
Perlahan tapi pasti, aku mulai terbiasa dengan Doni, ia sangat gila, walau begitu aku mulai nyaman menjalani hari dengan nya, tak ada satu haripun ku lalui tanpanya, ia pria yang baik tapi aku masih belum mencintainya, bahkan perlakuan nya terhadapku malam itu masih terekam jelas di dalam ingatanku.
Sikap dingin yang slalu ku tunjukkan padanya perlahan mulai berubah, hati yang begitu keras layaknya batu perlahan mulai melunak. Ya, layaknya nicotine aku mulai bergantung padanya dalam banyak hal.
Semua ku lakukan di antara kenyamanan dan pelampiasan, aku mencintai Akbar tapi aku mulai bergantung pada pria gila yang ku panggil Doni. Bukankah itu menyedihkan?
__ADS_1
3 bulan sudah aku menjalin hubungan Doni, dengan kebebasan tanpa adanya aturan, kini mulai ku nikmati segalanya tentang Doni, kasih sayang yang ia berikan, cinta dan kenyataan bahwa aku mulai menikmati setiap inci dari tubuhnya.
Aku telah tenggelam di antara kegelapan, namun setitik cahaya telah menjadi penerang di dalam jiwaku, meski hanya datang melewati celah yang tersembunyi.
Doni menyadarkanku akan banyak hal, ia membuatku berubah dalam sekejap, aku telah kehilangan alcohol dan nicotine yang slama ini menjadi sahabat sejati di dalam hidupku. Tapi, tubuhnya membuatku tak dapat melepaskan nya walau untuk sedetik. Cintanya telah benar-benar membuatku mabuk kepayang.
__ADS_1
Aku ketakutan, aku merasa sendirian di antara kegelisahan, aku butuh jalan untuk kembali padanya, aku butuh alas untuk berlari ke rumahku, rumah terindah yang pernah ku diami, rumah yang menjadi penjara mengerikan di masa itu yang kini begitu ku rindukan, aku rindu pondok, aku rindu teman-teman ku, aku rindu semua yang ku lakukan di masa itu. Aku benar-benar haus akan suara merdu dari santriwan santriwati yang pernah ku temui, aku ingin pulang dan berteriak meminta ampunanNYa.
Aku tersadar dari ketakutanku, ku lihat Doni terlelap begitu damai di sampingku, tak ada beban bahkan ketakutan yang ia rasakan, aku begitu iri dengannya, bahkan ia seakan tak merasakan penyesalan atas apa yang slama ini kita lakukan.
Ku coba pejamkan mata untuk menjemput mimpiku, sebaris senyum ku lihat di antara gelapnya malam, Babe. Wajahnya begitu khawatir, bola mata indahnya terus menatapku sayu, ku lihat ada banyak kekecewaan yang ia tunjukan padaku. Ya Tuhan, aku benar-benar tersesat sekarang, dan sejauh ini? bagaimana bisa? hanya karena terlelap di antara ketidak berdayaanku akan kehilangan sosok Akbar di dalam hidupku, apa yang ku pikirkan sejauh ini? bagaimana dengan masa depanku? bukankah aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru agar dapat hidup seribu tahun lagi.
__ADS_1
Air mataku mulai menetes membasahi pipiku, ku tenggelamkan asaku di antara segala kesedihan, ketakutan dan kekhawatiran ku. Aku telah membuat mereka menangis sekarang. Ya Tuhan aku menyesal, bagaimana bisa mama yang hebat melahirkan sosok putri yang menjijikkan seperti ku?
Bagaimana jika aku hamil dan menikah di usia muda? 19 tahun? itu tidak mungkin. Aku masih terlalu muda untuk dapat memahami sebuah pernikahan yang bahkan aku tak pernah tau seperti apa dalamnya.