
Pabrik tempatku bekerja dengan Seni tiba-tiba bermasalah, entah apa yang sedang terjadi. Gajih kami telat di bayar sudah dua minggu lamanya, hingga aku merasa tak tahan dan keluar dari tempat itu tanpa membawa uang gajih yang seharusnya secepatnya mereka berikan padaku.
Merasa khawatir akan pekerjaan, aku kembali menghubungi beberapa teman yang mau membawaku bekerja setidaknya mencari uang untuk bekal jika sewaktu-waktu mendapatkan pekerjaan yang tetap.
Kali ini adalah Ayu, sama seperti Farin ia adalah temanku sewaktu MTS. Bedanya, dulu aku tidak begitu mengenalnya. Yang membuat kami akrab adalah karena urusan jual beli, aku menemukan kontaknya di FaceBook ia adalah salah satu anggota MLM (Multi Level Marketing) pada produk kosmetik yang lumayan terkenal di kalangan ibu muda sepertiku, ia sempat mengajakku untuk bergabung bersamanya, akupun sempat ikut serta walau tidak terlalu fokus karena menurutku itu hanya menguntungkan sebelah pihak.
Seringnya berkomunikasi membuat kami menjadi akrab, sejak saat itu kami dekat , kami saling bertukar cerita hingga belakangan aku menjadi tau jika ia pernah satu sekolah denganku.
Ayu berbaik hati mau mengajakku bergabung di tempatnya bekerja, aku sangat setuju, pekerjaan apapun akan ku kerjakan asal itu halal, dengan begitu aku akan tetap kuliah dan Bintang akan tetap mendapat kiriman dariku.
Setiap hari sehabis pulang bekerja aktifitas rutinku adalah Video Call dengan Akbar, melepas rindu setelah sepanjang hari kita sama-sama bekerja.
***
Malam minggu yang cukup indah, setelah seharian bekerja. Aku membersihkan tubuhku, melaksanakan sholat magrib lalu menghabiskan malam di depan teras bersama Ayu dan pacarnya yaitu bang Jek.
"Siapa tuh yang PC? Kayak kita dong pacarannya real bukan online" Bang Jek menggodaku sambil tersenyum lebar.
"Ah ini, simpananku lah hahahah" Kali ini giliranku yang tertawa cukup lebar.
"Haah simpanan? KIKO kali hehe" Ayu menambahkan celotehnya sehingga membuat malam semakin hangat.
"Itu mah es Cup PINO hahaha bodor" Kataku, yang di sertai tawa bersamaan dengan kedua temanku.
"Mana coba lihat simpananmu itu?" Bang Jek mengambil ponselku, menatap Akbar yang sedang Video Call bersamaku.
__ADS_1
"Apaan sih?" Aku merebut kembali ponsel milikku dari tangan bang Jek.
“ Simpanan lu boleh juga” Ia termenung beberapa saat, hingga Video Call ku akhiri karena Akbar pamit untuk kembali bekerja.
"Lu percaya ga kalo gw bilang cowok ini pakek SUSUK?" Bang Jek menatapku dengan tatapan yang serius.
Aku menatapnya balik dengan tajam, lalu ku tertawa sekeras yang ku bisa. "HAHAHAHA ngomong apaan sih lu bang?"
"Lu jadi orang jangan terlalu skeptis, gw tau kok niat lu balas dendam sama dia, tapi lu ngerasa berat buat lepasin dia. Itu karena hubungan lu bukan dari hati melainkan ada permainan Jin yang ikut bersemayam di dalam diri lu" Bang Jek mengutarakan pendapatnya, namun segera ku tepis.
Ku akui bang Jek memang benar, aku memang tak bisa melepaskannya, terlalu dalam rasa cintaku terhadap Akbar sehingga aku lupa pada tujuan utama bahwa aku mempertahankannya hanya untuk membalas dendam.
"Lu jangan ngada-ngada deh, lu bikin gw takut. Lagian kalo dia pakek susuk kenapa gw bisa bertahan lama sama dia, kita kan pacaran sejak masih SMA. Lagian lu udah kayak Dukun aja si" Aku tak terima tuduhan yang bang Jek layangkan pada Akbar, menurutku itu sangat tak masuk akal.
"Oke, kalu lu ga percaya gw tantang lu . Lu ga boleh hubungin dia selama 7 hari. Selama itu lu ga boleh lihat potonya, apalagi menemuinya. Setiap pagi lu harus baca surat-surat pendek yang ntar gw kasih, malamnya lu sholat tahajud sama hajat terus zikir . Ntar gw yang puasa, inget ya pesen gw jangan coba-coba buat ngeliat potonya"
Keesokan harinya..
‘‘Ketemu yuk” Pinta Akbar di akhir kalimat ketika sedang asik bercanda melalui telpon.
“ Kapan? Sekarang? Aku masih kerja ih. Nanti malam aja, gimana? kataku.
Akbar mengiyakan tawaranku, jam istirahatku sudah habis. Aku segera menutup telpon dan melanjutkan pekerjaanku.
“Mau kemana nih?” Ledek bang Jek, ketika aku sedang menungu Akbar menjemputku di teras depan kosan.
__ADS_1
“Maen lah, gw kan ga jomblo hehe” Aku tersenyum , pipiku memerah menahan malu.
“Katanya lu terima tantangan gw gimana si?’’
“Iya, besok gw laksanain, sekarang gw mau ketemu dulu. Kalopun bener apa yang lu bilang, gw udah siap ko. Tapi gw harus nemuin dia dulu, seengganya buat pamit” Aku segera pergi meninggalkan Bng Jek sendirian di teras kosan.
Akbar sudah menunggukku dengan motor besarnya “ Ayo naik, mau kemana kita sekarang?” Tanya Akbar sambil menyalakan motornya.
“Apartemen” Aku tersenyum memandangnya. Kali ini aku ingin menguasai tubuhnya untuk yang terakhir kalinya sebelum pembalasan dendam ku laksanakan.
Ku nikmati setiap centi dari tubuhnya yang kekar, dunia seakan menjadi milikku seutuhnya, rasanya aku tak ingin jauh darinya. Seandainya Tuhan mempertemukan kita di waktu yang tepat bukan di saat seperti ini, mungkin semuanya akan sangat sempurna.
Waktu berlalu begitu cepat, malamku ku habiskan untuk melepas rindu hingga puncak dari kenikmatan kami rasakan bersama , ku simpan kepalaku di atas dadanya ku coba untuk memejamkan mata rasanya tak ingin berakhir, ku peluk erat tubuhnya hingga pagi menjelang.
Dan benar saja, itu adalah terakhir kalinya kita bertemu, hingga aku memilih untuk melepaskannya dengan mengikuti semua yang bang Jek perintahkan padaku.
7 hari lamanya aku melaksanakan perintah bang Jek, setiap pagi aku membaca surah-surah pendek serta beberapa doa penolak bala, malam harinya aku melaksanakan sholat sunat hajat dan tahajud sebanyak 12 rakaat lalu di sambung dengan zikir hingga aku terlelap.
Ada banyak perubahan setelah aku mengikuti perintah bang Jek, rasa cintaku yang sangat dalam kepada Akbar hilang dalam jangka waktu 7 hari saja bagiku ini di luar nalar, bagaimana bisa aku melupakannya secepat itu. Di hari pertama ada kerinduan yang sangat besar, bahkan aku hampir melanggar pesan bang Jek untuk menemuinya, di hari kedua perasaanku mulai luntur namun aku tetap dapat mengingatnya , di hari ke tiga perasaanku terhadapnya hampir 50% hilang di hari ke 4 , 5 , 6 dan 7 aku mulai terbiasa tanpanya, bahkan aku tak lagi mengingatnya.
"Bagaimana perasaan lu sekarang?" Bang Jek tersenyum puas menatapku.
"Gw udah lupa bang , udah gw blokir juga semua kontaknya. Maaf ya gw ngeraguin lu" Aku menunduk malu, bagaimana jadinya jika bang Jek tidak menolongku mungkin hingga detik ini aku masih menjalani hubungan terlarang bersama Akbar.
Aku segera menghubungi orang tua Akbar dan menceritakan semuanya, aku meminta pertolongan kepada Ayahnya agar Akbar di beri nasihat supaya tidak menggangguku lagi.
__ADS_1
Kami berpisah dengan cara yang indah, ku lepas segalanya, hati dan perasaan ku, ku iklaskan segalanya untuk kebahagiaannya.
Sejak hari itu aku bertekad tidak akan mencari Akbar lagi, aku memutuskan perasaanku sendiri agar melupakannya untuk selamanya.