Pena Hitam

Pena Hitam
86


__ADS_3

Beberapa kali aku menelpon Doni, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


"Doni sudah pulang" Putri mengirim pesan singkat padaku.


"Apa yang terjadi ? 3 jam dia kemana?" Aku membalas pesan Putri, pikiranku mulai kacau.


Putri tidak membalas pesanku, aku meminta ijin pada Kak Desy untuk pulang sebentar. Kak Desy tidak mengijinkanku karena sudah lewat jam 12 malam, biasanya jalanan akan sedikit sepi jika lewat jam 12 malam. Aku menghiraukan kak Desy, jikapun aku di pecat aku tidak masalah asalkan malam ini aku tetap pulang.


Aku segera mengambil tas miniku, gojek sudah ku pesan sejak tadi, ia sudah menungguku di depan.


Gojek yang ku tumpangi segera berangkat ke tempat tujuan.


"Pak agak cepet ya jalannya" Aku menepuk pundak bapak gojek yang membawaku. Ia hanya menganggukan kepala tanda setuju.


15 menit kemudian aku telah sampai di depan kosanku. Aku menemui Putri yang sedang duduk memegang ponsel miliknya.


"Loh kamu pulang?" Putri kaget melihat kedatanganku wajahnya terlihat panik.

__ADS_1


"Dimana Dav?" Aku mencari Doni ke kamar mandi umum, kewarung tempat biasa ia nongkrong. Doni tidak ada di manapun.


"Dia sedang tidur" Putri berjalan cepat mengikutiku di belakangku yang setengah berlari.


Aku membuka pintu kamarku, tidak ada siapapun di sana, hanya beberapa pakaian kotor yang tergeletak di sana.


"Mana? kau bilang dia sedang tidur? apa yang kau sembunyikan dariku? apa sekarang kau seorang penghianat?apa tugasmu sekarang menutupi kesalahan orang lain? apa Doni sudah membayarmu? sungguh, aku sangat kecewa" Mengetahui Putri yang mencoba membohongiku membuatku marah. Dia tidak pernah berbohong sejauh ini, ini adalah kali pertama ia berbohong terlebih kita seperti saudara masalah sebesar apapun selalu kita bereskan bersama. Dan kali ini ia membuatku kecewa.


"Dia ada di kamar belakang, maafkan aku. Aku tau pasti kau akan sangat marah jika aku berbicara yang sesungguhnya. Lagipula aku takut ini hanya salah faham aja. Aku tidak mau rumah tanggamu berakhir kembali seperti dulu" Putri menunduk, tapi sedikitpun tak membuat amarahku redup.


Aku segera berlari menuju kamar yang Putri tunjukan padaku, Putri masih mengikutiku di belakang. Ia terlihat khawatir dan sepertinya sudah tau apa yang akan terjadi.


" Loh kamu di sini yang?" Wajahnya terlihat panik, aku yang sedari tadi menahan amarah, menumpahkannya pada Doni.


PLAK


Tanganku melayang tepat di pipi kanan Doni, entah apa yang ku pikirkan saat ini , penghianatan Doni yang berkali-kali ia lakukan padaku membuatku buta. Aku begitu sensitif bahkan sama sekali tak bisa mempercayainya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? jangan salah faham dong" Ia menatapku dengan panik, kompor dan beberapa alat masih ia pegang.


Mendengar perkataan Doni aku semakin marah, ku ambil barang-barang yang di pegang oleh Doni, ku lempar ke sembarang arah sehingga menimbulkan suara yang keras, membuat para tetangga keluar rumah. Aku dan Doni menjadi tontonan mereka.


"Ada apa ini?" Sahut seorang warga yang mendatangi kami, ia berdiri di depan Doni.


Aku berlari menahan tangis, bahkan sangat berat untuk mengeluarkan sebuah kalimat. Putri yang sedari tadi mengikutiku ia segera menahan langkahku ia memegang erat tanganku dan memelukku .


Amarah yang terus bergejolak membuat kepalaku pusing hingga aku tak sadarkan diri di pelukan Putri.


"Yang bangun" Putri menepuk-nepuk pipiku sesekali ia mengolesi hidungku dengan minyak kayu putih pemberian salah satu warga.


Perlahan aku membuka mataku, ku lihat sekelilingku begitu banyak orang mengerumuniku, ada Doni dan Ria juga di sana. Putri membawa ku ke kamarnya.


Aku terdiam di samping Putri dengan kepala yang masih terasa berat. Doni menghampiriku, satu tamparan kembali melayang di pipinya, aku segera berdiri menahan sakit di kepalaku aku berjalan menuju Ria yang sedang berdiri menatapku.


"Siapa kau? apa yang kau inginkan dariku?" Tanyaku pada Ria.

__ADS_1


"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, ia hanya membantuku" Ria menundukan kepala.


"Membantu? kau tau ? dia meninggalkanku di persimpangan jalan tengah malam, ia kenakan semua pakaian baru, ia bahkan tak langsung pulang ke rumah hanya untuk membantumu? kemana kalian selama 3 jam tadi? bahkan Doni memberitahuku ia akan membantu teman istimewanya untuk pindahan ? dan kenapa kau pindah sejak aku tinggal bersama Doni? sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Doni?" Aku menunjuk kepala Ria , rasanya ingin ku patahkan lehernya yang penuh dengan warna merah bekas sebuah ciuman ganas yang tak ku ketaui siapa pelakunya.


__ADS_2