Pena Hitam

Pena Hitam
54


__ADS_3

Ku terduduk lemah, ku sandarkan tubuhku di balik pintu kamar, rasanya terlalu dini untuk memahami banyak hal tak terduga yang terjadi begitu saja di dalam hidupku.


Aku terlalu lemah, bahkan untuk menangis rasanya butuh aliran tenaga yang cukup besar, aku tidak mengerti kenapa harus aku yang memiliki jalan hidup dengan alur yang seperti ini, jelas ini tidaklah adil.


Kini rasa sesal merebak di dadaku, berkembang semakin besar, membuatku melupakan semua kebaikan yang IA berikan.


Aku begitu marah pada diriku sendiri, pada keadaan dan Tuhan. Ku sesali segala keputusanku, segalanya yang sudah terjadi dalam hidupku, takdir yang nyata dan menyedihkan, aku benar-benar merasa terjatuh di antara dilema dan penyesalan.

__ADS_1


Ku tatap wajah bayi mungilku yang terlelap di sampingku, ia begitu bersih tak berdosa, ia tulus dan begitu halus. Seketika air mataku mengalir dengan deras, ku dekap tubuh mungilnya, ku ciumi dengan perlahan. Ini terlalu menyakitkan untukku, bagaimana bisa aku berbeda dengan mereka ?


Kesedihanku tak hanya sampai di situ, bak terjatuh lalu tertimpa tangga pula , hidup di


lingkungan mertua nyatanya adalah neraka bagiku, setiap hari adalah mimpi buruk, bahkan untuk bangun di pagi haripun rasanya sudah tak ingin, jika saja Tuhan membiarkanku terlelap dan tak bangun lagi mungkin semua akan terasa jauh lebih indah.


Banyak hal yang terjadi di dalam rumah, perselisihan, beda pendapat, kebiasaan, semakin hari mereka semakin berani mengatur jalan hidupku, bahkan kini rumah tanggaku di ambang kehancuran dimana ibu dari suamiku telah sepenuhnya mengambil alih hak dan kewajiban suamiku, layaknya sebuah wayang aku dan Doni telah berhasil di kendalikan .

__ADS_1


Tentu ini bukan untuk pertama kalinya, bahkan sebelum kami menikah Doni telah terbiasa dengan hutang, meski tidak dengan aku. Aku begitu syok dengan keadaanku saat ini. Utang yang terus menumpuk, pekerjaan Doni yang tidak jelas, mertua yang ikut campur di tambah lagi kakak ipar yang slalu mengadu domba antara aku dan anggota keluarga yang lainnya.


Berkali-kali aku mengemis keadilan pada Doni, agar ia segera membawaku keluar dari rumah itu. Berkali-kali juga ia menolak permintaanku dengan berbagai macam alasan.


Ia jelas-jelas membela keluarganya , tanpa mementingkan keadaanku, ia membuatku lebih tertekan dari sebelumnya, bagaimana tidak? kedua orang tuanya memperlakukan ku dengan sangat baik di hadapan Doni berbanding terbalik dengan apa yang mereka lakukan di belakang Doni, mereka begitu pandai bersilat lidah bahkan mengadu domba antara aku dan Doni.


Tak hanya itu, setiap apa yang aku lakukan di dalam kehidupan berumah tangga ku dengan Doni, slalu menjadi perbincangan hangat antara mereka dengan tetangga, bahkan nama ku telah begitu buruk di lingkungan rumah Doni.

__ADS_1


Pepatah ini begitu nyata ku rasa "jauh bau melati, dekat bau tahi", dulu saat berjauhan rasanya seperti menemukan keindahan tersendiri di dalam rumah tangga, adalah sumber kebahagiaan ketika mertua bisa mencintai kita apa adanya, dengan segala kekurangan dan keterbatasan.


Namun, sekarang ketika berdekatan mereka tak lebih dari seorang musuh yang dapat menyerang mental kapan saja.


__ADS_2