
Entah sejak kapan aku menyukainya, menikmati setiap tetes yang masuk ke dalam tenggorokan ku, kini alcohol dan nicotine menjadi teman terbaik dalam hidupku, tak seharipun ku lalui tanpanya.
Memangnya apa yang ku harapkan dari setiap tetesnya, yang hanya membuatku melupakan setiap masalah yang sedang ku hadapi sesaat ini? Ah masa bodoh, yang pasti aku tak bisa lepas darinya.
Hidupku penuh dengan kepalsuan, berpoya-poya, party, karoke, atau sekedar berbelanja. Sudah seperti anak konglomerat saja, padahal mama di rumah sangat kesusahan mencari uang untuk biaya sekolahku dulu, setelah lulus aku malah seperti ini.
Ada perasaan sesal, tapi egoku slalu berkata 'aku tidak peduli' , entah setan apa yang bersemayam di jiwaku, padahal dulu aku pernah berjanji untuk membuat kedua orang tuaku bangga.
Sekarang janji tinggalah janji, jika saja aku tak salah jalan mungkin semua tidak akan seperti ini, aku tidak akan terjebak di dunia yang kelam .
Seperti sore itu, adalah Juno. Pacar Aida. Sebenarnya aku tidak dekat dengannya, mengenalpun hanya sepintas, walau setiap hari aku melihatnya, kita bahkan tak pernah saling bertegur sapa.
Juno mengajakku ke tempat temannya, katanya mereka akan mengadakan party malam ini. Aku tidak begitu berminat untuk ikut, hanya saja aku melihat Aida, aku mempercayainya karena kami sudah lama saling mengenal satu sama lain, dan Aida bukan tipe perempuan nakal yang akan menjerumuskan temannya sediri. Aida terlihat seperti itu, tentu saja karena dia temanku, lalu Juno?
Ku tepis pikiran buruk itu, bahkan Putri pun sempat melarangku untuk ikut bersama Juno, tapi Riani mau menemaniku . Ia meyakinkan ku bahwa Juno bukanlah orang yang jahat. Terlihat dari cara ia memperlakukan Aida dengan sangat baik
Hati kecilku mengatakan ini takan berakhir baik, tapi lagi-lagi logikaku menepisnya, hanya karena Aida berusaha meyakinkan ku bahwa Juno adalah orang yang benar-benar baik. Tentu aku mempercayai Aida, mengingat mereka sudah berhubungan sejak Aida kelas satu SMA hingga sekarang.
"Oke , gue ikut" Jawabku, ketika Juno memberikan tawaran untuk bergabung bersama teman-temannya.
Aku menunggu Juno datang, seharusnya ia sudah datang satu jam yang lalu. Tapi hingga kini, sudah jam 7 malam ia masih belum menunjukkan batang hidungnya.
"Ayok" Ajak Juno yang tiba-tiba berdiri di belakangku.
Kami pergi menggunakan Taxi, dulu belum ada grab car, atau mungkin aku yang belum mengenal grab car, yang jelas taxi masih menjadi trasnportasi yang paling mewah di antara yang lain.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai di tempat dimana teman-teman Juno berkumpul. Juno turun dari taxi, aku dan Riani mengikutinya dari belakang.
Kami memasuki sebuah gang , gang yang cukup besar , tapi hanya masuk satu mobil saja. Dan kenapa juga Juno turun di pinggir jalan utama padahal jika turun saja di depan basecamp mereka kan tidak masalah , lagipula taxi juga masuk kan ke gank itu? Entahlah hanya Juno sendiri yang dapat menjawab pertanyaan itu .
Cukup lama berjalan, sampailah pada sebuah rumah. Rumah kosong bercat putih tanpa penghuni, tapi terlihat sangat bersih dan rapih.
Juno mengetuk pintu, tak lama keluar seorang pria tinggi, berkulit sawo matang khas orang Indonesia dan memiliki hidung yang runcing. Ia tampak masih mengenakan seragam security berwarna navy dengan name tag Mario Pratama.
"Eh bro, gue titip temen gue yak ? Gue ada lembur nih. Tar malem gue balik lagi ke sini, sorry gue bakal telat gabung" Kata Juno pada pria bernama Mario itu
Aku melongo memperhatikan Juno, kenapa ia tidak bilang kalo ia ada lembur? Toh aku juga tidak masalah jika tidak jadi party, aku sudah terbiasa kalo harus minum sendiri, kenapa juga ia harus merasa tidak enak ? Jika memang ia merasa bersalah.
__ADS_1
"Oh oke bro, hati-hati" Jawab Mario, sembari mengedipkan sebelah matanya .
Sedikit pun aku tidak berburuk sangka, aku tetap percaya pada Juno, aku yakin ia akan kembali nanti malam untuk menemaniku atau menjemputku pulang. Kita kan sudah menjadi teman , eh sejak kapan? Atau mungkin hanya aku saja yang menganggapnya teman.
"Yuk, anggap aja rumah sendiri" Mario mengajakku dan Riani masuk.
Di dalam sudah berkumpul beberapa orang, ada yang tinggi putih, ada yang pendek tapi putih, ada yang manis dan masih banyak lagi, yang jelas mereka masih mengenakan seragam security, mungkin mereka berprofesi sebagai security , akupun tidak mau tau dengan kehidupan mereka.
Aku mengikuti perintah Mario, setelah masuk aku dan Riani duduk bersebelahan pada sebuah sofa berwarna merah, mereka tampak memperhatikanku dari atas hingga bawah, aku sudah seperti ***** yang siap di pakai kapan saja.
"Perempuan nya mana lagi?" Tanyaku pada Mario yang tengah mengambilkanku sebotol wine beserta es batu yang tersimpan dalam gelas bening di tangan kirinya.
"Mungkin belum datang, minum duluan aja" Jawab Mario tersenyum getir.
Party apaan kayak gini? Hanya berkumpul bersama orang-orang yang sama sekali tak ku kenali, lalu aku minum wine sendirian, maksudku hanya di temani Riani, ku pikir acaranya akan sangat ramai dan menyenangkan, nyatanya membuatku jenuh dan ingin pulang saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Riani telah pulang karena di jemput pacarnya, sedangkan aku menunggu Juno datang, tak enak rasanya jika pulang begitu saja. Padahal Juno yang membawaku ke sini.
Kepalaku semakin berat, tapi tubuhku seakan terbang, ringan sekali. Seketika segala macam beban seperti menghilang begitu saja. Aku berusaha terus terjaga, agar tak terlelap di sini, aku juga berusaha untuk tetap tenang walau ketakutan ku rasakan begitu dalam.
Aku takut jika saja mereka memperkosaku, lalu membunuhku dan membuang mayatku di sembarang tempat. Kali ini pikiranku benar-benar kotor dan aku membiarkannya menguasaiku.
"Ya" Jawabku singkat, sembari menganggukan kepala.
Semakin pagi musik semakin keras, pikiranku semakin melayang, tapi ketakutanku juga semakin menjadi.
Mario mendekatiku hendak mencium bibirku, dengan segera ku kumpulkan seluruh tenaga untuk mendorong tubuhnya, aku segera beranjak ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh untuk menghindari serangan Mario yang tiba-tiba.
Satu jam lamanya di kamar mandi, ku perhatikan langit-langit kamar mandi yang bersih dan wangi , entah bagaimana Mario merawat rumah ini, rupanya ia sangat suka wewangian.
Aku menangis sendirian, ku pandangi jam di tanganku waktu kian melambat, padahal sudah menunjukan pukul 3 , rasanya lama sekali untuk sampai di angka 6. Sesekali ku buka ponsel, tidak ada yang bisa ku hubungi, semuanya tengah terlelap dan bermain di alam mimpi, tak terkecuali Riani. Kalo Putri, Ayu, Aida dan Fira mereka sedang bekerja sift malam, tentu tidak akan menjawab telponku.
"Ya Tuhan.. Tolong ! Untuk kali ini saja, buat saya selalu terjaga, jangan biarkan saya terlelap di tempat ini" Doaku dalam hati, ya mungkin sedikit aneh, ketika otakku sedang tak sadar aku malah berdoa meminta bantuan-Nya. Sungguh aku menyadari dengan pasti aku manusia yang tidak tahu diri.
Menyadari ketidak adaanku , Roy berinisiatif untuk menyusulku, ia mengetuk pintu, aku segera membukanya. Tak peduli lagi dengan jarum jam yang kian melambat, aku segera berlari menuju pintu utama, lalu membuka paksa pintu yang sebelumya Mario kunci. Roy berdiri kecil mengikutiku.
"Mau kemana?" Tanya Roy, ku lihat tatapannya sedikit buas, ku percepat pencarianku untuk menemukan kunci rumah yang pas dengan gagang kunci yang sebenarnya sedang ku pegang.
__ADS_1
Apakah aku sedang mabuk? Mencari gagang kunci yang pas dengan pintu, padahal jelas-jelas aku sedang memegangnya. Ketakutan terus merambat , membuat darahku mengalir dengan sangat cepat.
Ceklek
Aku berhasil membuka pintu, ku lihat di luar sangat gelap, tapi aku tidak peduli, yang ku mau hanyalah pergi dari tempat terkutuk ini.
Aku berlari secepat yang ku bisa, rasanya mataku seperti melihat beberapa setan melintas di hadapanku atau mungkin hanya halusinasiku yang berlebihan ? Karena ketakutan terus menjalar di pikiranku, membuatku lupa jika setan itu memang ada.
Tut tut tut
"Halo"
Suara pria di kejauhan sana menjawab telponku, entah nomor siapa yang saat ini ku panggil, aku tidak peduli yang jelas aku ingin meminta bantuannya untuk membawa ku pergi.
"Halo" Suara itu terdengar lagi, kali ini dengan nada yang agak tinggi.
"Tolong" Jawabku, karena seluruh tubuhku gemetar. Tak sengaja ku sentuh tombol end, yang membuat telpon mati seketika .
Segera ku nyalakan lokasi saat ini, yang akan membuatnya mengetahui dimana keberadaan ku.
Aku masih tetap berlari hingga sampai di jalan utama, gelap, sepi dan tak ada aktifitas apapun, siapa juga yang akan beraktifitas di jam 3 pagi selain kuntilanak.
Tiiiid
gedebluk
Sepertinya tubuhku menabrak sesuatu, entah apa itu yang jelas benda itu bercahaya, dan cahayanya membuat mataku sakit dengan terpaksa aku menutup mataku.
Perlahan cahaya itu menghilang, tapi benda itu masih ada di depanku. Seperti terbuat dari besi yang di beri sebuah ban. Ku beranikan diri untuk membuka kedua mataku.
"Loh , a Hari..!?" Tanyaku heran, bagaimana bisa ia berdiri di depanku, dengan motor metic yang baru saja ku tabrak.
"Aa ngapain di sini?" Tanyaku yang sedikit heran dengan kehadiran nya yang tiba-tiba.
"Tadi kamu nelpon aa buat minta tolong, kamu ngshare lokasi, jadi aa ikutin lokasi yang kamu kirim karena hawatir"
Ia segera membangunkan ku yang tengah terduduk di depan motor metic nya.
__ADS_1
"Apa iya?" Aku mencoba berdiri walau rasanya sangat sulit, kini perasaan lega mulai ku rasakan. Ku biarkan tubuhku menari di antara awan yang beterbangan.
Ia menggandeng tubuhku , memapah ku untuk naik ke atas motornya, kali ini aku tidak peduli, bahkan jika aku harus mati di pagi buta ini, kini sudah tak dapat ku kendalikan lagi tubuh dan juga pikiranku . Aku terlelap dan tak mengingat apapun lagi .