
Hari sudah sore, cuaca begitu mendung, pertanda hujan akan segera turun, sepanjang perjalanan pulang kami menceritakan banyak hal , termasuk masa-masa SMA dan keadaan Akbar selama tiga bulan terakhir.
"Kamu ngapain aja selama engga ada aku?". Tiba tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku. Rasa penasaranku tak lantas membuatku tak ingin menyembunyikannya, begitulah aku. Ketika aku mencintai seseorang maka segala sesuatu yang berhubungan dengannya harus ku ketahui. Bahkan jika hubungan kami telah berakhir sekalipun.
"Aku? , engga ngapa ngapain, cuman kerja." Sahut Akbar.
"Bukan itu maksudku, jangan pura-pura bego deh". Tanyaku sedikit kesal.
"Maksudmu Annisa?" . Dia menjawab dengan santai sambil tersenyum. Mungkin baginya pertanyaanku terdengar lucu, tapi bagiku itu sangat menjengkelkan.
" Memangnya siapa lagi?". Aku sedikit membentak, aneh memang jika membicarakan Annisa darahku slalu tiba-tiba naik begitu saja.
" Kamu kenapa? cemburu? haha" . Akbar tertawa, ia begitu bahagia melihatku terbakar api cemburu.
" Iyalah, dia itu sahabatku tau, kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?". Aku melepaskan pelukanku.
"Iya iya maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, jadi gimana? di maafin engga?" . Akbar mulai mengejekku.
Aku terdiam sejenak , mencoba menyembunyikan kekesalanku.
" Beberapa kali aku main ke rumahnya, ketemu keluarganya, pernah juga di kenalin sama pacarnya." Akbar berbicara dengan nada datar.
" Jadi sebenernya kalian pacaran engga sih?" . Entah kenapa rasanya sakit sekali mendengar pengakuan Akbar, tak terasa air mata ku pun menetes.
__ADS_1
" Iya , aku dan Annisa memang berpacaran, tapi tidak lama ." Katanya.
" Tapi kan kamu tau dia punya pacar?, kenapa kamu mau di jadiin yang kedua?, kamu ninggalin aku demi dia yang jelas engga menyayangi kamu". Ku tahan tangis yang tak dapat ku sembunyikan lagi.
"Iya aku tau, tapi perasaan itu kan tak bisa di bohongi".
"Sejak kapan kamu suka sama dia?". Ku lontarkan pertanyaan berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan .
"Aku cuman iseng aja ko, lagi pula ini sudah berlalu, maaf kalo itu membuatku menyakitimu."
"Tentu saja itu menyakitiku". Aku membentaknya, luka lama yang mulai mengering rupanya kembali basah.
"Iya maaf aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. " Aku terdiam mendengar ucapannya. Berkali-kali ia meminta maaf, tapi rasanya sulit bagiku untuk memaafkan nya, walaupun begitu pintu hatiku slalu terbuka untuknya.
Tiba tiba hujan turun dengan sangat deras, Akbar menghiraukannya, dia tetap melajukan motor maticnya dengan santai.
" Kita cari toilet bentar ya". Aku menahan pipis yang sejak di rumah Akbar sudah ingin ku buang.
"Dimana? , enggak bakalan nemu lah, lagian bentar lagi juga sampai di rumah kamu."
"Tapi aku udah engga tahan".
"Ya udah sabar ini aku cepetin ko".
__ADS_1
Aku yang sudah tidak tahan menahan ingin buang air kecil sejak masih di rumah Akbar. Akhirnya pipis di celana. Haha jika ku ingat sore itu, sungguh rasanya malu selali. Sudah seperti bayi saja, yang pipis dimana saja. Sungguh memalukan.
"Apa ni?". Air hangat mengguyur jok bagian belakang motor, air seni itu mengenai kaos hitam dan celana pendeknya.
" Maaf, aku engga sengaja! , hehe". Aku menahan malu, malu yang tak dapat ku sembunyikan. Benar-benar malu. Sungguh itu ketidak sengajaan yang ku lakukan padanya.
"Aaght, kamu . Jorok banget sih."
"Kan aku udah bilang cari toilet bentar, kamunya ga denger sih."
"Kenapa engga di rumah aku tadi?".
" Aku malu lah sama Mama kamu, hehe maaf ya". Kataku sambil ketawa kecil.
Dicky terlihat aga kesal, dia melajukan motor maticnya dengan kecepatan tinggi, seketika perasaan malu juga rasa bersalah datang secara bersamaan.
Jalanan kembali hening sebelum akhirnya suara tawa menggema memecah kesunyian di antara suara hujan.
"Hahaha, kamu lucu banget sih. Sumpah ya ini pertama kalinya aku di pipisin cewek" Suara tawanya sama sekali tak membuatku terhibur malah aku mulai kesal dengan semua ejekannya.
"Besok-besok ku bawakan diapers deh, kalo mau ketemu. Haha" Sepanjang jalan ia terus berbicara sendirian mengejekku sambil tertawa cekikikan.
Aku yang merasa bersalah sekaligus kesal hanya terdiam mendengar ejekannya.
__ADS_1