
Janji ku janji pelaut, seperti kata Popeye. Maka, bersama dengan resminya hubungan kita sebagai pasangan baru aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan segera mengurus Cepi, aku tidak ingin jika nantinya dapat menyakiti dua orang dalam satu waktu, ya walaupun aku tau pasti dengan menerima Akbar sebagai pacarku, aku telah membuat Cepi terluka, tapi perasaan itu memang tidak bisa di paksakan bukan?
Sore itu, ia telah berjanji untuk slalu menemaniku dalam keadaan apapun, ketika kami duduk bersama menatap tenangnya lautan, berdialog mesra di temani senja. Ketika ku sandarkan kepalaku pada bahu kekarnya, sesekali ku tatap wajahnya yang hangat, pria yang telah membuatku jatuh cinta dan merasa istimewa juga telah berhasil membuatku melupakan masa lalu yang membuatku terpuruk dan mati rasa.
Ah rasanya aku seperti terlahir kembali setelah satu tahun lamanya menunggu laki-laki yang tak kunjung tiba, kini hari itu tiba. Hari dimana aku memulai hidup baru tanpa luka dan sesal yang slalu menyiksaku setiap harinya.
***
"Abdul Akbar" Ya, mulutku tak dapat berhenti untuk terus tersenyum, rasa bahagia tak dapat ku sembunyikan. Ia satu-satunya pria yang hampir membuatku gila.
"Hayoloh, ngelamunin siapa?" Annisa berdiri tepat di belakangku, sontak membuatku kaget.
"Bukan apa-apa, yuk ke kelas" Aku menggandeng tangannya, rasanya tak sabar ingin menceritakan semuanya pada Annisa.
"Eh.. kelas aku bukan di sini woy" Annisa protes ketika aku menarik tangannya untuk masuk ke kelasku, tapi aku tidak memperdulikannya.
"Dah duduk dulu, aku mau cerita ini" Ku letakan tas di atas meja , lalu menarik kursi di sampingku untuk Annisa duduk.
__ADS_1
"Kenapa sih? seneng banget keknya, si Cepi dah balik ya? mana oleh-olehnya? bagi dong" Annisa menyodorkan tangan kanannya padaku merengek meminta oleh-oleh.
"Bukan, aku udah jadian loh sama Akbar haha" Aku tertawa , perasaan bahagia yang menggebu-gebu tak dapat ku sembunyikan lagi.
"Hah, serius? kok bisa? tapi...dia kan...." Annisa menggantungkan ucapannya, sepertinya ia mengetahui sesuatu dan berusaha menyembunyikannya dariku. Walau begitu aku tidak peduli dan tidak mau tau apapun yang terjadi padanya.
TEEEEEET
Suara bel telah berbunyi menandakan belajar akan segera di mulai, Annisa berdiri lalu pergi ke kelasnya. Sedangkan aku duduk termenung mengingat Akbar, rasanya sudah tak sabar ingin segera pulang dan bertemu dengannya.
"Annisa kenapa ya, kok dia keliatan ga seneng denger aku udah jadian sama Akbar.. Bodo amat ah, yang penting aku bahagia" Benakku.
Benar saja, hujan turun cukup deras hari ini. Bahkan ketika jam pelajaran telah usai, terpaksa aku dan Annisa menunggu hujan reda untuk pulang. Letak sekolahku tepat di depan jalanan utama, ketika keluar gerbang siswa di hadapkan pada sebuah pemandangan yakni jalan utama dengan tingkat kerawanan yang luar biasa karena tepat di depan gerbang adalah tikungan yang sangat tajam, tak jarang kami para siswa menyaksikan langsung proses kecelakaan lalu lintas yang sering kali terjadi di jalanan depan sekolah, bahkan beberapa kali kecelakaan tersebut membuat sang pengendara kehilangan nyawa seketika.
Aku memandang jalanan dengan leluasa, sesekali sepasang mataku menatap langit berharap hujan secepatnya reda.
"Ayo naik, ini cuman hujan" Semua mata menatapnya, pria yang membuatku tadi malam susah tidur bahkan kehilangan nafsu makan karena terlalu memikirkannya.
__ADS_1
Tak hanya Akbar, tapi juga Iwan. Rupanya mereka sudah sepakat untuk mengajak aku dan Annisa jalan hari ini.
Lagi-lagi kebahagiaan tak dapat ku sembunyikan, aku berlari ke arah Akbar menerobos derasnya hujan, secepatnya aku naik ke atas motornya, ku peluk erat tubuhnya dan segera bergegas berjalan bersama di tengah derasnya hujan yang cukup lebat.
" Sudah ku bilang ini cuman hujan" Akbar melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membuatku seakan melayang di terpa hujan.
"Apa yang ingin kamu wujudkan di masa depan?" Ia sedikit berteriak karena derasnya hujan membuat pendengaran sedikit terganggu.
"Punya anak kembar, namanya upin dan ipin" Jawabku ngasal.
"Kalo kamu?" Tanyaku balik.
"Hidup seribu tahun lagi"
"Apa?"
"Ya,aku mau hidup seribu tahun lagi, ada atau tidak adanya dirimu dalam hidupku, aku tetap ingin hidup seribu tahun lagi"
__ADS_1
Aku terdiam sejenak dan mulai mencerna setiap ucapannya yang membuatku tak dapat berhenti untuk selalu tersenyum. Entah apa yang sedang ku pikirkan yang jelas aku bahagia, sangat bahagia dan ingin terus bahagia bersamanya.