Pena Hitam

Pena Hitam
91


__ADS_3

Sepulang dari tempat kerja, seperti biasa nongkrong adalah kegiatan rutin ku bersama teman-teman.


Live di Social Media menjadi salah satu tema wajib bagi kami, selain main ludo atau karauke online.


Evi adalah salah satu **** konsumsi terbaik, ia memiliki gajih paling besar di antara kami, tak heran jika setiap malam ia akan merogoh kocek demi tongkrongan yang gada faedahnya ini. Usia Evi masih sangat muda, ia baru menginjak 18 tahun. Walau usianya jauh di bawahku tapi pengalaman bekerjanya jauh lebih dalam dari pada aku. Ia juga merupakan senior ku di Cafe Taria, orang-orang bilang ia adalah sosok yang sangat religius dan anak rumahan, ia ga pernah nongkrong apalagi menenggak minuman keras. Tapi yang ku rasakan sungguh berbeda dari apa yang mereka tuturkan, ia sosok yang menyenangkan, asik, supel dan juga pintar. Kami sering Party ketika penat melanda, akibatnya semua karyawan menuduhku membawa pengaruh yang buruk terhadap Evi, gosip murahan ini tentu membuat ku sangat kesal, walau begitu aku berusaha untuk tidak memperdulikan apapun yang mereka katakan.


Selain Evi ada juga Erika, sama seperti Evi ia baru saja menginjak usia 18 tahun, aku memiliki banyak sekali kesamaan dengannya, di antaranya adalah wajah kami yang cenderung terlihatjutek dan menyebalkan seringkali membuat orang-orang yang baru saja mengenal tidak menyukai kami, bahkan tak jarang mereka menjadi heters. Kami sama-sama tercipta dari darah sunda dan betawi, Ayah yang asli betawi dan ibu yang terlahir di suku sunda membuat kami merasa klop , kami sangat dekat hingga ia ku anggap seperti adikku sendiri. Akupun mengenal keluarganya dengan sangat baik, mereka seperti keluarga kedua bagiku.


Ada pula Wina, perempuan bertubuh kecil mungil dengan kulit sawo matang ia satu tahun lebih tua di atas Erika, ia masih tetangga Dav. Aku tidak sengaja mengenalnya. Ia senior di sekolah Erika dulu. Erika yang mengenalkanku pada Wina, sebelum akhirnya aku mengetahui jika Wina adalah tetangga dekat Dav, bahkan mungkin masih memiliki ikatan saudara.

__ADS_1


Selebihnya ada Dika, Dilan, Yaris dan masih banyak lagi. Tongkrongan kita awalnya mengarah pada hal-hal yang positif, yaa.. hanya aku, Evi dan Yaris yang terobsesi akan hal-hal yang buruk. Selain mereka ada juga penghuni kosan yang tak lain adalah tetangga di kosan Erika mereka anak berandalan yang menurutku sangat keren, usia mereka rata-rata satu tahun di atasku , adalah mas Agum yang tertua di antara mereka selebihnya ada kurang lebih 7 orang lain yang ikut bergabung bersama kami. Yang pada akhirnya membawaku dan Evi terjebak dalam dunia hitam.


"Apa kabar?" Satu pertanyaan cukup membuatku melayang ketika kamera Samsung J4 ku nyalakan untuk live via Facebook, kalimat yang ku nanti setelah kurang lebih 10 tahun lamanya.


Bayu mantan pacarku, cinta Monyetku yang terjalin 10 tahun yang lalu ketika kami sama-sama duduk di bangku SMP. Sejak ia memilih untuk memutuskan hubungan denganku, ia tak pernah lagi berbicara padaku, bahkan kami berakhir dengan sangat buruk. Bertahun-tahun lamanya aku mengejar kembali cintanya tapi tak pernah sedikitpun ia menatap ke arahku hingga aku dapat melupakannya ketika Akbar datang dalam hidupku.


Setelah pertanyaan yang membuat ku melayang sangat jauh itu, aku kembali berkomunikasi dengannya. Dia tak semanis dulu, karakter yang dulu ku idam-idamkan, pria yang pernah ku puja, berhati lembut dan sangat manis berubah seperti Monster yang siap menerkamku kapan saja.


Doni, aku melupakannya sejenak tak peduli jika nantinya kami akan bercerai kembali, mungkin karena sejak dahulupun ia sudah berkali-kali membuatku terluka.

__ADS_1


Banyak hal yang kami bicarakan beberapa hari ini, tentang masa lalu yang berakhir sangat buruk. Kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi? Aku berniat untuk pulang dan menemuinya, ia menolakku dengan alasan aku sudah memiliki suami, walaupun begitu ia tetap meresponku dengan baik, seperti kehilangan harga diri aku memaksanya untuk bertemu setidaknya satu kali dalam seumur hidupku itu akan jauh lebih baik dan membuatku tenang, setelah itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengganggunya lagi dan melakukan kesalahan apapun di dalam kehidupan rumah tanggaku selanjutnya.


Bertepatan dengan ulang tahun Bintang yang ketiga, aku sudah berniat untuk mengambil cuti minggu ini selama 4 hari, selain untuk merayakan ulang tahun Bintang, aku juga akan menemuinya.


***


Keesokan harinya..


" Bu, minggu ini saya ambil cuti ya" Aku masuk ke dalam ruangan tempat SVP duduk menghadap laptop miliknya.

__ADS_1


"Ya buletin aja tanggalnya, nanti saya atur jadwal untuk menggantikan sift yang kosong" Tak sulit meminta jatah cuti pada SVP yang di kenal menyebalkan itu, itu juga salah satu hal yang membuatku betah untuk bekerja di cafe ini.


Aku mengangguk mengiyakan perintahnya, aku segera keluar dan membulati tanggal di kalender yang sudah tersedia di meja kasir.


__ADS_2