Pena Hitam

Pena Hitam
73


__ADS_3

Bekerja di sebuah pabrik garment milik perusahaan asing rupanya tak semudah yang di bayangkan, aku harus bangun lebih pagi dari biasanya, menyiapkan bekal untuk ku bawa ke pabrik, belum lagi kalo Bintang ikut bangun merengek memintaku untuk tetap tidur di sampingnya.


Aku bekerja pagi pulang malam, hari sabtu harus lembur, aku hanya memiliki satu hari dalam seminggu untuk mengasuh bayiku, ku tinggalkan semuanya demi melunasi utang yang sama sekali tak ku ketahui asal usulnya bagaimana.


Setelah pertengkaran hebat malam itu, aku mencoba berbesar hati untuk memaafkannya dengan syarat dia harus mengizinkanku untuk kembali melanjutkan pendidikanku cita-citaku yang tertunda karena harus hamil di luar nikah.


"Tapi.. kamu tau utang ku banyak. Mungkin untuk saat ini aku tidak mampu, tempat ku bekerja juga bangkrut aku akan di PHK satu minggu lagi" Doni menunduk lesu di hadapanku.


Aku mengerti apa yang tengah ia rasakan tapi aku benar-benar tidak peduli, banyaknya kesakitan yang ku rasakan rupanya membuatku egois dan keras kepala, rasa segan dan menghargai telah pergi bersama tendangan yang ia layangkan pada ku hari itu. Kini semua berbalik, aku yang dulunya penurut dan patuh terhadap suami sekarang menjadi pemberani, apapun yang ku inginkan harus ia turuti tak peduli mampu atau tidak.


Tak hanya itu pergaulan yang bebas juga membuatku menjadi sangat liar dan kasar, aku sudah bekerja kembali , aku dapat menghasilkan uangku sendiri untuk apa aku merasa takut padanya toh sekarang dia yang bergantung padaku. Mungkin setelah di PHK ia yang akan mengurus bayi Bintang, sungguh dunia itu berputar. Zaman telah berubah, emansipasi wanita semakin menjadi . Ku biarkan diriku larut dalam kesombongan.


"Aku tidak peduli , setuju atau tidak aku akan tetap melanjutkan pendidikanku. Lihat saja, ibumu harus tau bahwa dunia berputar. Dia telah banyak menyakitiku, sekarang saatnya aku membuktikannya".


Rupanya penderitaanku berujung dendam, ada perasaan ingin menghancurkan. Mereka yang mengucilkanku, menganggap rendah diriku seperti sampah, mereka yang berbisik di belakangku, mereka yang melecehkanku, ia mereka yang membuatku menderita sejauh ini. Aku akan membalasnya.


Balas dendam terbaik adalah menjadikan diriku lebih baik lagi, memberikan banyak hal yang mereka butuhkan. Mereka harus menjadi patuh seperti Anjing yang patuh pada majikannya.

__ADS_1


"Kau akan tau nanti, AKU YANG AKAN MENCINTAI KELUARGAMU, HANYA AKU . hahaha" Aku berteriak lantang , ku rapatkan mulutku di telinga Doni ku bisikkan "Hanya aku".


Mungkin aku sudah gila, namun ku biarkan setan menguasaiku, ku bebaskan segala pikiran dan perasaan yang selama ini ku pendam . Setelah sekian lama tak tertawa kini ku temukan kembali tawaku, tawa licik yang menguasaiku.


"Istigfar Bu.. rupanya pekerjaanmu membuatmu menjadi lupa siapa dirimu" Doni memandangku dengan matanya yang merah menyala menahan marah.


"Hahaha, aku membenci mu yang sudah menghancurkan masa depanku, aku juga membenci mereka yang slalu menyakitiku, kau tau? mereka memperlakukanku seperti sampah. Bahkan kau menyengsarakanku" Seketika tawaku berubah menjadi tangisan, aku menangis sejadi-jadinya.


Doni berlalu meninggalkanku yang menangis tersedu-sedu. Ia tak mampu lagi berkata apapun selain diam seribu bahasa.


Gajihan pertama ku terima, rasanya senang sekali. Sudah hampir satu tahun ini aku tak memegang uang sendiri. Bahkan aku memang tak pernah punya uang.


Ku gunakan uang itu untuk daftar kuliah di salah satu Universitas yang tak jauh dari rumahku, selain lokasi nya yang dekat dengan rumah Kampus itu juga sangat murah.


Aku senang akhirnya aku bisa kuliah setelah sekian lama ku idam-idamkan. Tuhan mendengar doaku hari ini. Rasa syukur ku panjatkan kepadanya, tak henti-hentinya aku memuji kekuasaannya. Setidaknya ini akan sedikit mengobatiku dari luka panjang yang ku alami.


Sedangkan Doni, setelah di PHK ia membuka usaha conter bersama salah satu temannya di sebuah Mall di jantung kota Bandung.

__ADS_1


Keuangan kami semakin hari semakin membaik, utang Doni perlahan berkurang bahkan hampir selesai karena bantuanku, usahanya juga berkembang kini ia memegang 2 conter sekaligus, kuliahku berjalan dengan sangat lancar, dan Bintang kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Ia tumbuh menjadi anak yang aktif.


Namun, ujian di dalam rumah tangga tidak akan berhenti begitu saja. Kesibukanpun kami rasakan bersama. Aku yang sibuk dengan pekerjaanku di pabrik, Doni yang bekerja mengurus usahanya di kota membuat kami jarang berkomunikasi. Ia pulang setiap satu bulan sekali, ada rasa jenuh menghampiri kami.


Aku yang mulai bosan dengan segudang pekerjaan dan tugas kuliah yang menumpuk, Doni yang tak lagi memperhatikanku. Membuat Mood ku naik turun.


Merasa tak di perhatikan lagi, akhirnya pertengkaran demi pertengkaran kita lalui .


Hari minggu yang cerah, aku berinisiatif untuk mengunjungi tempat kerja Doni. Ku lihat sekilas tak ada yang berubah, Doni masih bekerja bersama anak buahnya, aku memperhatikannya dari kejauhan dengan menggendong Bintang yang sekarang sudah bisa jalan bahkan berlari kecil.


Seorang perempuan menghampiri Doni, ia memeluk Doni dari belakang, Doni yang sedang duduk melanjutkan pekerjaannya, ia tak menghiraukan perempuan itu. Perempuan itu menciumi pundak Doni.


Pemandangan yang menjijikan yang kembali menggores luka di hatiku. Aku menghampirinya dengan santai, ku sembunyikan air mataku yang hendak menetes, ku tahan emosi yang telah memuncak.


"EHM" Aku duduk di kursi tempat customer duduk menunggu .


Doni menoleh ke arahku dan tentu saja ia kaget, sedangkan perempuan itu hanya memandangku sinis.

__ADS_1


__ADS_2