Pena Hitam

Pena Hitam
24


__ADS_3

Jalanan kota Subang siang hari ini begitu padat, membuat kecepatan laju motor terhambat,  debu yang bertebaran masuk melalui celah hidung dan mata, belum lagi cuaca yang sangat cerah membuat matahari seakan berada satu jengkal di atas kepala. Panas, gerah dan juga kesal begitulah yang ku rasakan.


"Ada apa sih ini? Ramai banget tidak seperti biasanya" Aku membuka mulutku, bertanya-tanya atas kemacetan yang sedang terjadi di jalanan yang berusaha ia terobos.


"Wah ada pohon tumbang tuh di depan" Akbar menunjuk kerumunan orang-orang yang sedang berusaha mengangkat sebuah pohon yang menghalangi jalanan utama.


Ia mencoba menerobos padatnya lalu lintas dengan menyalip beberapa angkutan umum serta satu sedan berwarna hitam gelap, tanpa di duga sebuah bis datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.


Akbar tak menghiraukan bis itu, ia hanya fokus ke jalan agar secepatnya melalui kerumunan orang-orang tersebut sehingga motor dapat melaju kembali dengan normal.


Jantungku berdegup sangat kencang, ku tutup kedua mataku seraya mengeratkan pelukanku pada tubuh Akbar, rasa takut mencuat di benakku membuat tubuhku seakan melayang manakala melihat bis yang semakin dekat melaju dengan sangat cepat.


"Aaaaaa"


Aku berteriak dengan keras, seketika bayangan kematian yang mengerikan muncul dengan sendirinya.


Akbar yang membawa motor dalam keadaan mabuk beruntung dapat menghindari tabrakan yang hampir merenggut nyawa kami.

__ADS_1


Namun, kakiku bergesekan langsung dengan ban depan bis sebelah kiri yang membuat kulitku sedikit terangkat. Dengan cepat Akbar membawa motornya ke samping kiri, semua orang menatap kami lega.


Hanya saja aku seakan kehilangan setengah dari kesadaranku, aku membuka mata dengan tatapan kosong dan jantung yang berdegup kencang .


"Aku masih hidup?" Aku menatap Akbar dengan sebuah pertanyaan. Ku lihat Akbar yang begitu khawatir akan keadaanku, tergambar jelas di wajahnya rasa bersalah karena tidak memperhatikan keselamatanku.


"Kamu ngga papa?" Dia meraba kaki kananku, darah hangat menetes dari luka bekas gesekan .


"Aku baik-baik saja, ayo kita pulang" Aku menghiraukan rasa perih di kakiku, bayangan yang baru saja terjadi membuatku enggan menengok luka akibat gesekan tersebut.


"Kita berhenti dulu sebentar" Ia menyalakan sen kiri memberi tanda, lalu berhenti tepat di depan sebuah apotik tak jauh dari tempat pohon tumbang itu tergeletak.


Ia segera bergegas masuk ke dalam apotik untuk membeli beberapa obat antibiotik, alcohol dan perban .


Aku hanya berdiam diri dengan tatapan kosong serta pikiran yang terus melayang pada sebuah kematian, jika sedikit saja ia tak menghindari bis itu mungkin kami berdua sudah mati mengingat jalur sebelah kananpun ternyata sebuah jurang yang cukup dalam, masyarakat bilang kecelakaan hampir setiap minggu terjadi dan hampir semuanya memakan korban jiwa.


"Ayo turun, biar ku obati lukamu" Akbar memegang tangan kananku, membangunkanku dari lamunan, ia menuntunku untuk turun dari motor.

__ADS_1


Entah sejak kapan ia berdiri di sampingku, bahkan aku tidak melihatnya kembali dari apotik tersebut.


Aku segera turun dengan bantuan Akbar, ia membopong tubuhku pada sebuah kursi yang tertera di depan apotik.


Kami duduk bersebelahan, ia mengangkat kaki kananku kemudian menyimpannya di atas kedua pahanya.


" A aw aw, sakit. Pelan-pelan atuh" Aku sedikit membentaknya, padahal ia mengobatiku dengan sangat hati-hati.


"Maaf yaa, sudah membuatmu syok"


Ia menunduk, tatapannya tertuju pada luka di kaki kananku, tangannya dengan cekatan membalut luka itu dengan perban yang ia pegang.


"Aku baik-baik saja, ada hal lain yang membuatku takut selain kematian"


"Apa itu?" Ia mengangkat kepalanya , penuh dengan rasa penasaran.


"Kehilangan kamu, lagi !"

__ADS_1


__ADS_2