Pena Hitam

Pena Hitam
35


__ADS_3

Interview telah selesai di laksanakan, pihak HRD memanggil kepala produksi menggunakan telepon genggam untuk menjemputku di kantor.


Tak lama, masuk seorang perempuan bertubuh tinggi, namun tingginya tak melebihi tinggi badanku, mengenakan kerudung berwarna merah dengan switer merah dan celana jeans hitam yang membentuk tubuhnya dengan sempurna.


"Ini mih, orang yang akan bekerja di bagian sempel" HRD itu menunjukku seiring dengan wajah perempuan berkerudung merah yang menatap lekat ke arahku, orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Mamih.


Aku tidak begitu mengerti kenapa juga ia di panggil mamih, sudah seperti seorang ger*o saja, padahal dari raut wajah dan penampilan nya tak sedikitpun menunjukan seorang ger*o, mungkin karena ia sudah menikah ? memang sih ia sudah menikah bahkan anaknya seusiaku , tapi sumpah orang ini terlihat lebih muda dariku, bahkan aku tidak menyangka jika ia memiliki seorang anak laki-laki seusiaku.


Untuk yang pertama kalinya aku bekerja di sebuah pabrik, ini benar-benar aneh, ku pikir menjadi seorang buruh pabrik sangatlah mengerikan, nyatanya tidak seburuk itu. Kalo di jaman sekarang buruh pabrik menggunakan seragam, jamanku tidak. Kami memakai apapun yang membuat kami nyaman ketika bergerak, ada yang menggunakan kemeja, kaos oblong bahkan daster dengan sandal capit yang menghiasi kaki telanjang kami.

__ADS_1


Tak hanya itu, kami di beri kebebasan untuk makan di jam kerja, kalo jaman sekarang semua pabrik sangat disiplin, bahkan minumpun sepertinya hanya boleh air putih saja. Di masa itu, pabrik seperti pasar dimana di dalamnya banyak sekali orang yang membawa makanan atau cemilan ke dalam pabrik untuk kemudian mereka jual. Makanya, di masa itu tidak ada karyawan yang sakit karena kelaparan, atau memiliki riwayat magh akut.


"Ini kerjaan kamu, mamih sudah menyuruh Meri untuk mengajarkan dan memberitahu apa saja yang harus kamu kerjakan" Ia meninggalkanku pada sebuah ruangan yang sangat besar, di antaranya berjejer kursi dengan meja yang terbuat dari kayu.


Ruangan yang sama persis dengan ruangan sekolahku dulu, dimana pada setiap baris tertera sebuah kursi lalu di depannya sebuah meja.


"Loh Riani, ko bisa aku satu pekerjaan dengan Riani?" Batinku sedikit tersentak, ada perasaan senang sekaligus tidak percaya. Suatu kebetulan kah? ah masa bodo lah yang penting aku kerja dengan teman satu kamarku itu, kan enak tidak harus bersosialisasi dengan partner kerjaku karena kami sudah saling mengenal satu sama lain, walaupun tidak sedekat aku dan Azmi atau aku dan Farina.


"Hayu, biar ku kasih tau kerjaan kamu apa aja" Ucap Riani, ia menggandeng tangan kananku sedikit menyeretku untuk ikut dengannya.

__ADS_1


"Kok aku bisa satu bagian sama kamu?" Tanyaku penasaran.


Ia hanya tersenyum sinis, entah memiliki dendam apa ia terhadapku, dari raut wajahnya ia tampak tak begitu senang dengan kehadiranku.


"Ya mungkin kebetulan" Jawab Riani singkat.


"Oh ya, ini yang harus kamu kerjakan" Ia menunjuk tumpukan baju dengan debu yang berterbangan.


Di hari pertama bekerja, perasaan jenuh dan bosan juga kantuk yang terus menyerang membuatku tak betah, belum lagi aku harus bersosialisasi dengan seniorku, tidak mungkin kan aku hanya mengenal Riani saja di sini?

__ADS_1


__ADS_2