Pena Hitam

Pena Hitam
14


__ADS_3

Mei 2012,


Kecelakaan di hari itu seakan menghipnotisku, wajahnya terpampang jelas di ingatanku, aku tidak begitu yakin dia mengetahui keberadaanku, yang jelas darah yang samar ku lihat dari kejauhan itu masih membuatku enggan untuk menghubunginya, terlebih sudah beberapa hari ini nomornya tidak bisa di hubungi.


Aku pikir akan lebih baik untuk kita berdua saling memberi jarak, bukan mengakhiri hanya saja kita sama-sama perlu waktu untuk memperbaiki nilai apalagi Akbar sekarang sudah kelas tiga, sudah waktunya ia fokus untuk belajar.


Sama halnya dengan perempuan lain pada umumnya, akupun mengkhawatirkan masa depan Akbar, akan jadi apa dia nanti jika sekolahnya tidak selesai sampe lulus.

__ADS_1


Aku juga merasa harus mendukung ia sepenuhnya untuk belajar, jika aku tetap memaksakan diri untuk terus bertemu mungkin aku terlalu egois, meski nyatanya bukan hal yang mudah bagiku untuk lama-lama berjauhan dengannya, tapi memang itu harus di lakukan, mengingat akupun harus belajar memperbaiki nilai mulai sekarang karena jika tidak aku harus mengulang satu tahun, tentu aku tidak mau.


Di sekolah ku telah di adakan eskul baru, yakni paskibra. Tidak begitu banyak murid yang berminat untuk ikut serta dalam eskul ini. Hanya beberapa di antara mereka, itupun siswa-siswi yang aktif di organisasi seperti osis, pramuka dan pmr.


Eskul ini sebenarnya tidak termasuk daftar eskul wajib yang harus banget di ikuti oleh para siswa-siswi di sekolahku, tidak seperti osis, pmr dan juga pramuka. Karena eskul ini hanya di adakan setiap satu tahun sekali untuk kemudian tampil di acara hari ulang tahun Republik Indonesia di tingkat kecamatan.


Annisa mengajakku untuk bergabung di eskul itu, jujur aku tidak begitu berminat, selain karena harus panas-panasan, latihan fisik terus menerus juga rasanya tidak akan ada gunanya selain capek dan pusing karena harus latihan di bawah terik sinar matahari dengan debu yang bertebaran dimana-mana.

__ADS_1


Aku menerima tawaran Annisa, bukan karena aku merasa penasaran, hanya saja aku butuh kegiatan yang nantinya akan menyibukkanku, sehingga membuatku sejenak melupakan Akbar.


"Ayok, pasti seru ! lagian nanti di sana bakalan ada a Tarman" A Tarman adalah saudara Annisa, sekaligus cucu dari sahabat babe. Aku mengenalnya dengan baik, karena ia sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri.


Aku mengangguk mengiyakan. Latihan fisik di mulai sejak bulan Mei akhir, di awal Annisa begitu bersemangat. Sayangnya semangat itu tak lama ia perlihatkan padaku, setelah satu minggu latihan ia memutuskan untuk keluar, ia sempat mengajak ku untuk keluar juga, tapi kemudian aku menolak, karena selain aku mulai menyukai kegiatan ini, aku juga mulai mengenal banyak orang di sini, mereka menyenangkan dan cukup baik.


Aku mengikuti latihan paskibra ini dengan kedua temanku, tepatnya seniorku. Mereka sudah pernah mengibarkan bendera di kecamatan sebelumnya yakni pada agustus 2011 lalu. Adalah Ndah dan Mirna, mereka yang pada akhirnya menjadi sahabat terbaikku setelah Annisa memutuskan untuk tidak melanjutkan kegiatan melelahkan sekaligus menyenangkan ini.

__ADS_1


Bulan Mei telah pergi berganti dengan Juni, perlahan tapi pasti aku mulai terbiasa tanpa Akbar, hidupku di sibukkan dengan kegiatan baruku yakni paskibra dan juga belajar, aku hampir tidak pernah bolos lagi setelah kami sama-sama menjauh. Meski kerinduan tak jarang hinggap di relung hatiku, menyiksa batinku, memaksaku untuk mencarinya.


Hingga pada Agustus 2012, aku telah berhasil mengibarkan bendera merah putih pada tingkat kecamatan, meskipun pada saat itu aku di tempatkan pada pasukan 45 . Tapi aku merasa bangga akan hal itu, setidaknya aku sudah menjadi lebih baik dari hari kemarin yang cuman ngabisin waktu buat bolos dan main dengan pacarku Akbar.


__ADS_2