
Sejak kepulanganku satu jam yang lalu dari rumah kosong itu. Aku tenggelam dalam lamunan, tubuhku terasa sangat lemas, kakiku bahkan tak dapat menapak di lantai yang cukup dingin ini.
Pikiranku melayang entah kemana, gelap dan cukup dalam. Aku kesepian dan sendirian. Dan Doni telah membuatku terluka lebih dalam.
Rasa sayangnya yang begitu menggebu telah membuatku merasa terganggu, bahkan keinginannya memiliki tubuhku seutuhnya membuatku sedikit membencinya.
Doni adalah orang yang baik, namun cara ia menyampaikan rasa cinta nya adalah sebuah kesalahan, dimana rasaku beradu antara benci dan khawatir.
Aku benar-benar kesepian dan sendirian malam ini, bahkan mereka yang ku sebut teman tak satupun menemaniku, rasanya aku terlalu egois berharap seseorang dapat mengerti perasaan ku saat ini.
"Apa kamu baik-baik saja?" Satu pesan telah masuk, sebenarnya itu pesan trakhir yang ia kirim padaku. Sejak aku keluar dari rumah kosong itu, ia berusaha keras untuk menghubungi ku, berkali-kali ia menelponku, juga pesan singkat berisikan kata maaf.
__ADS_1
"Ya" Balasku singkat, aku memang tidak begitu berniat untuk membalas pesannya, hanya saja pesan-pesan yang masuk telah mengganggu ku.
"Dasar psycopat! " Pikirku dalam hati.
Mudah sekali baginya meminta maaf dan mengatakan kebohongan yang sama sekali tak ingin ku dengar, ia bilang ia menyesal tapi sama sekali aku tidak melihat penyesalan di dalam dirinya.
Jelas ia sengaja melakukan itu padaku, tapi kenapa? pikiranku benar-benar kacau di buatnya, aku khawatir sesuatu mungkin akan terjadi padaku, suatu hari nanti, entahlah aku begitu naif, membayangkan sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi dalam hidupku.
Aku tersenyum sinis membaca balasan pesan darinya, bukan merasa senang hanya saja aku sedikit kecewa dengan apa yang ia katakan.
Huft seandainya ada Akbar di sini, mungkin aku tidak akan merasakan apa yang seharusnya tidak ku rasakan ini, Akbar. Bahkan aku tidak tau dimana ia berada sekarang. Tapi pikiran dan perasaanku hanyalah tertuju padanya. Ia benar-benar telah membuatku gila.
__ADS_1
Mungkin sudah saatnya aku melupakan segalanya, semua yang terjadi di antara aku dan Akbar, tapi entahlah itu terlalu sulit bagiku. Ia slalu menjadi yang paling indah di antara yang terindah, dan aku sangat mencintainya.
Seandainya membuka hati dapat ku lakukan dengan begitu mudah, mungkin aku tidak akan sebimbang ini.
Ku pejamkan mata, ku hirup udara sebanyak-banyaknya. Berat, dadaku terasa sesak, ini aneh. Aku benar-benar telah tenggelam di antara ketidak berdayaanku.
"Baiklah, ku pikir aku akan mencobanya" Pikirku dalam hati. Melawan sesak memang tidak mudah, apalagi berdampingan dengan mereka yang sama sekali tak ku inginkan.
Di antara rumitnya pikiranku, ku coba memikirkan semua tentang Doni, lalu perlahan tapi pasti ku buang semua tentang Akbar, ku hapus semua hayalan untuk membangun masa depan dengannya, hidup bahagia dengan beberapa anak kembar seperti yang pernah kita bahas saat itu, saat kami duduk di bangku SMA.
Akbar, ku pikir ia akan selalu baik-baik saja tanpa aku, bahkan mungkin ia tak lagi mengingatku saat ini. Hidup terkadang memang tidak adil, semesta membuatku tertawa di antara ketidak berdayaan, lalu menangis di antara kekecewaan. Sungguh ini sangat tidak adil untuk ku. Dan aku takut..
__ADS_1