sebelumnya tapi aku cukup yakin dengan efek samping yang di rasakan setelah mengkonsumsinya.
"Hei, kamu akan baik-baik saja, aku janji ! maafkan aku . Aku terpaksa melakukannya" Akbar menatap mataku yang terasa kosong, pikiranku masih melayang menerawang jauh pada kematian.
Tak ku hiraukan ucapannya, kepalaku mulai terasa berat, bahkan tubuhku seperti melayang begitu ringan membawa pikiran ku terbang jauh ke atas awan.
Melihat ku mengacuhkannya, ia tampak begitu kesal. Ia berjalan ke ruang depan untuk berbincang dan sekedar minum alcohol bersama teman-temannya. Sedangkan aku, ia biarkan tergeletak begitu saja.
Rupanya Farid memang sudah mengundang teman-temannya yang juga mengenal Akbar sebelum aku datang.
__ADS_1
Dua jam kemudian perut dan punggung bagian bawahku terasa sakit, tubuhku terasa lemas, dan suhu tubuhku sedikit panas.
Tiba tiba darah hangat mengalir keluar dari area vaginaku , tak lama menyusul sebuah gumpalan seperti daging bercampur darah segar berbau amis membasahi celanaku yang berwarna putih seketika berubah warna menjadi merah terang. Sekali lagi, tak ku hiraukan rasa sakit itu, perlahan ku pejamkan mata berharap dapat terlelap lalu setiap inci dari kesakitan itu menghilang. Nyatanya, rasa sakit itu semakin menjadi.
Ku raba celanaku yang terasa hangat, lalu ku angkat tanganku untuk memastikan bahwa itu hanyalah keringat atau air di sebelahku yang tumpah mengenai celanaku.
"Hah, Darah !" Jantungku berpacu sangat kencang, bahkan untuk berteriak pun rasanya aku tak mampu, tenggorokanku seperti tercekik.
Aku merangkak menuju kamar mandi kepalaku masih berdenyut hebat, pandanganku mulai kabur, aku memegang dinding rumah sambil berjalan perlahan.
Perutku terasa mual melihat dan mencium bau darah segar yang terus menerus mengalir dari mulut ******. Entah berapa banyak darah yang keluar.
Aku segera membersihkannya, memakai pembalut besar yang sudah ku siapkan sebelumnya dan pakaian ganti yang ku bawa sebelum aku kemari, dengan menahan sakit aku kembali ke sofa ku bungkus gumpalan darah itu untuk kemudian di kubur jika sudah sampai di rumahku nanti.
Aku segera berkemas untuk pergi lewat pintu belakang sebelum ada yang melihat keadaanku , aku berjalan dengan tertatih, mereka tak menyadari kepergianku , aku meninggalkan Akbar yang sedang berpesta ria di sana.
Seakan tak peduli ia membiarkanku kesakitan seorang diri, sementara ia berpesta pora bersama teman-temannya.
__ADS_1