Pena Hitam

Pena Hitam
37


__ADS_3

Biar ku ceritakan apa itu arti kebebasan, dulu ku pikir dengan hidup di jalanan akan ku temukan apa itu kebebasan, kebahagiaan juga ketenangan. Nyatanya ragaku memang terasa bebas, bahkan seperti baru saja terlepas dari sebuah belenggu, bebas sebebas bebasnya, layaknya burung elang yang terbang tinggi di atas awan tanpa takut terjatuh, padahal jelas jauh di bawah sana ada banyak bahaya yang sedang mengincar. Ketidak pedulianku terhadap diri sendiri membuatku merusaknya secara perlahan, secara fisik maupun mental.


Lalu, sebuah kebahagiaan yang ku cari namun tak kunjung ku temukan. Rasanya seperti meminum air laut, semakin banyak aku meminumnya maka semakin haus ku rasakan, itulah duniaku. Dunia gelap yang ku kenal sejak beberapa bulan terakhir ini. Sejak aku mencintai seorang Akbar, sejak aku mengenal mereka yang saat ini menjadi sahabat terbaikku, juga sejak aku menyadari betapa indahnya hidup di jalanan.


Ku akui, sedikitpun tak ku temukan sebuah ketenangan ketika aku hidup di jalanan, tapi tak banyak yang tau bahwa hanya di jalananlah ku temukan ketulusan seseorang yang ku sebut sebagai teman. Di jalananlah aku mulai memahami pentingnya sebuah persahabatan dan juga solidaritas. Ya, tidak ada yang perlu di sesali bukan karena hidup harus tetap berlanjut bahkan jika kau tau seberapa buruk masa lalumu.

__ADS_1


Sudah berapa bulan aku ada di antara mereka? entahlah ! tapi rasanya sudah cukup lama sekali. Sebenarnya siapa yang pertama kali mengenalkanku pada alcohol? aku hampir tak dapat mengingatnya, yang jelas mulai saat itu, aku dan Putri menjadi sahabat dekat, bahkan sangat dekat. Putri mantan anak punk yang sekarang menjelma menjadi seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, lucu sekali kalo ku ingat kembali, dulu ia sangat tomboy , celana robek dan baju setengah jadi adalah baju favoritnya, sekarang ia sudah menjadi perempuan tulen dan seorang ibu yang sesungguhnya. Semoga sehat selalu ya mak, Hehe..


Aku ingat betul, ketika saat itu terjadi. Saat dimana temanku Aida Lara ikut serta bekerja bersamaku, ia datang tak sendiri. Melainkan bersama adik jadi-jadiannya bernama Fira Sita , adik jadi-jadian ? maksudnya apa itu? haha. Jadi yang ku maksud adik jadi-jadian itu, teman yang sangat dekat bahkan sudah seperti saudara sendiri, mereka menempatkan diri sebagai seorang kakak dan seorang adik yang sebenarnya tidak ada ikatan apapun selain pertemanan.


Sama halnya sepertiku, Aida dan Fira di terima dengan mudah di sini dan lagi-lagi karena Putri. Padahal saat itu Putri tidak mengenal Aida, ia hanya ku kenalkan satu kali saja, itupun ketika besoknya hendak melamar ke pabrik ini. Ah Putri-ku, dia memang teman yang luar biasa.

__ADS_1


Aida dan Fira beradaptasi dengan baik, mereka tak begitu kesulitan saat mengenal teman-temanku. Namun, ada hal yang membuatku sedikit kecewa, ku pikir Aida akan tinggal di kamarku bersama aku, Ayu, Riani dan Putri. Ya memang satu kamar berenam bukan ide yang bagus, tapi setidaknya itu akan sangat menyenangkan menurutku.


Awalnya Aida memutuskan untuk kost berdua saja dengan Fira. Aku memakluminya, karena ku pikir mungkin mereka butuh privasi , atau mungkin jika kami tinggal bersama ia akan kesulitan dalam banyak hal, mengingat mereka baru saja saling mengenal.


Tapi ternyata bukan itu, Aida tinggal bersama Fira karena pacar mereka ternyata bekerja di tempat yang tak jauh dari tempat kami bekerja, dan pacar mereka memilih untuk in the kost di tempat yang sama dengan kami, lalu setiap malam mereka akan berukar tempat, kamar Aida ada di lantai dua, sedangkan pacarnya di lantai satu, dan ternyata tanpa ku sadari pacar merekapun saling mengenal satu sama lain, bukankah itu kebetulan? tentu saja bukan ! mereka sudah merencanakan ini jauh sebelum aku membawanya ke tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2