
Waktu sudah menunjukan pukul 11.30 , seharusnya Akbar sudah datang dari tadi, aku mulai khawatir mengingat dia tidak tau daerah ini.
" Kring kring" Ponselku berbunyi memecah kekhawatiranku.
" Kamu dimana? ya Tuhan, kamu membuatku khawatir" Tubuhku bergerak tak beraturan, kadua kakiku berjalan kesana kemari mondar mandir tak tentu arah, merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
"Apa kau sedang menungguku? apa kau begitu menghawatirkanku?" Tanya Akbar, suaranya tampak serius.
" Tentu saja, aku tak ingin kehilanganmu lagi" Aku terdiam beberapa saat. Seluruh tubuhku bergetar menahan sesak. Butiran air bening terasa hangat membasahi kedua pelupuk mataku .
Ini adalah air mata kebahagiaan, bahagia yang bercampur dengan luka, luka yang telah membuatku merasakan kerinduan yang sangat dalam.
Aku berdiri di depan pintu kantor, membelakangi jalanan setapak yang menghubungkan ruangan depan kantor dengan taman yang luas dan bunga mawar putih menghiasi keindahan taman.
"Jangan pergi lagi" Isak tangis menghiasi wajahku, entah apa yang harus aku lakukan agar ia tetap di sampingku, menemaniku hingga tua nanti, ya sedikit berlebihan tapi hatiku telah sepenuhnya menjadi miliknya .
Telponnya masih terhubung tapi tak ada jawaban apapun dari Akbar, hanya hening.
"Jangan menangis, kau terlihat sangat jelek" Suara yang tak begitu asing di telingaku.
Aku membalikan badanku, menengok ke belakang untuk mencari sumber suara, seorang pria sedang berdiri tepat 10 langkah di belakangku, menatap punggungku dengan lembut.
"Akbar" Aku berlari ke arahnya, ku peluk erat tubuhnya.
"Hei, hei. Lihat aku ! aku di sini, jangan menangis lagi. Maafkan aku sudah menyakitimu, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi" Ia melepas pelukanku, ia menatap tajam kedua bola mataku.
"Janji?" Tanyaku, dengan tatapan penuh ketakutan, takut akan kehilangannya lagi, setelah beberapa bulan yang lalu ia meninggalkanku untuk perempuan lain.
"Iya aku janji, ini hadiah untukmu" Ia memberikanku sebuah kotak berisikan boneka teddy bear mini berwarna pink lengkap dengan bunga mawar merah dan cokelat di dalamnya.
"Untukku? darimana kau tau aku menyukai semua ini?"
"Kau istimewa, apapun tentangmu aku mengetahuinya" Ia tersenyum menggodaku.
Aku segera mengambil tasku , karena hari ini hari sabtu maka aku hanya bekerja setengah hari saja.
__ADS_1
"Lihat dirimu, kau terlihat kurus. Apa kau baik-baik saja?"
Kami berjalan ke area parkir, untuk mengambil motor metic biru milik Akbar.
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja tanpa kamu" Aku menggandeng tangan nya, rasanya aku tak ingin melepaskannya.
Akbar menyalakan stater motor meticnya, dengan perlahan kami berjalan menuju kosan yang tak jauh dari kantor tempatku bekerja .
" Itu kosanku " Sambil menunjuk ke arah kos-kosan dengan cat hijau tosca yang terhalang pagar tinggi bercat hitam.
Tidak ada siapa-siapa di pos satpam, mungkin penjaga kos sedang keluar. Aku segera turun dari motor lalu berjalan perlahan untuk membukakan pintu gerbang .
Dari dalam Farin berjalan ke arahku dengan setdress dan high heels berwarna hitam yang ia kenakan. Di belakangnya ada Reno mengikutinya.
"Kalian mau kemana?" Tanyaku pada Farin dan juga Reno.
"Mau balik lah, semalam Mama telpon, katanya ada hal yang perlu di bicarakan" Kata Farin, ia terlihat serius dengan menunjukan raut wajah yang tegang.
"Oh pantesan tadi pagi mandi biasanya kan engga, hehe" Aku berbisik tepat di telinga kanan Farin.
"Ya udah sana, kalian hati-hati. Kabarin begitu sampai rumah yaa.." Aku melambaikan tangan pada Farin dan juga Reno, mereka segera berlalu meninggalkan ku dan Akbar di depan kosan.
" Ayo masuk" Aku mempersilahkannya masuk, sembari berjalan menggandeng tangannya.
Akbar membuka sepatu dan menaruhnya di samping pintu, aku mempersilahkannya duduk dan mengambil minum.
" Sudah sore , kamu menginap di sini saja , aku khawatir kalo kamu pulang sekarang, di sini rawan" Kataku.
" Memangnya tidak apa-apa?" Kata Akbar.
" Tidak apa-apa ko, ada 2 kamar di sini, nanti kamu bisa tidur di kamar ku, biar aku tidur di kamar Farin.."
Kataku.
Tak terasa waktu sangat cepat berlalu, matahari mulai terbenam, langit mulai gelap dan semua terlihat sunyi.
__ADS_1
" Sudah larut malam, aku mau tidur , kamu tidur di kamar sebelah ya" Kataku.
" Mau kemana?" Akbar menarik tanganku.
" Aku lelah, kamu juga harus tidur besok kamu harus pulang , dan perjalanan cukup panjang, jangan sampai kamu ngantuk di perjalanan" Aku mengusap pucuk kepalanya dengan penuh perhatian.
" Tidur di sini saja, bersamaku. aku tidak akan melakukan apapun"
Aku mengangguk mengiyakan ajakannya, dia memelukku dan mencium keningku. Ini adalah kali pertama aku tidur bersamanya dan kali pertama juga dia mencium keningku, aku menghembuskan nafas seperti ada yang melayang di dalam jiwaku , jantungku berdebar sangat kencang, aku memejamkan mata , tidur di atas dadanya yang kekar, aku memeluknya dengan sangat erat, tangan nya terus membelai rambutku.
" Maafin aku ya" Katanya.
" Untuk apa?" Tanyaku.
" Untuk setiap kesalahan yang pernah aku lakukan".
" Aku mengerti, sekarang tidurlah sudah malam". Aku masih memejamkan mata.
Dia mengangkat kepalaku, mencium bibirku dengan sangat lembut, aku membalas ciumannya, entah kenapa air mataku berlinang tak bisa di tahan rasanya begitu menyakitkan .
" Kenapa?" Ia melepaskan ciumannya.
" Aku takut kamu pergi lagi" Kataku dengan nada yang manja.
" Kamu harus tau ketika aku pergi, aku akan selalu kembali". Ia mencium keningku.
" Berjanjilah untuk slalu bersamaku"
" Iya , aku janji, nanti saat kamu pulang aku akan mengenalkanmu dengan kedua orang tuaku.."
" Selamat malam Akbar" kataku sambil memeluk erat tubuhnya.
Tentu saja aku mempercayainya , dia Akbar ku, aku mencintainya lebih dari apapun, hanya dia yang aku mau.
Kami terlelap, malam ini seperti sejarah terulang, kisah hari kemarin yang belum usai, menyatukan rindu yang menggebu.
__ADS_1