
"Heh, ngapain kamu di sini? bawa apaan tuh banyak banget" Suara Nisya yang tiba-tiba muncul dari belakang, membuat jantung ku hampir copot.
"Ah ini, mau pulanglah ketemu Mama. Dah lama ga pulang, rindu" Aku menunduk, ku sembunyikan mata sembabku di hadapan Nisya.
"Yakin? bukan habis nangis? hehe" Nisya menatapku penuh curiga.
"Dah lah, mau balik ngga? " Aku membentak Nisya yang mencoba memperdulikanku.
"Yee sensi amat gitu doang marah, ya udah ayok !" Ajak Nisya , sambil menyalakan stater motor matic miliknya.
***
"Aku pulaaang... Maaa beh Assalamu'alaikuuuum"
__ADS_1
Aku berteriak di halaman depan rumah, sebisa mungkin ku tampilkan kebahagiaan yang sebenarnya aku pun telah lupa bagaimana rasanya.
Mama berlari kecil dari balik dapur, ia menghampiriku dengan senyuman, senyum tulus yang dapat mengobati kesedihan yang tengah ku rasakan.
"Tumben kamu pulang? berantem sama suamimu yah? hehe" Ia segera menggendong bayi Bintang yang beratnya mulai bertambah, ku akui Mama slalu tau banyak hal, ia seperti seorang paranormal tebakannya selalu tepat sasaran, mungkin karena ikatan batin antara aku dan Mama sangat kuat, sehingga ia mampu merasakan apa yang tengah ku rasakan.
"Mama mah sotoy ah, ya pengen aja atuh da bukan anak durjanah yang pergi lupa jalan pulang" Aku segera masuk ke dalam rumah, menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Mama, jika ku ceritakan semuanya mungkin kami akan segera berpisah.
Ku lihat ponsel ada banyak nomor baru masuk, pesan masuk pun tak kalah banyaknya, ku buka satu persatu pesan yang berisikan permintaan maaf dari Doni, ku abaikan kekhawatiran yang tengah ia rasakan. Ku biarkan semuanya mengalir seperti air, aku tak ingin mengingat apapun setidak nya untuk malam ini saja.
"Tubuhmu kok kurus banget Neng.. Neng. Pulang dari kota bukannya gendut malah kerempeng kayak tengkorak hidup. Dah lah ga usah balik lagi ke kota temenin saja Mamamu di sini, Aa juga kan udah balik ke tempat kerjanya, istri sama anaknya juga di bawa . Kasian Mama sendirian di rumah"
"Babe udah ga marah? aku udah boleh tinggal di sini lagi?" Ku peluk Babe dengan sangat erat, setidaknya satu beban berkurang.
__ADS_1
Aku membuka berkas-berkas penting milikku, berkas yang dulu ku gunakan untuk mencari pekerjaan bersama Nisya dan Nur.
Sudah ku putuskan akan melamar kerja di sebuah pabrik yang cukup dekat dari rumahku, pabrik garment yang menjadi satu-satunya mata pencaharian warga sini.
Setelah 6x gagal melamar akhirnya mereka menerimaku untuk ikut trainning. Rasanya senang sekali, Bintang ku titipkan bersama Mama di usianya yang sudah memasuki 6 bulan ia terpaksa ku tinggal kerja, ku pikir dengan cara ini aku dapat membantu Doni melunasi utang-utangnya. Aku juga tak menyangka jika pekerjaan baruku membuatku di terima di keluarga Doni.
Sepulang dari tempat kerja ku lihat Doni sedang terlelap di samping Bintang, aku segera menggendong Bintang untuk memberikannya ASI.
"Ngapain kamu di sini?" Tanyaku ketus, tentu saja aku masih marah padanya. Jika saja aku tak punya anak sudah ku usir dia dari rumah Mamaku.
"Kamu kok kerja ga izin sama aku? maafin aku ya kemarin aku emosi" Doni mencoba memelukku, namun tangannya ku tepiskan.
"Maaf, setelah dua bulan lamanya baru datang buat minta maaf?" Aku membentaknya, suaraku yang keras membuat Mama kaget.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih? bukannya tidur udah malam juga malah berantem. Kasian itu Bintang, denger kalian berantem ga baik buat perkembangannya. Coba selesaikan baik-baik kalian kan udah dewasa pake kepala dingin" Mama menghampiri ku yang sedang duduk di bibir ranjang membelakangi Doni.