Pena Hitam

Pena Hitam
83


__ADS_3

Aku mengurus semuanya sendiri, bu April melepaskanku dengan perasaan kecewa, menurutnya suatu kebodohan ketika seseorang memutuskan untuk memilih kembali ke masa lalu daripada berjalan lurus menuju masa depan.


Aku sangat setuju dengan pendapat bu April. Tapi, takdir berkata lain. Aku harus tetap melanjutkan jalanku sesuai skenario yang telah Tuhan tetapkan.


Aku mengepak barangku dan segera pamit untuk meninggalkan sekolah yang telah membersihkan nama baikku.


Ku lihat murid-murid kesayanganku menatapku di balik jendela dengan tatapan yang sedih, mereka melambaikan tangan kanan seolah mengucapkan perpisahan, mata mereka tak henti-hentinya menatapku hingga ku ayunkan sepeda milik pamanku dan menghilang dari pandangan mereka.


"Selamat tinggal dan terima kasih banyak". Aku tersenyum dengan hati yang tersayat. Pikiranku kembali pada murid-muridku, teringat saat pertama kali aku mengenal mereka, mereka begitu lugu dan menggemaskan.


Aku mengepak barang-barangku, hari ini aku akan pergi menemui Doni di tempatnya bekerja, aku sudah tidak sabar untuk menemuinya.


Paman mengantarkanku ke terminal, ia membantuku mencarikan bis yang akan mengantarkanku ke tempat Doni.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai rumah tanggamu kembali hancur karena ego kalian. Pastikan suamimu telah belajar banyak dari kesalahannya" Paman melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkanku sendiri di dalam bis.


Aku tersenyum dan menganggukkan kepala tanda mengerti akan perintah paman. Bis pun segera berangkat ke tempat tujuan, sepanjang jalan ku lihat keramaian ibu kota. Asap polusi yang menggangu pernafasanku, orang yang berlalu lalang mencari rezeki, dan semua orang yang tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Aku menatap jam di tangan kiriku, ku lihat sudah menunjukkan pukul 12:00 , Jakarta sangatlah luas, kali ini Dav tidak menjemputku ia hanya memberikan ku sebuah alamat yang sebelumnya tak pernah ku kunjungi.


"Jl Dr Muwardi I , Grogol, Petamburan, Jakarta Barat" Sebuah alamat yang tertulis pada secarik kertas yang ku bawa.


Doni sudah menungguku, ia segera membawaku ke kos-kosannya.


Kamar Doni berhadapan dengan kamar Putri, ku lihat Putri sudah menungguku di depan pintu kamarnya, ia menyambutku dengan gembira.


Selain itu, di belakang Putri berdiri seorang wanita berambut panjang lurus, berkulit putih dan mata sipit.

__ADS_1


"Yang, kamu pa kabar? ko badanmu kurus banget sih?" Tanya Putri, ia memelukku mencium pipi kiri dan kananku.


Aku dan Putri sangat dekat bahkan dulu ketika kami masih lajang kami sering di kira Lesby karena memang kami memiliki panggilan sayang masing-masing.


Terlebih penampilan Putri yang tomboy dan aku yang feminim, tentu membuat orang lain yang menatap kami salah faham.


"Iya aku baik Beb, iya nih aku diet terus jadi begini deh". Aku membalas pelukan Putri.


"Oh ya Yang, kenalin ini temen aku, namanya Ria. Temen Doni juga" Putri menggandeng tangan Ria, Ria hanya tersenyum menatapku, lalu ia pamit pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan Doni.


"Temen kamu kenapa ? aneh banget deh, bahkan kita belum salaman udah nyelonong pergi aja" Aku masuk ke kamar Putri dan duduk berhadapan dengan Putri, sementara Doni, aku tidak melihatnya sejak aku masuk ke kamar Putri.


"Ya udah lah cuekin aja, mungkin dia ada keperluan lain, hehe" Putri tersenyum misterius, melihat tingkahnya yang sedikit aneh membuatku bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2