
Sejak hari itu ia menjadi lebih berani padaku, ia yang biasanya lembut juga berubah menjadi sedikit kasar. Bahkan ia slalu meminta haknya setiap kali kami bertemu, jika aku tidak menuruti keinginannya ia mengancam akan meninggalkanku.
Perlakuannya benar-benar telah membuatku muak, aku merindukan Akbar yang dulu bukan seseorang yang memperlakukan ku seenaknya seperti ini.
Aku merasa jengah dengan sikapnya dari hari ke hari, ia juga mulai terang-terangan menunjukan sifat aslinya, ia mulai minum di depanku atau membalas chat dari perempuan lain ketika berada dekat denganku.
Semua itu ia lakukan dengan sadar, hampir setiap hari ia membuatku marah yang berujung pertengkaran lalu berakhir dengan tangisan, kali ini hidupku seperti di neraka. Setiap hari hanya ada pertengkaran dan perdebatan.
Walau begitu, kenyataanya aku tak pernah bisa jauh darinya apalagi sampai meninggalkannya, aku membiarkan jantungku berdarah-darah menahan sakit yang terus-menerus ia berikan padaku.
Satu bulan telah berlalu , ada yang aneh dengan tubuhku, setiap hari terasa pusing dan mual. Wajahku mulai terlihat pucat dan perasaanku terasa lebih sensitif. Terlebih lagi, hampir setiap malam menginginkan makanan yang aneh-aneh bahkan sebuah makanan yang tidak ku sukaipun akhir-akhir ini masuk ke dalam daftar menu favorit.
"Kenapa ya , jangan jangan aku..... haaaah bagaimana dengan masa depanku jika itu benar terjadi.." gumamku dalam hati.
"Hmm, sudahlah ini hanya masuk angin , tidak akan terjadi apa apa." Pikirku lagi mencoba untuk menghibur diri.
Aku menelpon Akbar memintanya untuk menemuiku . Namun, lagi-lagi ia terlihat acuh, aku mengerti betul bagaimana sifatnya, jika ia mulai acuh artinya ada perempuan lain yang membuatnya berubah.
"Kamu dimana?, ada hal yang harus kita bicarakan" . Kataku dengan nada serius.
__ADS_1
"Ada hal penting apa? ". Tanya Akbar dengan nada santai.
"Pokoknya kamu harus ke sini sekarang juga, jangan lupa bawa tespek , aku malu kalo aku harus beli sendiri , apa kata orang nanti ."
Aku sedikit membentak.
"Kamu kenapa? kamu hamil? Ya udah aku jemput" Dari suaranya ia terlihat mulai panik.
"Aku tidak tau, makanya kita cek sama-sama".
"Iya iya, aku pergi sekarang."
Sambil menutup telponnya dengan kasar.
Benar, sebelum menelpon Akbar aku telah lebih dulu mengecek keanehan dalam diriku dan hasilnya seperti yang tadi ku katakan dua garis merah berjejer rapih. Tapi, entah kenapa perasaanku terasa santai dan sama sekali tidak peduli mungkin karena aku terlalu syok melihat kenyataan yang ada.
Sementara, rumah Farid adalah saksi bisu dosa terindah yang pernah bahkan sering kami lakukan, rumah itu juga yang akan menjadi sejarah kelam sepanjang hidupku, dan hari ini kami kembali ke rumah itu untuk mengetahui sebuah kebenaran yang mungkin saja akan menghancurkan masa depanku dan Akbar .
Aku sudah cukup tau dengan hasil yang akan aku dapati nantinya, hanya saja aku merasa penasaran, bagaimana jika mencobanya sekali lagi untuk membuktikan bahwa tes itu benar-benar akurat.
__ADS_1
Sedangkan, Farid sudah terbiasa dengan kehadiran kami di rumahnya, ia membiarkan kami keluar masuk rumah itu semau kami, karena selain kosong rumah itu juga milik Farid sendiri.
Begitu sampai, aku langsung masuk kamar mandi dengan membawa tespek di tas kecilku, aku mengeceknya sendiri di kamar mandi dengan penuh ketakutan.
Hingga 15 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi.
"Gimana?" . Raut wajahnya terlihat cemas, ia terlihat sedikit ketakutan untuk mendengarkan jawabanku
Aku menyodorkan tespek yang dia bawa tadi dengan 2 Garis merah , aku terdiam sebelum akhirnya menangis.
"Bagaimana ini?" . Tanyaku.
"Ini ngga mungkin, aku belum siap, aku belum mau menikah". Ia menatapku sendu, jika saja saat itu aku membawa pisau rasanya ingin ku bunuh saja dia.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tangisan tak dapat ku bendung lagi.
"Kita buang aja ya". Dengan mudahnya Akbar mengajakku membuang janin yang tak berdosa itu.
"Aku harus jadi pembunuh? bagaimana bisa? aku takut". Aku berteriak lagi-lagi emosiku meledak-ledak.
__ADS_1
"Tidak akan terjadi apa apa, percaya dengan ku". Ia memegang tanganku berusaha untuk menenangkan sekaligus meyakinkan ku untuk bersedia membunuh calon bayinya.
Dia benar-benar kejam, ku pikir dia tidak sebajingan ini, nyatanya lebih jahat dari iblis. Aku telah salah menilainya , jika saja aku tau akhirnya akan seperti ini, jangankan untuk bersamanya, mengenalnyapun aku tidak ingin.