Pena Hitam

Pena Hitam
34


__ADS_3

Pagi-pagi buta aku terbangun, ku pikir akan sangat merepotkan jika aku bangun terlalu siang, mengingat hanya ada satu kamar mandi di sini, sedangkan penghuni kos ada 4 orang, yakni Riani, Putri, Ayu dan juga aku dalam satu ruangan tentunya, ya aku menyebutnya ruangan bukan kamar, karena di ruangan sebesar ini bahkan tidak ada kasur, bantal, ataupun selimbut hanya beberapa tumpukan baju, laptop, sebuah gitar, dan juga motor metic mio keluaran baru milik Putri, tidak ada barang khusus atau apapun itu yang membuat ruangan ini terlihat seperti sebuah kamar .


Ku lihat teman-temanku masih terlelap, ketika itu rasanya aku sangat jauh dari Tuhan, boro-boro mengaji, sholat wajibpun ku tinggalkan begitu saja.


Setelah selesai mandi, ku ambil tumpukan baju kotor milik teman-temanku, ku bersihkan semuanya, setelah itu aku bersiap-siap dan segera membangunkan mereka satu persatu untuk mandi dan mencari sarapan.

__ADS_1


Ibu kos menyapaku, ketika ku cari tempat untuk menjemur pakaian, ia sangat cantik dengan kulit putih dan bersih, rambut hitam yang menjuntai sebahu, ia terlihat awet muda dengan dua anak laki-laki yang ia miliki, apalagi ia masih menggunakan piyama kimono berwarna pink muda yang membentuk tubuh indahnya.


Tempat ini begitu sempit, bahkan untuk menjemur pakaian aku harus membuatnya sendiri dengan menyusun sebuah tali rapia lalu menjepitnya pada sebuah paku yang tertancap di dinding kosan , lebih tepatnya kontrakan yang tentu ku rangkai sendiri dengan susah payah tanpa peralatan yang memadai.


Cukup merepotkan memang, sudah seperti pertama kali menjadi anak kos saja, padahal dulu bersama Farinpun aku tinggal di kost, tapi dulu tidak sesulit ini, mungkin karena Farin sudah memiliki banyak barang yang memudahkan ku untuk melakukan apapun, seperti masak dan lain sebagainya.

__ADS_1


Dan yang lebih menyebalkannya lagi Putri, Ayu dan juga Riani. Mereka belum siap untuk berangkat, ada yang masih nyisir rambut, pasang softlens bahkan milih baju untuk di kenakan hari ini. Sudah hampir gila di hari pertama bekerja, akan seperti apa aku nantinya jika berlama-lama bersama mereka yang bahkan tidak bisa mengatur waktu.


Mau tidak mau aku harus berjalan sendiri mencari sarapan untukku dan juga mereka, ku susuri pemukiman warga, tak jauh dari kost ada sebuah warung yang cukup besar dan kumplit lalu di sebelahnya ada penjual nasi kuning, untunglah aku tidak perlu berjalan jauh untuk mencari makan di waktu yang serba pas-pasan ini.


Ku beli 2 bungkus nasi, aku sengaja hanya membeli 2 porsi karena perempuan sejatinya tidak banyak makan nasi yang bersifat makanan padat, kami hanya makan cemilan atau jajanan yang bahkan tidak membuat perut kenyang, ku beli nasi lengkap dengan lauk dan air minum, ya di kamarku bahkan tidak ada galon untuk kami minum, jika merasa haus terpaksa harus keluar kamar dan mencarinya sendiri di warung.

__ADS_1


Setelah sarapan kami berangkat ke pabrik, Putri dan Ayu menggunakan motor metic, sedangkan aku dan Riani pergi dengan menggunakan angkutan umum. Mereka biasa pergi bertiga, hanya saja semenjak ada aku. Mereka terpaksa bergantian menemaniku untuk berangkat menggunakan angkutan umum.


Setelah sampai, security mempersilahkanku masuk dan menemui HRD, dulu orang-orang dengan pendidikan tingkatan SMA jarang sekali yang masuk ke produksi, biasanya mereka akan memilih untuk melamar di bagian administrasi atau perkantoran, makanya aku dapat dengan mudah masuk ke produksi karena golongan orang-orang yang masuk ke produksi biasanya lulusan sekolah tingkatan SMP dan SD yang pada masa itu di anggap rendah dan di sepelekan.


__ADS_2