Pena Hitam

Pena Hitam
53


__ADS_3

" Sayang bangun".


Suara lembut itu kembali terdengar setelah satu jam lamanya.


"Oh sial, rupanya aku ketiduran". Aku membuka mataku perlahan, Mama duduk tepat di sampingku bersama Doni dan bayi Bintang.


"Tidurmu nyenyak sekali, apa kamu merasa lelah?" . Tanya Doni dengan suaranya yang khas.


"Ah kau ini, tentu saja aku merasa lelah. Seharian ini aku mengurus bayiku juga berbelanja kebutuhan untuk acara syukuran bayi kita, sayang sekali Babe tidak datang. Padahal aku ingin sekali berbagi kebahagiaan dengannya. Hei apa acaranya sudah selesai?".


Aku tersentak dan segera bangun dari tempat dudukku. Tak seorangpun kulihat di sana kecuali Mama dan Doni.


"Dimana yang lain? jam berapa sekarang? apa aku tidur terlalu lama?".

__ADS_1


Aku segera menggendong bayi Bintang yang sedari tadi menangis meminta haknya.


"Ibu mertuamu sedang menyiapkan makan malam di dapur, sedangkan yang lainnya membantu Ibu mertuamu mengantarkan hidangan ke rumah-rumah tetangga. Sekarang sudah jam 7 nak , sudah memasuki waktu sholat isya".


"Apa Mama akan menginap di sini?". Aku memandang Mama yang masih duduk di sampingku.


"Jika kamu menginginkannya".


Hanya Mama yang slalu memahamiku, slalu menemaniku dalam keadaan apapun, Mama slalu berusaha untuk tersenyum, ia slalu menghiburku di kala aku sedih.


"Apa Mama masih marah?".


Rupanya ketidak hadiran Babe dan Aa membuatku sedikit terpukul, aku sangat tau bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa dimana bisa di lakukan tanpa adanya keluarga.

__ADS_1


Tapi aku anak kesayangan babe, aku satu-satunya anak yang slalu mereka banggakan, aku anak perempuan babe satu-satunya. Jelas babe akan slalu menemaniku , apalagi acara penting seperti ini.


"Mama sangat marah dan sedih, tapi Mama mengerti, kesedihan Mama tak sebanding dengan apa yang sudah kamu alami sejauh ini. Mama tau kamu anak yang kuat, jadikan hari kemarin sebagai pelajaran yang paling berharga ya sayang, Mama yakin ada badai yang lebih besar lagi di depan sana, apapun yang terjadi di dalam pernikahanmu, berjanjilah untuk slalu menyelamatkannya, Mama mau yang terbaik buat kamu".


Mata Mama berkaca-kaca. Benar, ketika hatimu terluka akan butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya.


Tidak ada obat untuk sakit hati, kecuali waktu dan keajaiban. Dan kesalahan yang aku perbuat membuat Mama malu dan tertekan, walaupun begitu Mama tetaplah Mamaku, ia tetap berusaha tersenyum di hadapanku, menutupi semua kesedihannya dengan senyuman.


Dan itu adalah cambuk mematikan bagiku, dimana senyumnya tak lagi nyata, ia hanya berpura-pura. Aku rindu mama, rindu keluargaku. Rindu canda tawa mereka, bukan luka dan kesedihan atau sandiwara hanya ingin menutupi kesedihan dengan sebuah senyuman, itu tidak adil.


Ku tatap wajah mama dengan sendu, ku rasakan sesal yang begitu dalam, seandainya takdir baik berpihak padaku, seandainya aku mampu menjaga tubuhku, mungkin semua tidak akan seperti ini. Ku ratapi penyesalan di antara kesedihan dan kekalutan, apa yang ku inginkan sekarang? hanya sebuah kebahagiaan yang nyata.


Lalu, Bintang? terkadang aku begitu marah, bagaimana bisa Tuhan menitipkannya padaku, sedang aku tak pernah siap untuk memilikinya, rasanya begitu naif. Bahkan beberapa kali terlintas dalam benakku untuk menitipkannya di panti asuhan, aku benar-benar tertekan.

__ADS_1


__ADS_2