
Aku tak memperdulikan apapun lagi , mendengarkan kata hati adalah yang terbaik. Ketika bertanya pada orang lain akan ada banyak jawaban yang membuatku tambah terpuruk atau bisa jadi lebih buruk daripada itu semua.
Aku mendapatkan jawabannya dengan caraku sendiri, melihat keadaan Bintang yang seperti itu membuatku lemah, aku harus menyingkirkan ego demi masa depannya.
Doni kembali menemuiku ia menceritakan semua yang terjadi pada Bintang hari itu, aku begitu terpukul. Aku tak pernah mengajarkannya membenci siapapun, mungkin ikatan batin atau rasa sakit yang ku rasakan lah yang membuatnya merasa tak nyaman akan sosok ayah yang menemuinya .
Aku segera pulang menemuinya, ku lihat ia sangat bahagia dengan kedatanganku. Aku memeluknya memberikan sebuah kado yang membuatnya bahagia, ia bahkan tak melepaskan genggaman nya walau untuk sesaat.
"Jangan pelgi lagi" Suaranya sangat lembut, ia terlalu cepat tumbuh hingga aku tak menyadarinya.
"Siapa yang mengajarkanmu berbicara seperti itu nak?" Aku tersenyum menatapnya, ada rasa haru sekaligus bangga.
__ADS_1
Ia bayiku, secepat ini ia tumbuh. Waktu berjalan sangat cepat, bahkan aku baru menyadari ia berbicara layaknya orang dewasa.
Ku lihat ia menahan tangis, matanya berkaca-kaca. Namun, ia balita hebat bahkan tak mau memperlihatkan kesedihannya pada orang lain.
Aku mengangguk tanda setuju, entah apa yang aku pikirkan. Menghiburnya atau malah perlahan melukainya, membodohinya dengan berpura-pura mengikuti keinginannya.
"Mama bilang Bintang anak yang hebat, ngga rewel. Wah anak solehah, terus kata Mama kemarin adek bertemu ayah juga ya?" Aku membelai rambutnya, agak sulit memang memberikan sebuah pemahaman tentang sebuah perceraian pada anak berusia 2 tahun.
"Ayah gakan pulang ke sini lagi ya, jangan nanyain apapun soal Ayah. Nanti kalo adek udah gede adek pasti ngerti" Rasanya ingin menjerit sejadi-jadinya. Ada rasa sesal setelah ku katakan kegagalanku pada anak yang justru tak mengerti apapun yang ku katakan.
"Gamau" Kedua tangan mungil itu memelukku erat, ia menangis di pangkuanku.
__ADS_1
Betapa sulitnya memperlihatkan ketegaran kepada buah hatiku.
Usia hanyalah angka, buktinya ia memahami setiap kalimat yang ku lontarkan. Aku cukup egois akan hal ini.
Doni kembali mendatangiku, kali ini ia meminta maaf kepada keluargaku ia juga hendak menjemputku. Keluargaku hanya menatapku tak suka, tapi tak banyak hal yang perlu ku lakukan aku hanya memikirkan Bintang, ia yang masih memerlukan aku dan Doni sebagai orang tua yang utuh. Aku menyetujui untuk kembali padanya, keluraga ku tampak kecewa terlebih Papa ia sangat tidak menyukai Doni dan keluarganya sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.
Kali ini aku tidak peduli apapun yang mereka katakan aku akan bertahan untuk Bintangku, tak peduli seberapa banyak luka yang Doni berikan padaku.
Aku kembali resign dari pekerjaanku, karena jarak antara tempat Doni dan aku cukup jauh, tidak memungkinkan untukku tetap bekerja.
Mama sudah terbiasa dengan Bintang, ia melarangku untuk membawa Bintang bersamaku, aku pun tak masalah karena dengan begitu aku bisa kembali mencari pekerjaan yang lebih untuk biaya kuliah juga biaya hidup sehari-hari untuk Bintang.
__ADS_1
Ketika kembali memutuskan untuk berumah tangga, segalanya akan memulai lagi dari nol. Ekonomi, kebiasaan, bahkan perasaan.