Pena Hitam

Pena Hitam
76


__ADS_3

"Jadi siapa namamu?" Tanya perempuan separuh baya itu , perempuan dengan sejuta karismatik itu menatapku dengan tajam Aku sedikit menunduk di buatnya.


" Sa sa saya, Naura Bu" Dengan gugup aku menaruh berkas lamaran yang ku bawa tepat di hadapanku.


Perempuan itu adalah pemilik sekolah sekaligus kepala sekolah di sana, bernama lengkap Nadia Aprilia tanjung, orang-orang biasa memanggilnya Bu April.


"TK Islam Ar-Rahman" Begitulah tulisan yang terpampang dengan jelas di setiap pintu masuk kelas.


"Saya tidak bisa menggajih kamu dengan upah yang besar. Karena sekolah inipun baru jalan sekitar 5 tahun, saya hanya mampu memberikan upah sebesar 350rb saja, bagaimana? apa kamu masih bersedia mengajar di tempat saya?" Ia membuka berkas yang ku berikan tadi, ia baca satu persatu lembaran kertas tersebut dengan wajah yang serius.

__ADS_1


Tidak ada waktu untuk menolaknya, sudah terlalu lama aku menumpang hidup di rumah paman. Meski aku menyadari uang 350rb untuk satu bulan rasanya mustahil akan cukup untukku.


Namun, di sisi lain menjadi Guru adalah cita-citaku sejak kecil, merupakan suatu kehormatan untukku ketika seseorang memintaku untuk mengajar di tempatnya, sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.


"Itu tidak masalah untuk Saya Bu, yang terpenting buat Saya, secepatnya saya mendapatkan pekerjaan"


"Apapun yang terjadi di dalam hidupmu, tetaplah menjadi dirimu sendiri, sedalam apapun luka di masalalumu, seburuk apapun kamu di masa itu buatlah dirimu menjadi lebih baik lagi karena balas dendam terbaik itu adalah ketika kamu menjadikan dirimu lebih baik lagi, saya mengerti kesedihan kamu meskipun kamu tidak menceritakan apapun kepada saya. Saya akan menjadi pendengar kamu kapanpun kamu siap untuk bercerita kepada saya, karena tidak ada yang kebetulan di dalam hidup ini. Tuhan menggerakan kaki saya untuk bertemu kamu, Ia mengatur semua yang ia kehendaki, teruslah dekati TuhanMu, maka kebahagiaan akan menjadi milikmu". Bu April tersenyum padaku, ia seperti sebuah cahaya yang masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap, membuatku bernafas lega, seperti kekuatan kembali ku dapatkan.


Ia juga orang nomor satu teraktif di dunia Pendidikan, ia menjunjung tinggi harkat dan martabat serta melindungi hak dan kewajiban anak-anak dan perempuan.

__ADS_1


Ia bilang "Perempuan itu harus tenar, dan tenar itu terbagi ke dalam dua bagian, sensasi dan prestasi. Maka sebagai perempuan yang hebat menjadi tenarlah karena prestasi jangan karena sensasi". Kalimat itu menggema sangat jelas di telingaku, hingga sampai ke relung hatiku yang paling dalam, sebuah motivasi yang slalu ku ingat sepanjang hidupku.


Bu April perempuan hebat, ia memiliki kecantikan yang abadi , kebaikannya terhadap semua orang yang ia temui membuatnya terlihat sangat sempurna.


Namun, jauh di dalam dirinya tersimpan banyak rahasia yang tidak satupun orang tau. Ia memiliki masalalu yang buruk, bahkan hampir meninggal di usia yang sangat muda.


Tuhan menuntunnya untuk hijrah hingga ia temukan banyaknya kebahagiaan di dalam hidupnya, ia slalu berusaha untuk berbuat baik kepada stiap orang, ia percaya jika bahagia itu sangatlah sederhana , yaitu ketika dapat bermanfaat untuk orang lain.


"Mari Bu , saya kenalkan kepada anak-anak dan Guru-Guru yang lain" Ia berdiri tegak lalu berjalan menuju kelas, aku mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Halooo selamat pagi anak-anak, apa kabarnya hari ini? kita kedatangan bu Guru baru lohh, namanya siapa yaaaah? eh coba dong bu Guru kenalin namanya siapa? semuanya pada diam yaaa jangan ada yang berbicara" Bu April berdiri di depan kelas, semua mata anak-anak polos itu tertuju padanya, mata-mata bening tanpa dosa, memandangnya berlama-lama membuat hatiku merasa tenang.


Semua diam seketika tak ada satupun suara yang keluar dari mulut mereka.


__ADS_2