Pena Hitam

Pena Hitam
36


__ADS_3

Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengenal orang-orang baru, selama satu minggu lamanya pekerjaan yang terasa membosankan kini berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan, perlahan tapi pasti aku mulai mengenal satu persatu karakter teman-teman baruku, dengan asal kota dan kebiasaan yang berbeda-beda.


Ada Bang Andre atau Andira, seorang perempuan yang berbentuk laki-laki atau ia biasa menyebut dirinya maaf "Buci". Manusia setengah jadi ini, sangat baik dan setia kawan, ia juga sangat menyenangkan suka mentraktir kami semua haha, btw kalo suatu hari nanti dia baca ini, dimanapun kamu berada bang, semoga kamu slalu di beri kesehatan dan rezeki yang berlimpah.


Ada cerita kelam di balik penampilannya, ku dengar ia bercerita hingga air matanya berlinang, ya walaupun luarannya laki-laki, dalamnya tetaplah perempuan kan? tak banyak orang yang tau, walau bulyan sering ia terima karena penampilannya yang melawan takdir, namun sejatinya tidak ada satupun manusia yang ingin terlahir cacat, entah itu cacat mental ataupun fisik. Itulah kenapa manusia seharusnya tidak menilai orang lain hanya dari penampilannya saja.

__ADS_1


"Bang, kan lu cantik. Kenapa lu pilih jalan hidup yang kek begini?" Tanyaku, jujur melihat dia yang seperti ini rasanya sangat sedih, memang benar mungkin itu hak dia untuk melakukan apapun yang ia inginkan termasuk *** menyimpang yang menurutku sangat tidak lazim.


Bang Andre atau perempuan manis bernama lengkap Andira Larasati ini, memiliki tubuh yang tinggi kurus, dengan kulit sawo matang, sejak kecil ia di perlakukan layaknya seorang anak laki-laki oleh ayah kandungnya sendiri, ia juga slalu mendapat kekerasan dari ayahnya jika ia pulang tanpa membawa uang, ayahnya seorang preman yang jika ku bilang ia tak becus mengurus anaknya sendiri, Bang Andre di tekan untuk slalu menghasilkan uang dengan cara mencopet dan mencuri.


Tak tahan dengan perlakuan seorang ayah yang semena-mena, iapun kabur dari rumahnya pada usia 15 tahun. Beruntungnya, ia di pertemukan Tuhan dengan seorang perempuan yang biasa kami memanggilnya Mak Titi, seorang janda yang di tinggal mati yang pada akhinya dapat membawa bang Andre bekerja di pabrik yang saat ini kami berkumpul.

__ADS_1


Walau begitu, tempat ini tak menjadikannya hidup lebih baik, nyatanya pergaulannya malah semakin bebas, poya-poya, hidup di dunia malam bahkan obat-obatan terlarang menjadi teman dalam kesehariannya.


Selain bang Andre dan Mak Titi, ada teh Fani. Penampilannya sangat mencolok dengan beberapa tato di tubuhnya, ia tak pernah lepas dari Alcohol dan Nicotine, hidupnya ia habiskan hanya untuk bersenang-senang. Ia adalah anak broken home, ayah dan ibunya bercerai ketika ia berusia 4 tahun, sama seperti bang Andre di usia 15 tahun ia kabur dari rumah dan mencari jalan hidupnya sendiri yang bebas tanpa adanya tekanan.


Ada juga teh Gina, anak mami yang baik. Sayangnya lingkungan membuatnya ikut terjerumus pada kebebasan , ia tidak memiliki pendirian dan bersifat plinplan, padahal ia cukup cantik dengan tahi lalat di bawah hidung membuatnya terlihat imut, ya. Sekilas tentang teman baruku, sebenarnya masih banyak tapi sepertinya faktor usiaku yang semakin hari semakin tua membuat ingatanku sedikit memudar.

__ADS_1


__ADS_2