
"Bu, ini tidak seperti yang kamu bayangkan?" Ia segera mengambil selimbut untuk menutupi tubuh perempuan itu, sedangkan ia sendiri segera berdiri dan mengambil handuk yang tergantung di balik pintu.
Doni berjalan menghampiriku, ia hendak berbicara tapi aku sudah tak mampu lagi untuk mendengarkan apapun yang akan ia katakan.
Aku mundur beberapa langkah menahan sesak di dada yang kini membuat kepalaku pening.
"Suruh dia pergi !" Aku kembali berteriak dengan amarah yang menguasaiku.
Perempuan itu segera memakai pakaiannya, ia pergi melewatiku yang masih berdiri di depan pintu masuk.
Aku segera masuk dan membuka lemari, ku ambil semua baju-baju Doni. Ku masukan semua baju dan barang milik Doni ke dalam koper.
"Sekarang kamu boleh pergi" Ucapku dengan lantang, sesekali tangan kananku mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.
"Kamu mengusirku? bagaimana dengan teman-temanmu? kelakuanmu yang membuatku muak? tak bisakah kau melihat cermin sebentar saja Naura ? dan kau yang seharusnya pergi bukan aku !"Doni balik meneriakiku.
__ADS_1
Aku yang membelakanginya segera membalik badan.
PLAK
Satu pukulan mendarat di pipi kanan Doni meninggalkan warna merah.
"Oh begitu, itukah maumu? dan seperti inikah balasanmu? aku bekerja banting tulang untuk membantumu, bahkan aku membiarkan anakku sendirian di kejauhan sana.. pernahkah kau menghargaiku, memahamiku, atau setidaknya memperlakukanku sebagai istrimu? pernahkah kau bertanya? apakah aku baik-baik saja ? setiap hari aku membersihkan bajumu, tempat tidurmu, menyiapkan makan untukmu, lalu pergi untuk bekerja, setiap satu bulan sekali aku harus mengunjungi anakku juga pulang untuk kuliah. Tidakkah kau tau aku begitu jenuh dengan keadaan ini? bahkan ketika hidup di luar sana dengan bebas, tidakkah kau menyadarinya ? berkali-kali kau membuatku terluka hingga mereka menjadi satu-satunya pelarianku, bahkan kau sangat sibuk dengan dirimu sendiri. Bekerja, main game, dan perempuan. Haha , kau sungguh menjijikan Doni. Kau sama sekali tidak pernah mengingat atau memperhatikan Bintang, bahkan kau tidak ada di hari ulang tahunnya. "
Tawaku menggelegar dan berganti kembali menjadi tangis.
Aku berteriak menangis dengan sangat keras, ku rasakan kembali luka-luka lama yang sudah mengering kini kembali basah rasa sakit yang amat menyayat kembali ku rasakan. Doni masih mematung di tempatnya berdiri.
"Ya Tuhan, aku tidak tahan lagi" Aku duduk lemas , kedua kakiku tak mampu lagi untuk menopang berat tubuhku.
Doni mendekatiku ia hendak memeluk tubuhku dengan kedua tangannya, aku segera mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke belakang.
__ADS_1
"KAU PENGHIANAT, KITA AKAN BERTEMU LAGI DI PENGADILAN" Aku mengemasi barang-barangku, lalu segera pergi ke tempat Wina. Karena aku memiliki kunci cadangan kamar Wina, Ku simpan semua barang-barangku di sana.
Aku mendatangi Cafe Taria masih dengan keadaan emosi, amarah yang terus mengendap di dalam diriku. Aku masuk melewati meja kasir dan kitcen, Evi dan teman-temanku menatapku heran. Ia mengikutiku melangkah ke ruang SVP.
"Loh kamu bukannya pulang? kok udah di sini lagi? ada apa?" Tanya Evi, yang berjalan di belakangku.
"Nanti ku ceritakan" Aku mempercepat langkahku, sementara Evi berhenti melangkah, menatapku hingga punggung ku tak terlihat tertutup pintu ruangan SVP.
TOK TOK TOK
"Masuk" Sapa perempuan itu.
"Loh, kamu kok ada di sini? bukannya kamu cuti?" Tanya perempuan itu, matanya terbelalak kaget melihat kedatanganku.
"Iya bu, kemarin ada yang tertinggal jadi terpaksa balik lagi ke Jakarta, oh ya Bu. Ini surat pengunduran diri saya. Mulai besok saya tidak akan bekerja lagi di sini, karena kuliah saya mengharuskan saya untuk pulang kampung dan fokus belajar di sana" Aku memberikan amplop berwarna cokelat berisi sebuah surat yang ku buat di kamar Wina, aku menjadikan kuliah sebagai alasan untuk berhenti bekerja.
__ADS_1