
"Nih pak.." Aku memberikan sebuah amplop putih pada beberapa security yang sedang berjaga di pos pintu gerbang utama , amplop yang tertutup rapat ini ku dapat dari Mami Ehan, yakni pengawas yang sudah ku anggap seperti mamaku sendiri.
Jujur aku masih merasa bingung, atas apa yang sedang terjadi, mengapa mami Ehan begitu panik dan menyuruhku pulang, bahkan ia mewajibkan Riani untuk ikut serta pulang bersamaku. Jikapun sesuatu telah terjadi padaku, Riani tidak seharusnya ikut denganku kan? mengingat ia hanya partner kerja dan kami tidak memiliki ikatan saudara.
"Silahkan, saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya yah" Ucap salah satu security itu.
Kalimat yang mereka ucapkan malah membuatku semakin bingung, siapa yang meninggal? kenapa tidak ada seorangpun sanak saudara yang menghubungiku? ya tuhan ada apa ini? apa keluargaku baik-baik saja?
Seketika perasaanku mulai panik, ku tatap Riani yang berdiri di sebelahku, perlahan perasaan khawatir itu berubah menjadi ketakutan , tubuhku bergetar hebat, keringat mulai membasahi kemeja putih yang ku kenakan, pikiranku melayang , ketakutan telah menguasaiku, aku takut jika sesuatu terjadi pada keluargaku.
Aku berlari menuju pintu gerbang yang telah di buka oleh salah satu security itu, di belakang Riani telah mengejarku, tersirat dari sorot matanya ia seperti mengkhawatirkanku.
__ADS_1
Pikiran buruk yang tengah menguasaiku, membuatku sulit mengendalikan emosiku, terlebih konsentrasi ku benar-benar buyar du buatnya, bahkan aku tak menyadari ada orang yang sedang berdiri tegak di depan pintu gerbang utama.
BRUKK !!!
Seketika aku menabrak tubuh kurusnya, anehnya bukan dia yang terjatuh, malah aku yang terduduk di antara kedua kakiku.
"Putri? ngapain kamu di sini?" Tanyaku reflek.
Aku segera berdiri untuk mengatur nafasku, lagian bagaimana bisa ia berdiri tepat di depan gerbang utama, jika gerbang itu tiba-tiba di buka lalu mobil pengangkut bahan keluar bagaimana? mungkin dia bisa tertabrak, mengingat tubuhnya yang kurus, kecil, dan juga pendek.
"Ada apa sih? aku mau pulang" Jawabku sedikit membentak, perasaan kesal masih menyelimutiku. Padahal Putri tidak tau apapun , bahkan ia tidak tau malam tadi aku ikut party yang hampir saja membahayakan nyawaku.
__ADS_1
Riani mulai berlari mengikutiku, ia tampak bingung dengan apa yang di lakukan Putry, sepertinya Riani pun tidak tau apa yang sedang Putri rencanakan.
"Put, ada apa sih?" Tanya Riani, yang kini berada sejajar denganku dan Putri.
"Kita jalan.." Putri menatapku dan Riani secara bergantian.
"Jalan apa sih? ini aku ada yang meninggal" Jawabku ketus, perasaan khawatir dan takut masih ku rasakan.
"Hahaha" Putri tertawa dengan keras, sedangkan aku dan Mery hanya menatapnya heran.
"Yang menelpon pengawas kalian itu aku, aku yang minta pengawas kamu buat pulangin kalian hari ini, karena kita mau keliling kota bandung, kota yang di ciptakan ketika tuhan sedang tersenyum hehehe"
__ADS_1
"Lah terus kok mereka bisa segampang itu menyuruhku pulang?" Aku masih tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan, yang ku tau hari ini aku harus pulang untuk memastikan tidak terjadi apapun kepada kedua orang tuaku.
"Ya tadi aku telpon pengawas kamu, terus bilang deh kalo kakek kamu meninggal, aku juga bilang kalo kamu harus di antar Riani pulang karena orang tuamu khawatir kalo kamu harus pulang sendiri"