
"Ra, Ra, bangun !" Suara seorang perempuan terdengar begitu lembut, ia mengusap keningku, adalah Riani, ia tengah duduk di sampingku sambil memperhatikan wajahku, sesekali ia menggoyang tubuhku berharap aku segera bangun dari mimpiku.
"Ah apaan sih berisik ! " Seruku, membentaknya. Ku kibaskan tangan kanannya yang sedang memegang keningku.
"Kamu engga kerja hari ini?" Tanya nya yang kini mulai mengeraskan suara, dari suaranya sepertinya ia mulai kesal karena ku bentak.
"Hah kerja?" Seketika setengah dari tubuhku terbangun, aku terduduk dengan kesadaran yang masih setengah, ku rogoh saku celana dan mulai mencari-cari keberadaan ponsel milikku.
Setelah ku temukan, ku lihat jam sudah menunjukan pukul 7, seharusnya Putri dan yang lainnya sudah pulang. Tapi, kini tak ku temukan keberadaannya, hanya Riani seorang yang duduk di sampingku.
__ADS_1
"Kok aku di sini, perasaan tadi di.. " Aku menggantung kalimatku, tiba-tiba kepalaku terasa berat. Aku teringat seseorang yang memapah tubuhku, dan setauku tadi bukankah aku sedang berada di pinggir jalan bersama orang itu.
"A Hari.. dimana dia?" Tanyaku yang entah pada siapa, pada Riani atau pada diriku sendiri. Aku sudah seperti orang linglung yang baru saja hilang di tengah keramaian.
"Oh cowok itu namanya Hari?" Tanya Riani, ia tersenyum padaku, namun sedikitpun aku tak dapat mengartikan senyumannya itu, entah itu sebuah ejekan , kekaguman, atau mungkin ia naksir a Hari, mengingat a Hari cukup tampan dengan kulit putih, mata sipit juga tinggi badan yang kurang lebih 170 cm. Wajahnya hampir mirip dengan salah satu penyanyi asal Indonesia, yakni Once mantan vokalis Dewa band kalo tidak salah.
"Iya, dimana dia? dan sejak kapan aku ada di sini?" Aku mulai penasaran dengan keberadaannya.
Tak banyak yang tau keberadaan a Hari di dalam hidupku, padahal nyatanya kami sudah saling kenal sejak lama, bahkan sejak duduk di bangku MA , walau aku tidak begitu mengingat kapan dan bagaimana aku bisa mengenalnya.
__ADS_1
Walau begitu, kedekatan kita hanya sebatas teman, bahkan aku menganggapnya saudara , karena sifatnya yang melindungi dan baik kepada semua orang, ia sudah seperti kakakku sendiri, mungkin karena usia kita juga yang terlampau cukup jauh.
Ku cari kontak telpon dengan nama Hary Wibawa, setelah ku temukan aku segera menyentuh layar ponselku untuk segera menelponnya.
Oh ya, di masa itu Android baru saja muncul, Walau begitu hanya aplikasi BBM, FB dan Twitter saja yang umum di gunakan oleh masyarakat. Dan kali ini, aku menggunakan ponsel dengan model terbaru yang di belikan satu minggu yang lalu oleh kakak kedua ku.
"Hallo.." Suara a Hari terdengar di kejauhan sana.
"Kamu gapapa Ra?" Suaranya terdengar berat dan sedikit gemetar.
__ADS_1
"Aku ngga apa-apa a, makasi ya udah nganterin aku pulang" Jawabku , sebenarnya aku menelponnya karena merasa tidak enak, ia sudah jauh-jauh datang untuk menolongku, mengantarkan ku pulang lalu pergi lagi, mana subuh-subuh lagi. Jelas saja itu akan sangat mengganggunya, mengingat paginya ia harus bangun untuk bekerja.
"Ra.." Putri dan Ayu berteriak bersamaan, kecuali Aida dan Fira, Aida terlihat tertekan mungkin ia merasa bersalah padaku karena sudah menempatkanku pada bahaya, sedangkan Fira hanya terdiam menatapku, mungkin karena kita baru saja saling mengenal sehingga membuat kami canggung, sedang Putri dan Ayu , ia terliat sangat khawatir padaku.