Pena Hitam

Pena Hitam
27


__ADS_3

Hari ini keluarga besar Akbar telah mengadakan sebuah pertemuan, biasanya mereka akan berkumpul setiap satu tahun sekali tepat setelah hari raya idul fitri di laksanakan . Dan kebetulan, hari ini adalah hari Aniversarry pernikahan Pak Adam dan Bu Susi yang ke 27 tahun.


Mereka menyewa sebuah Vila yang cukup besar di pedalaman kota Bandung, Vila yang terletak di sebuah desa dengan hamparan sawah di kanan kirinya, pemandangan alam luar biasa yang dapat memanjakan mata dan jiwa .


Pagi-pagi sekali aku bangun dari tidurku, alarm hari ini ku pasang lebih awal dari biasanya. Setelah hari kemarin Pak Adam mengundangku untuk ikut bergabung di acara Anniversary pernikahan mereka .


"Ku ajak kau melayang tinggi


dan ku hempaskan ke bumi


ku mainkan sesuka hati


lalu kau ku tinggal pergi..


na na na na"


Kamar mandi yang sunyi menemani kebahagiaanku, sejak kehadirannya dalam hidupku, ia telah mampu merubah segalanya.


Aku percayakan seluruh hidupku padanya, bahkan jika suatu hari nanti sesuatu terjadi padaku, aku tidak akan menyesalinya selama orang yang bersamaku adalah Akbar.


Ku keluarkan seluruh baju di dalam lemari, ku ambil satu persatu dan melemparnya ke sembarang arah.


"Apa tidak ada baju yang bagus untuk ku pakai hari ini'' Batinku menggerutu.


"Mama.. Aku ga punya baju" Teriakku pada Mama yang sedang asik memotong wortel di dapur .


Mama menghentikan aktifitasnya lalu segera menghampiriku .

__ADS_1


''Anak Mama kenapa si? teriak-teriak gitu, masih pagi ini , bikin kuping lebar aja" Mama melihat sekeliling kamarku yang berantakan tak beraturan.


"Ini lo Maa, aku ga punya baju"


Ku perlihatkan baju yang berceceran di lantai.


"Astagfirulloh, ini semua bukan baju? emang mau kemana si?"


Mama memungut semua baju yang berserakan lalu menaruhnya di rinjing sebelah kasurku.


"Mau ketemu keluarga besar Akbar ma, masa aku pake baju itu lagi" Aku duduk di samping ranjang, ku perhatikan satu persatu baju yang berserakan.


"Nah ini aja bagus, udah Mama mau masak lagi" Mama menyodorkan setdres berwarna cokelat dengan cardigan hitam dan wedges lengkap dengan Accesoris kalung dan gelang. Lalu pergi meninggalkanku sendiri di kamar. Setelah lulus sekolah, aku memutuskan untuk melepas hijabku, walaupun sebenarnya babeh tak setuju, mengingat keluarga kami memang cukup lekat dengan agama yang di anutnya. Bahkan di antara semua keluarga besar mama, hanya aku seorang diri yang berani melepas hijab.


Aku memakai baju yang di sarankan Mama untukku, pilihan Mama cukup membuatku percaya diri, aku segera bergegas keluar kamar, ternyata Akbar sudah menungguku di ruang tamu. Entah sejak kapan ia duduk manis di sana, yang jelas aku tidak mendengar suaranya sama sekali.


Mereka sudah menungguku , rupanya kami datang tepat waktu. Bu Susi menyambut kedatanganku.


sedangkan Pak Adam yang sedang sibuk berbincang dengan keluarga besarnya , ia hanya menatapku dari kejauhan dengan senyuman menghiasi bibirnya, Akbar menggandeng tanganku sambil berjalan perlahan.


"Siapa ini Bar? ". Tanya seorang pria kira-kira usianya 35 tahunan, yang tak lain adalah adik kandung pak Adam.


"Kenalin om , ini pacar Akbar." Akbar tersenyum sembari mengedipkan mata sebelah kanannya. Dia terlihat bangga memperkenalkan ku pada keluarga besarnya. Sedangkan aku? aku sangat kaku dan jujur saja tubuhku bergetar karena tidak terbiasa berada di tengah lingkungan keluarganya.


"Halo, saya om nya Akbar. Rudi". Pria itu mengajakku berjabat tangan. Ia tampak ramah dan hangat, ku rasa semua orang akan nyaman jika berbicara dengannya.


"Hallo om" . Ia tersenyum menatapku, seolah kami sudah lama saling mengenal.

__ADS_1


"Wah bentar lagi ada yang mau menikah nih" . Om Rudi menggodaku sambil melirik Pak Adam. Mereka saling menatap sambil tersenyum.


"Insya alloh kalo ada jodoh". Pak Adam membalas senyuman yang di lemparkan Om Rudi.


Aku menundukan kepalaku sambil tersenyum malu, pipiku memerah di buatnya.


Mereka keluarga yang hangat, tak heran jika mereka mampu membuatku begitu nyaman walau dengan satu kali pertemuan, rasanya beruntung sekali aku mengenal mereka.


"Eh kita poto yuk". Ajak Bu Susi, suaranya yang tiba-tiba, membangunkanku yang tengah melamun.


Aku duduk terdiam memperhatikan keluarga Akbar.


"Neng, ayooo sini ikut poto ! ko malah diem aja". Pak Adam menarik tangan kananku, menuntunku untuk ikut berjejer bersama mereka.


" Neng yang potoin aja ya.." Aku mengambil ponselku di dalam tas berwarna pink muda.


"Jangan, kamu ikut poto sini." Ajak Pak Adam.


Aku berjalan mendekati Pak Adam, tangan kanannya merangkul pundakku sedangkan tangan kirinya merangkul pundak Akbar.


"Tuhaaan, perasaan apa ini? alangkah indahnya jika mereka menjadi bagian dari diriku". pikirku dalam hati.


Setelah makan bersama, aku pamit untuk pulang, waktupun sudah menunjukan pukul 16:00. Akbar mengantarkanku pulang dengan motor maticnya.


"Mereka menyenangkan, aku suka".


Akbar hanya tersenyum kecil mendengar penuturanku .

__ADS_1


Ia melajukan motornya perlahan , hari ini terasa begitu penting bagi ku, kehangatan keluarga besar Akbar membuatku begitu nyaman, ia tak pernah tau betapa aku slalu berharap menjadi bagian penting dalam keluarga besar mereka.


__ADS_2