
Doni tak mampu berkata sepatah katapun, ia hanya berdiri tegak memperhatikanku yang masih di kuasai amarah.
"Ayok duduk dulu yuk" Aryo menarik lenganku.
Aryo adalah suami Putri, mereka menikah lebih dulu dariku yakni dua minggu sebelum aku menikah, mereka di karuniai anak laki-laki yang lahir hanya beda 2 minggu dengan Bintang. Saat ini Putri sedang hamil satu bulan anak kedua mereka, Aryo masih saudaraku, maka tak heran jika aku sangat dekat dengan mereka.
Aku mengikuti perintah Aryo, aku kembali duduk di samping Putri, Aryo menyuruh Ria pergi karena ia tau aku telah di kuasai oleh amarah yang bisa saja aku memperlakukan Ria dengan buruk.
"Oke, sekarang ceritakan pada kita apa yang sudah terjadi padamu Doni? biar istrimu tak menjadi salah faham" Aryo melayangkan pertanyaan pada Doni yang sedari tadi terdiam.
"Tadi siang Ria meminta bantuanku untuk pindahan, aku menyetujuinya karena dia perempuan, lagipula aku sering meminta bantuannya" Doni mencoba menjelaskan kejadiannya.
"Apa yang membuatmu marah?" Aryo kembali melayangkan pertanyaannya, kali ini ia menatapku tajam.
"Ia membuatku khawatir setengah mati, ia tak memberiku kabar, ia meninggalkanku di persimpangan jalan demi perempuan itu yang katanya hanya membantu? membantu apa yang membuat lehernya penuh dengan bekas ciuman dengan warna yang sangat mencolok? apa aku salah Aryo? lalu kemana mereka 3 jam lamanya?" Aku berteriak dengan lantang, tidak ada lagi yang ku pikirkan saat ini selain amarah yang terus membakar habis akal sehatku.
"Aku tidak melakukan apapun dengannya, aku hanya mengantarkan nya ke tempat kos barunya. Itu saja" Doni masih mengelak, dan aku masih tidak puas dengan jawabannya.
__ADS_1
"Kau salah Doni, membiarkan istrimu berjalan sendirian di tengah malam, sedangkan perempuan lain kau bela" Aryo membelaku. Itu membuatku sedikit tenang.
"Aku minta maaf sayang, tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku salah maafkan aku"
Malam semakin larut sedangkan permasalahan masih berlanjut, aku masuk ke dalam kamarku. Mulutku tak henti-hentinya mengumpat.
Aku memaki Doni , ku keluarkan semua unek-unek yang bahkan sudah lama ku pendam. Malam ini terasa sangat panjang, waktu sudah hampir subuh, kak Desy menelponku ia menunggu kedatanganku, aku kembali ke tempat kerjaku dengan menggunakan angkutan umum.
Doni segera mengambil motor hendak mengantarkanku.
"Ayok , ku antar !" Ia menarik tanganku untuk ikut dengannya. Di kejauhan sana seseorang memperhatikan aku dan Doni.
Jalanan yang sepi membuat angkot melaju ugal-ugalan, sang supir seperti habis menenggak minuman keras, aku merasakan ketakutan air mataku terus mengalir di dalam hati, aku terus berdoa meminta perlindungan kepadaNya.
Rasa takut membuatku meminta sang supir untuk berhenti, padahal kantor kak Desy masih sangat jauh. Aku berhenti di depan sebuah warung makan, rupanya warung itu adalah tempat judi pria hidung belang, aku menatap mereka yang sedang menenggak minuman dari sebuah botol berwarna hijau, sesekali mereka tertawa sangat keras. Jantungku berdebar sangat cepat, aku melanjutkan perjalananku dengan setengah berlari jalanan sangat sepi dan gelap mataku yang minus tak dapat melihat jalanan dengan jelas.
TID TID
__ADS_1
Sebuah motor metic berwarna hitam pekat berhenti di depanku.
"Astagfirulloh, siapa kamu?" Aku berjalan mundur hendak berlari.
Pria itu berusia 2x lipat di atasku, ia turun dari motornya memberikanku sebuah ID Card bertuliskan nama "Mario Wiguna" di bawahnya tertera alamat lengkap tempat ia tinggal, ia mengenakan jaket gojek, helm dan juga masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Jangan takut, ini ID Card saya. Kalo kakak tidak percaya kakak boleh mengeceknya sekarang. Maaf, tadi saya melihat kakak berantem sama cowoknya, saya teringat adik perempuan saya, saya merasa khawatir dengan kakak, makanya saya mengikuti kakak. Kakak mau kemana ? biar saya antar" Ia membuka masker dan helmnya, memperlihatkan wajah aslinya.
" A a aku mau ke tempat kerja" Aku merasa gugup dan sangat ketakutan.
"Jangan takut saya bukan orang jahat, demi Alloh saya tidak berniat jahat, ini KTP saya, ini ponsel saya. Ayo biar saya antar". Ia memberikan ponsel dan KTP miliknya.
Aku duduk di belakangnya, ia memakai helemnya dan menjalankan motor metiknya dengan perlahan.
"Tadi itu cowoknya ya?" Ia membuka pembicaraan memecah keheningan.
"Itu suami saya" Aku menjawab singkat, masih ku rasakan ketakutan juga keraguan pada pria yang sedang membawaku.
__ADS_1
Setelah sampai aku segera turun dan mengembalikan ponsel juga KTP yang ku pegang sejak tadi, aku mengeluarkan uang selembar sebesar 20rb. Ia menolak pemberianku, ia menyuruhku segera masuk ke tempat aku berkerja. Aku berlari meninggalkannya di pinggir jalan, ia pun segera pergi .