
Cuaca yang sangat panas, membuat cahaya masuk ke dalam ruangan, melalui celah jendela yang sengaja ku buka setiap pagi. Semilir angin menyapu rambut bagian depanku yang berwarna hitam pekat, namun mataku masih terpejam. Doni menepuk-nepuk pipiku, dengan suara yang rendah ia berusaha membangunkanku, wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Tubuh kurusku ia sandarkan di dadanya, sesekali ia menatap ke arah jendela, dengan tatapan lelah yang selalu ia sembunyikan dariku, rasa khawatir dan bingung terus menyelimutinya.
Sudah setengah jam lamanya aku terlelap di pangkuan Doni, ia membiarkan tubuhnya menahan tubuhku yang kurus.
Perlahan ku coba untuk membuka mataku, kedua tangan ku gerakkan perlahan, kepalaku terasa pening, mataku terasa bengkak, dadaku sangat sesak. Doni mengangkat setengah dari tubuhku, membuatku duduk menyender di dadanya.
"Apa yang terjadi? kabar apa yang membuatmu menangis hingga tak sadarkan diri?"
Doni melontarkan beberapa pertanyaan yang membuatku bingung, entah jawaban apa yang harus ku berikan padanya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, bukankah kau seharusnya kembali bekerja?" Aku mencoba menutupi kebenaran yang tidak seharusnya ia tau. Jelas ini bukan urusanku ataupun Doni, tapi hancurnya hatiku yang berkeping-keping seolah menuntun egoku untuk menemuinya. Lelaki yang ku cintai sejak aku duduk di bangku MA itu.
Kehadiran bayi Bintang rupanya tak cukup membuatku melupakan Akbar, butuh waktu berapa lama lagi untukku agar dapat mengiklaskan kepergiannya, bagaimana caranya agar aku dapat menerima takdir yang sudah Tuhan gariskan. Lalu, kenyataan terpahit apalagi yang harus ku terima selain kabar pernikahan Akbar yang membuat lututku lemah seketika hingga aku terjatuh pada lantai yang ku pijak.
Setiap hari ragaku bersama Doni, melayaninya layaknya seorang istri, bercanda ria hingga tertawa bersama, bermain bersama bayi Bintang, seolah kita adalah keluarga paling bahagia di bumi ini. Namun, jauh di dalam hati kecilku, aku tenggelam bersama sebuah nama yang kini akan berbagi hidup bersama orang baru yang sama sekali tidak ku kenal, bahkan sedikitpun aku tidak ingin mengenalnya. Ada segumpal kebencian yang ku simpan di dadaku, yang menjelma menjadi api cemburu buta yang tak seharusnya ada.
Doni kembali ke tempat kerjanya dengan beribu pertanyaan di kepalanya, ia memberikanku waktu untuk mengendalikan emosi yang tengah ku rasakan, ia tau pasti bagaimana diriku, ketika emosi menguasaiku ia akan meninggalkanku sendiri. Ia bahkan sangat mengenalku lebih dari diriku sendiri. Doni sudah membuktikan rasa cintanya yang begitu besar padaku, ia slalu berusaha menuruti semua keinginanku, ia memahamiku, bahkan dengan sabar menghadapiku sekalipun ia tau aku masih mencintai lelaki yang selalu ku puja di hadapannya. Yang selalu ku banding-bandingkan dengan nya.
"Iya, dia baru saja mengabariku" Air mataku kembali mengalir membasahi pipi, yang ku harap ini sebuah mimpi buruk yang tak benar-benar terjadi.
__ADS_1
"Kau tau siapa perempuannya?" Tanya Iwan yang sepertinya ia pun tak menyangka bahwa teman dekatnya sejak duduk di bangku SMA akan segera melepas masa lajangnya.
"Tidak, mengetahuinya akan sangat menyakitiku, kau tau pasti aku masih mencintainya" Ku balas pesan Iwan dengan perasaan hancur.
Sejak aku mengenal Akbar, Iwan selalu menjadi tempat curhatku, kita selalu berkomunikasi sekalipun Azmi sudah putus dengannya. Bahkan ketika aku sudah menikah, hubungan pertemanan ku dengan Iwan masih terjalin cukup baik.
"Ku dengar perempuan itu tinggal di desa yang sama dengan suamimu, apa kamu akan menghadirinya?" Iwan terus bertanya seolah ia mengetahui setiap jawabannya .
"Tidak, aku tinggal bersama suamiku . Mungkin ia tidak akan mengijinkanku keluar rumah tanpa ijinnya mulai sekarang. Bagaimana denganmu?" Aku bertanya balik padanya, berharap percakapan ini segera berakhir.
__ADS_1
"Aku tidak akan datang, aku harus bekerja" Balas Iwan singkat. Aku hanya membacanya sebelum akhirnya ku banting ponsel milikku dengan sangat keras .