Pena Hitam

Pena Hitam
67


__ADS_3

Doni tersadar akan ponselku yang hancur berantakan, ia menatapku penuh dengan rasa penasaran, ku buang mukaku saat Doni menatapku dengan tajam.


"Maaf, ponselku terjatuh saat menimbang bayi Bintang. Aku tau aku ceroboh". Aku menundukan kepala, dengan alasan yang tak masuk akal. Ku harap Doni tidak akan bertanya dengan detail.


"Iya sayang, aku mengerti. Kau boleh memakai ponsel milikku. Lagipula aku bekerja, ponselku tidak ku pakai di sana". Doni menyodorkan ponsel miliknya. Aku sangat menyesal telah melakukan hal itu, karena emosi aku hampir kehilangan segalanya.


***


Alangkah hancur dan berkecainya hatiku


Bila ku terdengar berita perkahwinanmu


Gementar hatiku diam tak terkata


Menahan sebaknya di dada


Kutahukah engkau sesungguhnya hati ini


Masih lagi menyayangi dan merinduiku

__ADS_1


Dan belum pun sempat ku membalut luka


Kau menambahkan lagi kelukaan ini sampai hatimu


Setelah kian lama terpisah


Ku harap akan bertemu lagi


Puaslah aku menunggumu


Namun kau masih membisu


Patutlah kau tak pedulikan ku


Oh berderai airmata ku mengiringi hari


Persandinganmu


Walaupun pahit kenyataan ini

__ADS_1


Terpaksa aku hadapi


Kenangan lalu terimbas kembali


Terhiris hatiku


Sudah hampir 19x lagu ini kuputar dengan sangat keras, lagu milik Lestari yang mewakili perasaanku. Yang sudah berhasil ku hafal di luar kepala, aku begitu terbuai akan lagu ini, kalimat demi kalimat yang menggambarkan duka di atas kebahagiaan seseorang yang pernah singgah merajut asa.


Aku kembali tenggelam, ku biarkan hari ini rumah berantakan, aku ingin berkabung untuk sekali saja seumur hidupku , melepas segala bentuk kenangan yang kini berubah menjadi kesedihan.


Beranda FaceBook, Instagram dan Twitter penuh dengan pemberitahuan. Hari ini Akbar menjadi Raja satu hari, semua mata tertuju padanya, seluruh keluarganya bersuka ria merayakan kebahagiaan yang hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup, semua tamu berlomba-lomba untuk berpoto bersama, mengajak bersalaman dan mengucapkan selamat atas kehidupan baru yang akan mereka jalani, sedangkan aku di sini, di kamar yang gelap dan berdebu, ku biarkan tubuhku menguras air mata kesedihan, hatiku terus mengumpat seolah ini tak boleh terjadi, pikiranku terfokus pada ingatan tentang Akbar. Akbar yang telah mengajarkanku banyak hal, air mata, bahagia, tawa, kesedihan dan iklas. Iklas untuk menerima kenyataan bahwa takdir telah memisahkan kita, lalu mempertemukan kita pada orang yang tepat. Dan Akbar jelas bukan orang yang tepat, ia hanya singgah untuk memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti.


Semua teman-temanku mengenal Akbar , tak heran jika di beranda Social Mediaku mereka saling berlomba memposting poto kebersamaan mereka dengan pengantin yang tak lain adalah Akbar, berandaku penuh dengan ucapan selamat dan doa untuk Akbar. Hanya aku yang bersembunyi di sini layaknya seorang pecundang.


Satu hal yang menarik perhatianku, ku lihat Juna memposting poto kebahagian Akbar bersama Istrinya dengan mengenakan pakaian pengantin berwarna Pink cerah, sontak membuatku geli. Bagaimana tidak? itu adalah satu-satunya warna yang paling ia benci seumur hidupnya. Namun di hari pernikahannya ia justru membuktikan kebencian itu hanya tentang waktu dimana suatu hari nanti kau akan berbalik menyukainya.


Semakin lama Jantungku semakin sakit, semakin ku scroll beranda semakin ku temukan kenyataan, kenyataan terpahit dalam hidupku yaitu menyaksikannya bersanding duduk di pelaminan.


Ku pandangi Boneka Teddy Bear berwarna Pink muda yang dulu pernah menjadi saksi bisu kebahagiaan kami, ku peluk erat. Ku tumpahkan kekecewaanku di sana, semakin ku mengingat rasanya semakin sakit.

__ADS_1


Benakku terus bertanya-tanya bagaimana bisa ia menikah sedangkan 5 bulan lalu ia masih menemuiku, ia menangis bersimpuh di hadapanku, mungkin seperti ini yang ia rasakan saat itu, luka terdalam yang ia alami bahkan aku merasakannya.


__ADS_2