
Sudah 4 bulan lebih 10 hari aku di rumah mama, tidak ada aktifitas apapun selain berdiam diri, nonton drama korea, membaca beberapa novel karya Tere Liye serta bermain dengan Bintang.
Hari-hari yang membosankan bagi seorang perempuan yang terbiasa hidup di dunia karier, tabunganku mulai menipis, kebutuhan pribadi seperti skincare dan sabun ikut habis, bahkan jatah Bintang satu minggu ke depan sudah ku pakai untuk membeli kebutuhan dapur.
Di tambah lagi Ujian akhir semester yang akan segera di laksanakan satu minggu lagi, sedangkan aku belum memegang uang sepeserpun. Keadaan sontak membuat ku setres. Tak mudah menjadi seorang single parent tanpa pekerjaan tetap dengan menghidupi seorang balita.
"Masa iddahku sudah habis, apa aku sudah boleh keluar rumah?" Aku bertanya pada kakak tertua ku yang begitu faham akan aturan agama.
Mereka sudah mengetahui bahkan menyetujui perceraianku yang kedua, adalah Mama orang yang paling bahagia mendengar perceraianku, ia sangat tidak menyukai pria itu karena kelakuannya yang menurutnya sangat buruk.
"Kau boleh keluar rumah sekarang. Jaga kepercayaan mama dan papa, jangan sampai mereka kecewa untuk yang kesekian kalinya, aa malah berharap untuk saat ini kamu tidak dekat dengan pria dulu, fokus saja untuk kuliahmu, aa akan bantu sebisa mungkin"
Aku mengangguk tanda faham, lagipula perasaanku seperti mati, bagaimana bisa aku mencintai pria baru dengan mudah.
***
Di tengah kejenuhanku, aku mencoba menghubungi siapa saja yang bisa membawaku keluar dari kebingungan ini.
Akhirnya..
"Ada lowongan kerja nih di tempatku, mau di isi ngga?" Pesan masuk dari Seni, Seni adalah teman dekat Erika, Erika yang mengenalkannya padaku tempo hari.
Akupun segera berkemas untuk melamar kerja di tempat Seni. Mereka sangat membutuhkan karyawan, sehingga tak sulit bagiku untuk masuk ke tempat Seni bekerja.
Karena aku tak memiliki uang yang cukup untuk menyewa kos, akhirnya aku meminta tolong kepada Seni agar aku ikut tidur di kos nya hingga aku menerima gajih pertama. Seni pun menyetujuinya.
Hari minggu pertama aku bekerja, ku habiskan untuk bermalas-malasan di kamar.
TRING
Suara ponsel berbunyi. Membangunkanku dari lamunan.
"Ah bikin kaget saja" Benakku, segera ku ambil ponsel untuk mengecek siapa yang sudah mengirimku pesan sepagi ini.
"Secilia Calysta" Akbar mengirim ku pesan lewat aplikasi Messanger.
DEG
__ADS_1
Jantungku berdebar sangat kencang, tubuhku bergetar hebat, pikiranku semakin tak karuan. Entah bahagia atau sedih, rasa itu berkecambuk dalam hati dan pikiran sehingga membuatku mengeluarkan keringat dingin di seluruh tubuhku.
"Ada apa?" Tanyaku ketus.
"Jutek banget sih, aku mau nanya nih" Balas Akbar yang sepertinya sangat serius.
"Oh, nanya apa? Cepet , aku gada waktu! " Kembali ku jawab dengan sinis, aku tau pasti bagaimana pandangan seorang Janda di mata orang-orang , apalagi Akbar sudah menikah dan memiliki seorang anak.
Di katai sombong akan jauh lebih baik daripada menimbulkan pertengkaran antara Akbar dan Istrinya, apalagi istrinya tau betul hubungan kita di masa lalu.
"Aku tau kamu pernah sakit hati sama aku, tapi ga gini caranya dong ! Ngapain kamu kirim pesan neror Istriku?" Pertanyaan Akbar membuat ku kaget sekaligus kesal.
Sudah hampir 5 tahun lamanya aku tak mendengar kabar tentang Akbar, ia seperti hilang di telan bumi. Terakhir kali bertemu ketika usia Bintang menginjak 6 bulan, saat itu perayaan hari raya Idul Fitri Doni mengajakku untuk merayakannya di rumah mamanya, meski hanya sekilas tapi pertemuan yang tak di sengaja itu cukup ampuh membuatku selalu mengingatnya.
Dan pagi ini ia kembali mengirim sebuah pesan lewat angin, kehadirannya membawa rasa gembira tersendiri di benakku, meski aku menyadari raganya kini milik perempuan lain yang sama sekali tak ku kenal bahkan tak ingin ku kenal.
Dalam pernikahannya Akbar sudah menemukan kebahagiaan ia telah di karuniai seorang anak, anak laki-laki yang gagah juga tampan. Pekerjaan yang mapan juga istri yang selalu setia mendampinginya.
Hari ini sejarah kembali terulang, manakala masa lalu yang belum terpecahkan seolah menemukan titik temu, sebuah jawaban dari ribuan pertanyaan yang bertahun-tahun ku simpan.
Jujur, dia sudah tidak menarik lagi bagiku. Hanya saja rasa ingin tau ku yang tinggi membuatku meresponnya dengan sangat baik.
"Lalu siapa? Yang memiliki poto kita bersama kan cuman kamu dan aku" Ia tetap bersikeras menuduhku, bukankah itu aneh. Kita bahkan tidak berkomunikasi satu sama lain sejauh ini, tiba-tiba ia datang padaku hanya untuk menuduhku.
Aku mencoba meluruskan kesalah fahaman ini, ku yakinkan dia atas ketidaktauanku . Ku pikir dengan begitu ia akan mengerti dan tidak mencoba menghubungiku lagi.
"Bagaimana keadaanmu? Apa pernikahanmu baik-baik saja?" Ia kembali melayangkan pertanyaan setelah ku jelaskan tuduhan yang ia berikan padaku, sepertinya ia mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam rumah tanggaku.
"Aku baik-baik saja dan selalu dalam keadaan yang baik, ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Aku bertanya sekali lagi berharap ia tidak melayangkan pertanyaan apapun yang akan menjadi alasan adanya percakapan antara aku dan Akbar.
"Tidak ada, hanya saja aku ingin bercerita banyak hal. Tapi sepertinya kau takut suamimu menjadi salah faham karena percakapan kita"
Penuturan nya membuatku penasaran, apa yang ingin ia ceritakan adalah apa yang ingin ku dengar. Aku menebak apa yang sedang ia pikirkan, memangnya apa lagi yang ingin ia ceritakan kalo bukan perjalanan hidup bersama istrinya.
"Aku sudah tidak memiliki Suami Akbar, kami sudah bercerai 4 bulan yang lalu" Entah kenapa rasanya ingin sekali aku memberitahunya jika aku sudah kembali melajang setelah pernikahanku yang gagal dan berantakan kemarin.
"Oh ya ampun maafkan aku. Aku juga sama, hubungan kami sedang retak bahkan sepertinya aku ingin mengakhirinya" Percakapan kami semakin menarik, bukan lagi masalalu yang kami bahas tapi kehidupan pribadi yang tidak seharusnya ia ceritakan pada orang lain.
__ADS_1
"Kenapa ? Bukankah kau sudah memiliki segalanya? Bagaimana dengan anakmu?" Aku mencoba untuk peduli , aku mengerti jika saja ia merasa bimbang, karena jauh sebelum ia bercerita akupun ada di posisi yang sulit sama seperti dia satu-satunya yang membuat kami bertahan di dalam sebuah pernikahan adalah seorang anak.
"Ya tentu saja. Namun, Istriku tak pernah mengurusku dengan baik, bahkan ia sangat berani menentangku, ia sibuk bekerja sedangkan anakku , Ibu yang mengurusnya. Tidak hanya itu, keluarganya bahkan banyak yang menyimpan iri dan dengki padaku , istriku juga memperlakukan Ibuku dengan sangat buruk . Itulah sebagian dari banyaknya alasan mengapa aku ingin sekali mengakhirinya" Pernyataan Akbar seketika membuatku tersadar akan sosok Doni, mungkin itu juga yang menjadikannya alasan mengapa ia berani mengkhianatiku.
"Bagaimana denganmu ? Anakmu perempuan. Bagaimana bisa kau begitu egois membiarkan rumah tanggamu hancur berantakan? Apa kau tidak kasian kepada anak perempuanmu?"
JLEB
Pertanyaan Akbar seketika membuat hatiku remuk, seandainya aku bisa memaafkan Doni dengan mudah. Namun, kenyataannya tidak ada kata maaf untuk seorang penghianat yang sudah berkali-kali ku beri kesempatan.
"Aku tidak semudah yang kau bayangkan, kau hanya mampu menilaiku tapi kau tidak bisa merasakan apa yang sudah ku rasakan, untuk itu rasanya kita tidak perlu membahas ini lagi" Aku menutup pembicaraan, memilih untuk tidak membahas luka yang sudah ku kubur dalam-dalam.
"Kau tau? Bahkan ketika kami tidur pikiranku hanya tertuju padamu. Aku menikahi raganya tapi entah mengapa aku tidak pernah bisa mencintainya seperti aku mencintaimu". Penuturan Akbar tentu membuat hatiku melayang namun juga risih, bagaimana tidak? Ia menceritakan sesuatu yang sangat sensitif , jika saja istrinya membaca pesan itu mungkin hatinya akan sangat tercabik-cabik.
Ingin sekali aku mengutarakan hal yang sama, bahwa aku pun merasakannya, aku juga tak dapat mencintai Doni sedalam aku mencintai Akbar. Memang sedikit naif tapi begitulah kenyataannya.
"Haha kau ini, sudahlah nanti istrimu marah" Aku mengingatkannya agar ia tidak berbicara terlalu dalam mengenai hubungan kami di masa lampau.
"Dia tidak akan marah, dia juga tidak peduli padaku. Bahkan aku sekarang hampir tidak pernah pulang untuk menemuinya. Yang ia tau hanya uangku bukan diriku, ia tidak pernah bertanya mengapa aku tak pernah pulang. Bisakah perempuan seperti itu ku panggil istri?" Akbar melontarkan pertanyaan yang justru membuatku kikuk.
"Aku mengerti perasaanmu, masalah kita memang tak sama. Yang menurutku sulit belum tentu sulit bagimu, yang menurutku mudah juga belum tentu mudah bagimu, begitupun sebaliknya. Untuk itu aku tidak akan berkomentar apapun untuk masalah ini" Aku mencoba menghiburnya sebagai seorang teman bukan mantan atau apapun itu. Aku benar-benar tulus mendengarkan keluh kesahnya.
Sejak beberapa bulan kehadirannya di dunia Maya, rupanya rasa penasaran telah menghantuinya. Ia terus menerus menghubungiku dengan berdalih mereka sudah pisah ranjang. Beberapa kali ku ingatkan agar dia tak menggangguku atau muncul kembali di dalam kehidupanku.
Kesedihan yang ku rasakan setelah perceraian ku dengan Doni masih membekas di hati dan pikiranku. Meski tak dapat ku pungkiri aku merasa bahagia sekaligus sedih dengan kehadiran Akbar kembali.
"Ku mohon, biarkan aku menjadi pendengarmu, biarkan aku menjadi teman yang akan slalu menemanimu. Aku janji ketika kau temukan kebahagiaanmu, aku akan pergi". Akbar terus menghubungiku, meski tak satupun pesannya ku balas.
Beberapa kali aku mengingatkannya agar ia tak menghubungiku lagi. Namun, aku tau pasti bagaimana sifatnya, ia tidak akan menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ia selalu mampu meyakinkanku, seluruh waktunya ia berikan padaku, tak ada satupun hari yang ia lewatkan untuk menghubungiku, bahkan ketika ia pulang ke rumah, seolah ia telah menemukan kebebasannya. Aku mempercayai nya begitu saja, ia memberikan pundaknya untukku bersandar. Ia menjadi obat penenangku di kala gundah, tak ada lagi kesedihan yang ku rasakan, semua hanya tentang Akbar. Ia telah kembali merasuk ke dalam hati dan pikiranku dan bersemayam di sana.
Ku biarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, seperti masa-masa terindah ketika kami duduk di bangku SMA, semua terulang kembali. Ya , aku bahagia. Sangat bahagia, tak dapat ku gambarkan lagi kebahagiaan yang tengah ku rasakan.
Setiap ia libur bekerja, ia akan mengunjungiku. Bahkan beberapa kali ia pernah bolos bekerja demi untuk menemaniku . Terkadang aku yang mengunjunginya untuk sekedar mengajaknya nonton atau jalan-jalan di mall yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor tempatnya bekerja. Hubungan kita berjalan normal hingga berbulan-bulan lamanya malah tak jarang pertemuan kita berakhir di ranjang.
Aku begitu menikmatinya, ia benar-benar membuatku mabuk kepayang. Rasanya aku tak ingin jauh darinya. Ia sangat mengertiku , bahkan aku menjadi prioritas di dalam hidupnya.
__ADS_1