Pena Hitam

Pena Hitam
63


__ADS_3

Hari yang melelahkan untuk perjalanan yang cukup panjang, tubuhku yang lelah ku biarkan terlelap di atas kasur yang tingginya hanya 30cm, cukup menarik memang rumah yang telah ia sewa membuatku nyaman dengan fasilitas lengkap di dalamnya.


Mama terlelap di sampingku, wajahnya yang berkeriput terlihat begitu lesu. Sedangkan bayi Bintang, ia asik memainkan jari-jari mungilnya, mengamatinya, menyatukan kedua tangan bersama-sama, membuka tutup jari-jarinya, serta memasukkannya ke dalam mulut dengan suara khas yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku.


Doni sudah kembali pergi meninggalkan kami, ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Sementara di lantai tergeletak sebuah ponsel yang berbunyi lagu milik BlackPink dengan judul DuDuDu, lagu itu sudah berbunyi sejak 5 detik yang lalu. Aku mencari sumber suara dari lagu itu, terdengar sangat bising hingga Mama terbangun karenanya.


"Mama kebangun ya? maaf ya Ma !" Aku segera mengambil ponsel itu, ponsel dengan casing berwarna hitam pekat bergambar minion .


Aku segera mengeceknya, satu panggilan masuk dengan nama kontak "Mama" yang tertera di layar tersebut.


"Ini ponsel milik Doni, kenapa ia meninggalkannya di sini". Batinku, Aku mengamati ponsel tersebut, ia memang memiliki sifat ceroboh, tak heran jika ia selalu melupakan sesuatu yang terkadang hal terpenting sekalipun.

__ADS_1


Dalam hitungan detik ponsel itu kembali mengeluarkan suaranya, aku segera menyentuh layar ponsel tersebut dan mengangkatnya.


"Doni, kamu ngapain sewa rumah? bawa perempuan itu lagi, Mama ngga suka Doni. Buang-buang duit aja sih, itu pemborosan. Lagian, istri kamu kenapa manja banget, suaminya kerja terus-terusan di buntutin" Suara itu menggelegar di telingaku, membuat telingaku sakit, terlebih lagi sakitnya menusuk hingga ke dalam hati.


Aku hanya terpaku, diam seribu bahasa tak mampu berbicara sedikitpun. Air mata memaksa untuk segera keluar dari kedua kantung mata yang sedikit menghitam.


"Halo.. Doni . Kamu dengerin Mama ngga sih? kok malah diem aja" Sekali lagi suara itu terdengar sangat keras.


DEGG


"Ada apa?" Tanya Mama yang merasa penasaran dengan sikapku yang mematung.

__ADS_1


"Bukan apa-apa Ma, hanya salah sambung. Doni meninggalkan ponselnya di lantai, mungkin ia terburu-buru" Aku menaruh ponsel tersebut dan mematikannya.


"Syukurlah, Mama kira apa. Habis kamu keliatan kayak yang syok, bikin Mama khawatir aja" Mama membalikan badannya dan mencoba untuk kembali meneruskan tidur siangnya.


"Haaaa fyuuuhh" Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


Mungkin dia benar-benar membenciku, anehnya di depan Doni ia seolah sangat baik padaku. Ia slalu menjebakku berusaha menjadikan dirinya korban, sehingga membuat Doni lebih mempercayainya dari pada mempercayaiku.


***


Hampir satu minggu lamanya aku tinggal di rumah baru ini, rumah terasa sangat sepi setelah dua hari yang lalu Doni mengantarkan Mama pulang. Seperti biasa pagi ini Doni berangkat ke tempat kerjanya meninggalkanku dan bayi Bintang di rumah yang sepi ini.

__ADS_1


Aku membuka semua Sosial Media yang sudah 6 bulan ku tutup. Entah apa yang ingin ku ketahui sebenarnya, batinku mengatakan aku harus segera membukanya.


"Hi Naura, how are you? long time no see ! besok aku menikah , kamu dateng yaaa.. bawa Bintang, aku ingin bertemu dengannya. Pokoknya kamu harus dateng, aku tunggu kamu di sini".


__ADS_2