
DEG
Ada perasaan hancur di sana, jantungku berdebar sangat kencang, amarah dan air mata bergejolak menjadi satu. Ada rasa bersalah yang sangat dalam, sesal yang semakin menjadi, beribu pertanyaan ingin ku lontarkan, namun gengsi yang sangat besar menutupi segalanya.
Besok akan menjadi hari yang besar untuknya, dia akan melepas masa lajangnya. Tubuh tinggi besar yang pernah ku peluk erat, bibir manis yang pernah ku sentuh, jiwa dan raga yang pernah menyatu, itu semua akan menjadi milik orang lain.
Yang membuatku patah untuk yang kesekian kalinya, bahkan raganya sudah bukan milikku lagi, tapi ia meninggalkan hati yang sangat besar, hati yang membuatku patah berkeping-keping.
Tubuhku bergetar sangat hebat, ada amarah yang sangat besar yang ingin ku ungkapkan, kesedihan yang mendalam bahkan begitu sangat dalam hingga aku terlena di dalamnya, air mata yang mengalir dengan sangat deras seperti sungai yang meluap tak henti-hentinya menetes.
Bahagia yang ia rasakan ada di antara kepedihan dan air mataku, bagaimana bisa ia menghianatiku? ah benar, aku yang lebih dulu menghianatinya, ia yang pergi meninggalkanku lebih dulu, lalu kenapa aku tidak menunggunya kembali? siapa yang salah? waktu? keadaan? Aku marah pada Tuhan, bagaimana bisa ia mempertemukan kita dengan cara yang sangat indah, lalu memisahkan kita dengan meninggalkan seribu pertanyaan dan kesedihan yang sangat dalam?
__ADS_1
Patah hati terbesar dalam hidupku, melihatnya bahagia di pelaminan bersama orang lain, yang bahkan aku tak pernah tau siapa perempuan itu?.
Aku menangis sejadi-jadinya, duduk termenung di belakang pintu dengan kedua kaki kupeluk erat, aku melempar semua yang ada di hadapanku, rasanya aku ingin mati saja.
"Bedebah, laknat, manusia macam apa kau ini?" Batinku terus menerus mengumpat, seakan tak mampu merelekan kebahagiaan mereka.
4 Tahun nyatanya tak berarti untuknya, waktu yang cukup panjang yang pernah kita lalui bersama dengan berbagai cerita di dalamnya, suka, duka dan air mata. Berakhir hari ini, saat ini , detik ini semua seakan hancur bersama kabar yang ia berikan.
Sungguh bukan kalimat itu yang ingin ku katakan, ini benar-benar menyakitiku. Aku akan datang? benarkah? aku takan pernah sanggup melihat kebahagiaannya bersama orang lain.
Aku menutup kembali akun sosial media milikku, ada penyesalan di sana, kenapa aku harus mengetahui hal yang tidak seharusnya ku ketahui?
__ADS_1
"Tok tok tok" Seseorang mengetuk pintu, membuatku berhenti menangis.
Aku melihat jam di tanganku, waktu sudah menunjukan pukul 12.00 WIB. Aku duduk terlalu lama, ku lihat Bintang masih terlelap dalam tidur siangnya.
Aku membuka pintu, Doni menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa? kamu nangis?" Ia menyapu air mataku yang kembali mengalir dengan sangat deras.
"Hik hik hik , aaaaaaaaaa" Suaraku semakin keras, dada yang sesak ini seakan tak bisa di tahan lagi, aku memeluk Doni dengan sangat erat. Aku memukul tubuh Doni dengan kasar, sesekali aku mengumpatnya.
"Hey, lihat aku ! kamu kenapa? kamu ada masalah apa?" Doni melepaskan pelukanku Kedua tangan nya meraih wajahku, ia menatapku sangat dalam penuh dengan kekhawatiran.
__ADS_1
Aku kembali menangis histeris, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang Doni lontarkan. Hingga kepalaku terasa berat, mataku mulai berkunang-kunang, semua terlihat gelap dan sangat gelap, tubuhku lemas, aku tak dapat mengingat apapun lagi.