Pena Hitam

Pena Hitam
77


__ADS_3

Ku pandangi wajah polos itu satu persatu, ada perasaan bigung ku rasakan, bagaimana tidak ? adalah untuk yang pertama kalinya aku berdiri di hadapan banyak anak , jika berhadapan dengan dosen killer bagiku itu sudah biasa, bagaimana dengan anak-anak? dengan karakter yang memang memusingkan. Ya namanya juga anak-anak, ada yang mudah menangis, ada yang tempramen, ada yang susah diam, ada yang bawel , ada yang cari perhatian dan masih banyak lagi. 40 anak dengan 40 karakter yang berbeda, dan seorang guru di tuntut untuk bisa mengendalikan mereka semua, di hormati tapi bukan di takuti.


"Ayolah, hanya anak-anak. Mereka seperti Kurcaci, kau hanya harus mengikuti setiap keinginan mereka, maka mereka akan mengikuti arahanmu" Benakku, Aku yang sedikit tempramen begitu tak yakin dengan pekerjaan ini. Namun, jika menyerah adalah pilihan maka aku tak dapat menaklukan dunia.


"Baik anak-anak perkenalkan Nama bu guru adalah ibu Naura, Ibu tinggal di Bandung. Mulai besok kalian bakalan belajar sama Ibu yaa. Ada pertanyaan?" Bu April masih berdiri di sampingku ia menatapku sambil tersenyum tipis.


"Bu kok Ibu cantik sih" Celoteh seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling pojok, sepertinya ia yang banyak bicara sekaligus paling aktif di antara yang lain.


"Cie ciee, Arfi naksir Bu Guru baru nih" Sepontan semuanya bersuara secara bersamaan di iringi tepuk tangan .

__ADS_1


Sejenak aku terdiam mengatur nafas, pipiku memerah menahan malu, perasaan gugup dan bingung yang tak kunjung hilang.


Bu April rupanya memahami perasaanku, ia kembali mengajakku ke kantornya untuk membicarakan banyak hal.


"Bu, bagaimana perjalan kehidupan Ibu, sehingga Ibu menjadi orang yang hebat seperti ini?" Aku memberanikan diri untuk bertanya , agar lebih dekat lagi dengannya .


"Saya tau semua yang kamu alami, saya seorang psikolog, saya pernah mengajar di sebuah lapas. Saya bisa membaca pikiran seseorang, bahkan tanpa kamu bercerita, saya sudah bisa mencerna penyesalan terdalam yang sedang kamu rasakan". Ia meneruskan pembicaraannya , seketika aku menunduk, ku teteskan air mata yang tak sanggup ku tahan, akhir-akhir ini aku mudah sekali menangis bahkan di hadapan orang asing sekalipun.


"Saya pernah menemui banyak orang di dalam hidup saya, pemabuk, pembunuh, tukang judi, bahkan tak jarang mereka yang hamil di luar nikah. Mereka orang-orang yang tersesat, harus di rangkul dan di arahkan.

__ADS_1


Obrolan kita semakin menarik, entah bagaimana. Aku seperti terhipnotis, ku ceritakan semua yang telah ku alami, perjalanan hidup yang gelap, sisi terburuk dalam hidupku, Pena Hitam yang terus mengisi lembaran kertas putih yang mewakili pikiran, perasaan dan kemunafikanku.


Ku tuangkan semua perasaanku, kegelisahan, ketakutan bahkan ketidak wajaranku yang membuat jiwaku bergetar hebat. Sesuatu yang selama ini ku pendam sendiri ku ungkapkan semuanya, semua yang tak ingin ku alami, semua yang hampir membuatku gila, percobaan bunuh diri, dendam yang terus membara , dan luka yang bertubi-tubi membuatku menyisakan trauma yang sangat dalam.


Bu April terdiam menyimak semua yang ku ceritakan, sesekali ia menganggukan kepalanya, ia begitu antusias mendengarkan ceritaku yang terkadang tanpa ku sadari aku membuang air mata penderitaan yang telah ku alami.


"Biarlah masalalumu menjadi rahasia kita berdua, terima kasih kau sudah mempercayaiku. Semuanya akan terasa indah ketika kita hijrah. Dulu, di usia 17 tahun saya di rehabilitasi karena kedapatan memakai narkoba jenis heroin. Club malam adalah tempat saya menghabiskan waktu bersama teman-teman. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua membuat saya terjerumus ke dalam gelapnya dunia hitam yang telah menjerat saya. Jangan berkecil hati semua orang memiliki masalalu, kamu, saya dan kita semua yang hidup di muka bumi. Tapi, mulai hari ini kamu harus melakukan banyak kebaikan, jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri, beri dirimu kesempatan untuk memperbaikinya. semangat ya" Ia menatapku serius kali ini.


Bel pun berbunyi tanda jam belajar sudah habis, semua anak berhamburan keluar . Bersama dengan bubarnya mereka, akupun ikut pamit untuk segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2