Pena Hitam

Pena Hitam
69


__ADS_3

"Iya" Sahut Doni dari balik kamar, rupanya ia cukup mahir dalam menidurkan putri kecilnya yang masih ia timbang.


"Besok si Ade mau menikah, kita harus kesana. Ya ampun masih sekolah juga. Bukanya fokus sekolah malah kepengen menikah" Aku menggerutu di depan Mama Doni.


"Anak zaman sekarang yah, kelakuannya bejad-bejad. Emang berapa tahun Neng?" Rupanya Mama Doni menyahutiku, seolah ia tau apa yang sedang ku pikirkan. Ia memang begitu selalu ikut campur dalam masalah orang lain, menggosip adalah salah satu kebiasaan buruknya di usia senjanya. Aku sudah memahami itu, bahkan dalam hal apapun ia selalu menjadi sosok yang paling Uptodate di lingkungan para tetangganya.


"Kelas 1 SMA Ma" Aku menjawab singkat berharap ia tidak memberikan pembahasan apapun, seperti yang sudah-sudah, aku faham betul akan sifat Ibu Mertuaku itu, bagaimana tidak hampir setiap hari ia menggosipkan menantunya sendiri kepadaku, Yulia. Ia adalah menantu favorit yang selalu menjadi bahan gibah paling renyah setiap hari yang ia beberkan aibnya kepada hampir semua tetangganya. Dulu aku begitu antusias mendengarkan keluhan-keluhan yang ia lontarkan kepadaku tentang Yulia, bahkan semua keburukan Yulia aku mengetahuinya dengan sangat detail. Namun, itu jauh sebelum aku mengetahui sifat dan keburukan Ibu Mertua, hingga Yulia merasa jengah dan menceritakan semua yang pernah ia dengar kepadaku, dimana aku pun sama korban dari kebusukan mulut Ibu Mertua alias salah satu bahan gosipnya yang setiap hari ia tuturkan pada tetangga.

__ADS_1


"Ih ya ampun kok gitu yah, pasti hamil tuh Neng makanya minta cepet-cepet di nikahin. Anak zaman sekarang kelakuannya bikin malu orang tua. Amit-amit jabang bayi. Kayak anak nya Bu Yas tuh, tetangga sebelah. Seminggu yang lalu ia menikah, padahal masih kelas 2 SMA, di nikah paksa da cowoknya udah nginep di situ terus. Ya begitulah kalo anak perempuan udah ngga ada bapaknya, pergaulannya terlampau bebas" Mama Doni terus berbicara, rasanya telingaku sudah tak mampu lagi mendengar apapun yang ia tuturkan. Aku tidak menanggapinya, ku ambil ponsel di atas meja tepat di depanku, ku mainkan ponsel berharap ia berhenti membicarakan orang lain.


Doni memahami sikap diamku, ia segera keluar kamar setelah menidurkan Bintang di kamar.


"Apa yang mau Mama bicarakan?" Tanya Doni lantang, matanya menatap ke arah Ibu Mertua sambil berjalan ke arahku. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai ngelantur itu.


"Iya Ma, tapi cuman 5 juta kok" Doni mengiyakan pertanyaan Mamanya, aku masih terdiam dengan ponsel yang masih ku pegang . Sesaat dari ujung mata ku lihat Doni yang duduk di sampingku sedang memperhatikanku, mungkin ia takut jika saja aku akan marah padanya.

__ADS_1


"Cuman 5 juta kamu bilang? Astagfirulloh Doni ari maneh kunaon nyusahken wae kolot, memangnya penghasilan kamu berapa make ngomong 'Cuman 5 juta' sagala? bukannya waktu persalinan udah pinjam ke bank? sekarang pinjem lagi alasannya buat persalinan. Pasti ini gara-gara kamu Doni jadi terlilit hutang, dulu sebelum Doni menikah sama kamu Doni ga pernah punya utang, kamu emang pembawa sial" Mama Doni menatapku dengan jari telunjuk yang ia layangkan di atas kepalaku.


Seketika aku menatapnya, ku simpan kembali ponsel di tempatnya, aku berdiri dari tempat dudukku dan berlalu pergi ke kamar dengan perasaan kesal dan sakit hati mendengar ucapan Ibu Mertuaku yang setiap kali ada masalah ia selalu menyalahkanku. Ingin sekali aku melawannya menamparnya sekali saja, namun ia sudah sangat tua terlebih ia adalah mertuaku yang harus selalu aku hormati.


Doni membiarkanku pergi melewatinya, ia mengerti aku sangat marah padanya, terlebih setelah Ibunya menyalahkanku atas perbuatannya.


"Tok tok" Setelah obrolan mereka yang ku tinggalkan begitu saja, rupanya ia segera menyusulku ke kamar.

__ADS_1


"Untuk apa kamu meminjam uang sebanyak itu? untuk makan aja kita susah gimana bayar utang, dan kenapa kamu selalu membohongiku? kamu tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi di antara kita" Aku menangis tersedu-sedu menahan sesak yang sedari tadi ku tahan.


__ADS_2