Pena Hitam

Pena Hitam
16


__ADS_3

Annisa mengejarku yang terus menangis sambil berjalan. Jika ku ingat hari itu, betapa memalukannya diriku ini. Seperti seorang balita yang sedang merengek meminta sesuatu terhadap ibunya.


Annisa bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi, yang membuatku marah padanya. Annisa cukup dewasa ketika itu, ia berusaha menjelaskan semua yang sudah terjadi. Tapi, aku begitu egois. Sedikitpun aku tak berminat untuk mendengarkannya , apalagi ingin tau semua hal yang berhubungan dengan Akbar.


Hari itu, waktu seakan berhenti bersamaan dengan hujan yang turun secara tiba-tiba. Aku ingat betul, ketika ia mengatakan betapa ia sama sekali tidak tertarik terhadap Akbar. Ia juga sering mengolok-olok Akbar, nyatanya ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Akbar.


Jika di ingat-ingat lagi, saat itu adalah saat-saat terendah dalam hidupku, patah hati terhebat yang ku rasakan dimana aku harus kehilangan pacar dan juga sahabat terbaikku dalam satu waktu.


Malam harinya Annisa berkali-kali menghubungiku, rupanya ia masih belum puas bahkan setelah ku abaikan berkali-kali , ia tetap berusaha menjelaskan segalanya. Entah ia merasa bersalah atau memang sama sekali tidak bersalah bahkan tidak tau apapun yang terjadi antara aku dan Akbar beberapa hari ini.


Setelah berkali-kali ia mencoba berbicara denganku dan tak mendapatkan hasil. Akhirnya ia menyerah, ia tidak memperdulikanku lagi. Bahkan hubungan kita semakin hari semakin jauh. Jika di pikir-pikir aku begitu bodoh rela mengakhiri persahabatan yang sudah ku mulai sejak 5 tahun lalu, demi ego yang sebenarnya tak begitu sulit untuk di kendalikan.

__ADS_1


Ah, jika saja aku dapat kembali ke hari itu. Hari dimana aku harus kehilangan sahabat terbaikku, tentu aku tidak akan membuat kesalahan apapun yang akan menjauhkanku darinya. Bahkan seorang Akbar sekalipun.


Ujian Negara telah di laksanakan selama tiga hari berturut-turut, di tambah Ujian Madrasah secara teori dan praktik. Para siswa-siswi telah melaksanakan ujian dengan tertib selama kurang dari dua minggu. Waktu yang cukup menguras tenaga, pikiran dan juga hati.


Sayangnya untuk mendapatkan surat kelulusan semua siswa-siswi harus menunggu selama tiga bulan lamanya. Tentu, bukan waktu yang sebentar.


Selagi menunggu surat kelulusan turun, ku sempatkan untuk mendatangi rumah Fitri, Fitri adalah teman masa kecilku, sejak lulus SD ia tidak melanjutkan sekolah ke jenjang menengah pertama. Begitu mendapat Ijazah SD, ia langsung di bawa ke kota oleh sanak saudaranya untuk kemudian bekerja pada sebuah butik ternama di Bandung kota.


Pucuk di cinta ulampun tiba, Fitri menghubungiku. Mungkin ibunya memberitahukan kedatanganku ke rumahnya kemarin, Ia hendak mempekerjakanku di butik tempatnya bekerja, senang. Itulah yang terbesit dalam pikiranku.


Nah, waktu itu BlackBerry sedang ngehits di masyarakat, ku pikir dengan bekerja di butik aku dapat secepatnya membeli Blackberry, agar bisa ku perlihatkan pada teman-temanku di hari kelulusan nanti.

__ADS_1


Hari kelulusanpun tiba, kami semua di nyatakan lulus dengan nilai yang cukup baik. Aku sangat gembira dengan kabar baik ini, ku pikir aku takan bisa melewati ini, mengingat aku pernah naik kelas percobaan dan juga skorsing saat kelas sepuluh dulu.


Semua siswa turun dan berkumpul di lapangan, saling mencoret seragam masing-masing, memberi tanda tangan dan lain sebagainya, kecuali aku. Aku harus rela mengabaikan hari kelulusanku demi mencari uang.


Sejak bekerja di butik, aku jarang sekali pulang. Selain tidak tau arah jalan pulang, aku juga harus menghemat uang agar secepatnya membeli BlackBerry.


Waktu itu sepertinya akhir tahun 2014, aku mulai bekerja di butik dengan gajih 900 ribu dan hanya di beri tempat tidur, jadi makan dan lain sebagainya aku harus mati-matian menghemat uang yang ku miliki.


Dan Annisa, tentu saja sejak kejadian itu kami tak lagi saling bicara, bahkan nomor handphone dan akun social medianya ku hapus agar tak lagi mengingatnya sebagai luka .


Dear Annisa, nama yang sengaja ku samarkan. Sabahat terbaik yang slalu membuatku tertawa. Jika suatu hari nanti kamu membaca ini, kamu harus tau. Kalo sampai detik ini aku masih slalu mengingatmu sekalipun kita tak lagi saling bicara seperti dulu. Semoga sukses dan sehat selalu :)

__ADS_1


__ADS_2