Pena Hitam

Pena Hitam
74


__ADS_3

Doni menghampiriku dengan wajah cemas, langkahnya ia percepat, sedangkan aku mematung di tempatku duduk menahan amarah yang bergejolak. Perempuan itu memperhatikan ku sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


PLAAAAK


Satu tamparan keras melayang di pipinya, semua orang menoleh ke arah ku , aku tak mempedulikan mereka, aku meluapkan amarah, menendang kursi yang terbuat dari pelastik dan memukul etalase di depanku dengan bayi Bintang yang ku gendong erat. Entah darimana datangnya aku seperti memiliki kekuatan super yang sulit untuk di kendalikan.


Aku berteriak seperti orang yang kesetanan. Doni segera membawaku pergi sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparanku.


"Ada apa sih.. Ada apa sih.. Eh kenapa tuh.. kepergok slingkuh tuh.. Duh kasian yah istrinya" Ku dengar suara di keramaian , mereka saling berbisik satu sama lain.


"Kamu ngapain ke sini? kenapa marah-marah di tempat umum?" Pertanyaan Doni membuatku semakin naik pitam.

__ADS_1


"Kau, sumpah demi Tuhan aku tak iklas sedikitpun. Aku berdoa siang dan malam meminta padaNya agar semua yang kita alami segera berlalu, lalu ini balasan yang kau beri padaku? sungguh aku menyesal , aku bersumpah kau akan jatuh" Tak sadar aku melakukan sumpah yang ternyata menjadi kenyataan. Aku menangis sejadi-jadinya, aku segera pulang ke rumah Mama bersama Bintang yang ikut menangis. Aku meninggalkan Doni yang mematung di tempat ia berdiri.


"Ibu baik-baik aja nak, kita akan hidup berdua mulai sekarang. Jangan bertanya apapun tentang Ayah yah" Ia seakan mengerti apa yang sedang terjadi kepada kedua orang tuanya. Ku ciumi Bintang ku elus kepalanya agar ia tenang.


**


"Haaaah Resign? kok mendadak sih? ga bisa gitu dong. Kamu harus ngajarin dulu yang baru ga bisa seenaknya keluar tanpa pengganti" Seorang wanita paruh baya membaca surat yang ku berikan , sesekali matanya menatap mataku yang sembab penuh dengan rasa kecewa.


"Baiklah sekarang kamu kembali bekerja, biar saya pertimbangkan ini dulu, mudah-mudahan kamu di perbolehkan resign tanpa menunggu seorang pengganti"


"Baik Bu, terima kasih sebelumnya" Aku segera keluar dari ruangan HRD dengan dada yang masih terasa sesak.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama seseorang keluar dari ruang HRD menyusulku untuk memberikan berkas kontrak kerja yang harus di tanda tangani beserta sisa gajih , tanpa basa basi aku segera mengambilnya, secepatnya menandatangani lalu pergi.


Dengan uang sisa yang ku miliki aku bertahan hidup tanpa Doni, aku memilih untuk mengakhirinya. Entah ini sebuah pengorbanan atau keegoisan yang jelas kelakuan Doni membuatku jengah dan memilih pergi meninggalkannya dengan segala keberhasilan yang telah ia raih.


Aku bertekad untuk pergi ke Ibu kota Jakarta tempat Papaku di lahirkan untuk menenangkan hati dan pikiran, sekaligus menghindari Doni . Aku tau pasti ia takan semudah itu melepaskanku. Bintang ku titipkan bersama Mama dengan segala kebutuhannya , aku kembali merantau dengan beberapa baju ku bawa di tangan kananku dan berkas lamaran bermodalkan ijazah MA yang ku pegang di tangan kiriku berharap di sana akan bertemu orang-orang baik yang sudi menerimaku bekerja tanpa keahlian apapun yang ku miliki .


Aku tinggal bersama keluarga besar babe , mereka menerimaku dengan sangat baik meski aku bertemu mereka hampir 3 tahun sekali karena jarak yang memang tidak memungkinkan untuk berkunjung.


Berbulan bulan lamanya aku tinggal di rumah paman, rupanya hidup di Ibu Kota sangatlah keras. Mencari pekerjaan tidak semudah yang ku bayangkan.


Aku berjalan berkilo-kilo jauhnya, ku susuri setiap tempat berharap segera mendapatkan pekerjaan. Dari toko hingga ke perumahan, tak apa menjadi buruh cuci asal segera mendapatkan pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2