Pena Hitam

Pena Hitam
97


__ADS_3

Semakin dalam rasaku tumbuh, semakin besar keinginanku untuk memilikinya sepenuhnya.


"Benarkah dia sudah pisah ranjang?" Logika ku mulai berfungsi rupanya.


"Bagaimana bisa seseorang yang sudah berpisah ranjang masih pulang dan satu rumah dengan istrinya?" Pikiran burukku mulai menghantuiku.


"Bagaimana jika ia berbohong? bagaimana jika aku hamil dan dia kembali meninggalkanku untuk bersatu dengan istrinya?" Seketika kegelisahan ku rasakan, manakala perlahan ia mulai berubah.


Hubungan kami kembali berjalan 9 bulan lamanya, bagaimana bisa ia pisah ranjang tapi tak pernah membahas apapun soal perceraiannya, bahkan aku tidak tau kapan ia sidang.


Sejak kemarin siang ia tak menghubungiku, ia pun terkesan cuek beberapa hari ini tidak seperti biasanya. Aku mencoba untuk menghubunginya untuk mengusir pikiran buruk yang terus menggangguku.

__ADS_1


"Jangan mengganggu suamiku" Belum sempat ku mengirim pesan, satu pesan baru telah masuk, dengan poto propil keluarga kecil bahagia yang terdiri dari ayah , ibu dan anak laki-laki.


"Astaga ini Akbar, siapa perempuan ini? apa ini istrinya?" Pikiranku semakin tak karuan, sedih, kaget dan tak percaya atas apa yang ku baca beberapa detik yang lalu.


"Suamimu sendiri yang datang padaku, aku tidak pernah mengganggunya" Aku membalas pesan itu dengan air mata yang mengalir , aku sadar aku telah terjebak pada orang yang salah hingga akhirnya ku beranikan diri untuk membalasnya dengan amarah yang memuncak.


"Jika saja tak kau beri harapan mungkin semua tidak akan terjadi, berhenti mengganggu keluarga kami". Ia kembali membalas pesanku dalam beberapa detik.


"Perempuan murahan" Kalimat yang akan selalu menggema di pikiranku. Kalimat terakhir yang tak ingin ku balas. Aku benci Akbar, seharusnya aku tak mempercayainya lagi.


Hari itu seperti kehancuran kembali ku rasakan, baru saja kebahagiaan ku dapatkan kini harus ku telan kepahitan (lagi).

__ADS_1


Perasaanku sangat hancur, bahkan ada banyak ketakutan di benakku, bagaimana jika aku hamil? Hamil dari laki-laki yang ternyata masih berstatus suami orang, yang tempo hari berdalih telah berpisah ranjang.


"HAAAAAH.. betapa bodohnya aku ini, sudah jelas aku pernah di kecewakan kenapa bisa dengan mudahnya aku kembali jatuh di pelukan penghianat" Benakku terus mengumpat menyalahkan diri sendiri.


Ketakutanku rupanya tumbuh menjadi dendam, aku memilih tetap melanjutkan hubungan terlarang ini dengan bertujuan untuk membalas dendam. Hatiku di penuhi dengan amarah, rasa ingin menghancurkan terus menerus tumbuh menutup semua kebaikan yang Akbar berikan pada ku sejauh ini.


"Maaf, aku menyakitimu lagi" Ucap Akbar ketika menemuiku dalam gejolak amarah.


"Aku baik-baik saja, aku tidak peduli dengannya ! Aku akan tetap mempertahankanmu". Aku memberikan penuturan yang cukup tegas pada Akbar.


Ia hanya tersenyum, setelah pertengkaran hebat itu aku tak lagi memperdulikan istrinya, aku tetap berjalan pada tujuan utamaku, tidak ada lagi kebohongan di antara kita, semua ku lakukan dengan sangat apik.

__ADS_1


Kali ini Akbar membagi waktunya untukku juga Istrinya, rupanya pengkhianat ini sudah sangat pintar dalam mengatur strategi, ku ikuti permainannya. Aku melakukan semua yang ia perintahkan, aku menuruti semua keinginannya untuk tetap diam. Sering istrinya menelpon mengutarakan kecemasannya di hadapanku, terkadang membuatku tertekan sekaligus merasa bersalah. Walaupun begitu, Akbar tetap menjadikanku prioritas. Ia menghabiskan waktunya lebih banyak denganku ketimbang dengan istrinya bahkan ia memperlakukanku dengan sangat istimewa.


__ADS_2