
SYUUUT BRUGH PRANK
Suara ponsel yang sengaja ku banting keras mengenai tembok sebelum akhirnya jatuh tergeletak tak beraturan di lantai , bunyi yang cukup keras sehingga suaranya membangunkan bayi Bintang yang sedang terlelap.
Emosiku masih meluap-luap, berkobar seperti api yang sulit untuk di padamkan.
Suara tangisan terdengar cukup keras membuat api amarah yang menyelimutiku padam seketika , segera ku tengok bayi mungilku yang terus menangis, ku peluk dan ku timang. Ku keluarkan payudara sebelah kiri, ku biarkan ia menyedotnya hingga di rasa cukup baginya. Ia berhenti menangis, aku menidurkan kembali bayiku. Ia bermain dengan kedua tangannya sesekali ia mengeluarkan suara yang sama sekali tak ku fahami, sebuah pemandangan indah yang membuatku lupa akan kegundahan yang tengah ku rasakan akibat kabar bahagia yang ku anggap mimpi buruk bagiku.
Suara Adzan menggema dimana-mana ku lihat jam di dinding menunjukan pukul 14:55 , sudah memasuki waktu sholat Ashar. Suamiku akan pulang satu jam lagi, aku segera membereskan pecahan-pecahan ponsel yang tadi ku banting, membersihkan rumah yang tak sempat ku bersihkan tadi pagi, mengurus bayiku agar selalu bersih, serta memasak untuk makan suamiku sepulang kerja, sisanya membersihkan diri , agar ketika ia pulang nanti rasa lelah di tubuhnya sedikit berkurang karena melihat rumah dan seisinya terawat dengan baik, aku berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku, walau kenyataannya perekonomian kita sedang sekarat karena utang yang Doni buat tanpa sepengetahuanku. Aku mencoba untuk bersikap baik-baik saja agar ia tak merasakan beban yang bertubi-tubi, walau ku tau kebohongannya tetap melekat di hati kecilku menimbulkan rasa kecewa yang tak kunjung pergi.
Pekerjaanku sudah selesai, aku merebahkan tubuhku di samping bayiku, pintu rumah sengaja tak ku kunci karena sudah saatnya suamiku pulang dari tempat kerjanya.
__ADS_1
Aku memejamkan mata sesaat, otakku memutar setiap memory kebersamaan antara aku dan Akbar, aku ingat ketika aku memberinya sebuah jam tangan murah yang aku beli di sebuah toko di dekat tempat kerjaku dulu, waktu itu aku di terima bekerja menjadi sales di sebuah mall yang cukup besar, aku begitu bahagia dengan pekerjaan baruku, terlebih Akbar slalu mensupportku ketika aku sedang kesusahan, aku menerima gajih pertamaku, aku teringat akan sosok Akbar pria yang paling ku cintai, ketika jalan pulang aku melewati sebuah toko , di dalamnya ada macam-macam jam tangan dengan model keluaran terbaru, aku begitu menyukai model dari jam tangan tersebut, berwarna hitam mengkilat membuatku berinisiatif untuk membelinya.
Setelah selesai bekerja, aku memintanya untuk menjemputku, kebetulan tempat kerjaku dan Akbar tidak begitu jauh.
Aku tidak yakin ia mau menerimanya, aku tau pasti bagaimana sifat dia, dan benar saja. Ia menolakku, tapi kemudian aku memaksanya untuk menerima hadiah pemberianku .
Satu momen yang membuatku tertawa geli adalah dimana setelah ia mengantarkanku pulang ia mengirim pesan padaku untuk protes .
Aku tertawa terpingkal-pingkal membaca pesan tersebut.
"Benarkah?" Tanyaku di sertai emot tertawa.
__ADS_1
Aku meminta maaf karena aku tidak mengecek jam tersebut yang ku pikir masih baru dan bagus , mana mungkin sebuah toko yang cukup besar menipu pelanggannya dengan menjual barang yang sudah tak layak jual.
Yang membuatku senang kala itu, ia tetap memakainya walau ia tau jam tangan itu sudah mati.
"FYUUH" Aku menghela nafas panjang kemudian mengeluarkan nya dengan kasar.
"Akbar, seandainya aku yang ada di sana" Benakku, yang tak sadar air mata kembali mengalir di pelupuk mataku.
Doni mencium keningku juga bayiku, aku melamun terlalu dalam hingga tak menyadari kedatangannya.
"Loh kamu udah pulang? kok ga ngucapin salam?" Aku segera berdiri untuk mengambil segelas air putih untuknya.
__ADS_1
"Jangan, biar aku aja ! kayaknya kamu kecapean. Sampe kedatanganku aja kamu ngga tau, padahal aku udah mengetuk pintu 3x" Ia menahan tubuhku yang hendak berdiri.