Pena Hitam

Pena Hitam
92


__ADS_3

"Kamu yakin ga akan pulang?" Tanyaku pada Doni yang sedang asik bermain game Mobile Legend, sambil menyedot rokok yang hanya tinggal sedikit lagi.


"Aku ngga bisa pulang, gada orang di restoran. Kamu pulang sendiri ngga apa-apa kan?" Doni mematikan kuntung rokok yang ia pegang.


"Bintang pasti kecewa, lagian pulang sehari aja juga ga masalah kok, yang penting kamu ada di hari ulang tahunnya" Aku membujuk Doni agar ia mau ikut pulang bersamaku.


"Ga bisa sayaang, gada orang. Nanti aja aku pulangnya bulan depan. Janji deh, yaaa !" Doni menaruh ponselnya, ia memandangku seolah merayuku agar aku berhenti memaksanya pulang bersamaku.


Aku terdiam, perdebatan malam ini sepertinya tidak membuahkan hasil, aku mengepak barang-barang yang akan ku bawa pulang besok.


Pagi-pagi sekali aku bangun, sengaja aku berangkat sebelum matahari terbit. 


"Ayo, sudah siap?" Doni menggandeng tanganku. Pagi ini tak biasanya ia begitu hangat padaku, bahkan sejak tadi malam. Ia seperti mengharapkanku untuk segera pulang.


Doni mengantarkanku ke terminal Kebon Jeruk menggunakan Grab Car yang ia pesan beberapa menit yang lalu.


"Aku titip ini yah, buat Princess ku. Kamu hati-hati di jalan, jangan main ponsel di tempat umum" Doni memberikan sebuah mainan kuda-kudaan yang terbuat dari pelastik berwarna hitam pekat.


"Loh, kamu beli ini kapan? Kok aku gatau, gimana bawanya. Ini berat lagi". Aku mengambil kuda-kudaan yang Doni berikan, sepertinya ia tau persis apa yang anak perempuannya inginkan.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di terminal Kebon Jeruk , jalanan cukup sepi di pagi buta seperti ini, sehingga mempercepat perjalanan pulangku. "Awas hati-hati kak" Kata Driver Grab, ia membantu mengeluarkan barang-barang yang ku bawa.

__ADS_1


Di depanku sudah menunggu Bis jurusan Bandung-Jakarta, rupanya tak begitu sulit menemukan Bis yang akan segera membawaku pulang ke rumah, menemui Mama, babe dan juga Bintang.


"Ayo naik sana, barang-barangnya nanti aku yang masukin, kamu duduk aja" Doni memasukkan barang-barangku ke dalam bis lalu kembali turun. Mataku tak beranjak dari Doni, ada perasaan khawatir di dalam diriku, bagaimana tidak, aku meninggalkannya seorang diri di kota yang sangat besar ini. Ya walaupun hanya 4 hari, tetap saja, aku seorang Istri, menghawatirkan Suamiku adalah hal yang wajar. Sekalipun perasaan ku sedikit memudar karena kehadiran Bayu yang terus bermain di otakku.


Bis mulai melaju dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan ku pandangi gedung-gedung yang menjulang tinggi, kendaraan berlalu lalang memenuhi jalanan kota Jakarta yang sangat padat. 


Ku coba untuk memejamkan mata, rasanya sudah tak sabar ingin segera sampai rumah.


4 jam perjalanan cukup membuatku lelah, namun rasa lelah itu hilang seketika saat ku tatap Bintangku, jantung hatiku ,belahan jiwaku, ku lihat ia sedang menungguku di depan pintu dengan senyuman lebar yang ia berikan padaku sebagai sebuah sambutan.


"IBUUUUU.." Ia berteriak sambil berlari ke arahku. 


Aku segera memeluk dan menggendongnya. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Horeeee.. Makasi Ibu, Love you" Bintang menerima hadiah pemberianku juga teman-temanku, ia terlihat sangat bahagia, ia memelukku dengan erat.


Setelah puas bermain dengan Bintang, aku menemui Bayi, sekilas tak ada yang berbeda, wajahnya, postur tubuhnya bahkan wangi tubuhnya.


"Hai Bayu" Aku tersenyum menatapnya. Sedikit gemetar dan kaku. Mungkin karena sudah lama kita tidak bertemu.


Ia hanya tersenyum menatapku, aku mengambil tangan kanannya untuk mengajaknya bersalaman. Setelah melihatnya beberapa menit aku pun pamit padanya, tidak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua.

__ADS_1


Sesuai janjiku, aku hanya ingin melihatnya walau hanya satu kali dalam seumur hidupku.


Kami kembali berpisah dengan langkah masing-masing. Walau begitu, kami masih menjadi teman baik dengan menyimpan kontak masing-masing. Ada rasa sesal yang ku rasakan, juga ketakutan yang menjalar di tubuhku, takut jika saja Doni mengetahui ini. Mungkin dia akan sangat marah.


Sudah 2 hari lamanya aku di rumah perasaan gelisah terus menghantuiku, entah apa yang sedang terjadi di kejauhan sana, yang jelas aku ingin segera pulang. 


Waktu menunjukan pukul 11 pagi, setelah melaksanakan perayaan pesta ulang tahun ketiga Bintang, aku segera bergegas untuk pulang ke Jakarta, jatah cuti yang seharusnya 4 hari hanya ku gunakan 2 hari. 


Aku pamit pada Mama, ku cium punggung tangan mama lalu secepatnya pulang.


Masih ku rasakan perasaan gelisah di sepanjang perjalanan, aneh begitu lambannya Bis yang ku tumpangi ini melaju padahal ketika perjalanan pulang terasa begitu sangat cepat. Aku sampai di Jakarta pukul 5 sore, dengan keringat yang membasahi tubuhku karena di dalam Bis sangat panas dan sesak. Tak banyak basa basi aku segera pulang ke kontrakan, karena Doni hari ini kebetulan libur mungkin saja ia sedang menungguku di kontrakan. Aku memang sengaja tidak mengabarinya lebih dulu bahwa aku akan pulang hari ini..


"Sepatu siapa nih? Setauku aku tak punya sepatu seperti ini" Pikirku dalam hati, ku perhatikan high heels berwarna hitam pekat yang memiliki tinggi kurang lebih 15 cm.


"Hahaha" Ku dengar suara tawa seorang perempuan dari dalam sana.


"Hah, apa ia ada maling sore-sore gini" Perlahan aku membuka pintu kontrakan, alangkah kagetnya aku, seperti jantungku remuk karena di cabik-cabik. 


Seorang wanita telanjang bulat duduk di pangkuan suamiku. Aku tak sanggup berkata apapun, hanya pandanganku yang tak berpaling sedikitpun dari mereka.


"LAKNAT" Aku berteriak sekencang-kencangnya, hingga mengundang penasaran tetanggaku yang mengintip di balik jendela rumah mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ya Tuhan kau berkhianat lagi? susah payah aku mempertahankanmu, bahkan aku melawan perasaanku sendiri terhadap Bayu, dan kau melukaiku (lagi) tepat di depan mataku. Dan sejak kapan?" Hatiku terus bergumam, rasa sesal dan sakit bercampur jadi satu.


__ADS_2