Pena Hitam

Pena Hitam
95


__ADS_3

Pagi hari di langit kota Jakarta awan berwarna hitam terlihat gelap pertanda tidak akan ada mentari hari ini, gerimis telah turun sejak satu jam yang lalu membuat suasana terasa dingin, ini adalah kali pertama gerimis turun sejak masuk bulan september . Walau begitu, gerimis tak menghalangi orang-orang untuk tetap beraktifitas.


Ku lihat jam di tangan kiriku, waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi, rasa kantuk sama sekali tak kurasakan padahal aku belum tidur sama sekali sejak tadi malam.


Aku segera mandi dan memakai pakaian, mengeluarkan koper serta tas branded berwarna salem juga wedges yang akan ku kenakan pagi ini.


Ku lihat layar ponsel ada 49 panggilan tak terjawab serta 30 pesan yang Doni kirim padaku, aku mengabaikannya. Ku buka sim card bertulis XL di atasnya, ku patahkan menjadi dua. Rupanya ia berusaha menghubungiku sejak tadi malam.


Ku ambil wedges dan memasangkannya di kedua kakiku, ku tenteng tas berwarna salem tadi dengan tangan kiriku, tangan kananku menarik ujung koper hingga keluar kamar.


Ku lihat Wina, Erika dan Evi terlelap di kasur dengan nyaman. Mereka sudah tidur sejak jam 5 pagi tadi. Sedangkan aku, mataku tak mampu terlelap meski sudah ku paksa berkali-kali.


Segera ku langkahkan kaki untuk pergi, grab car sudah ku pesan sekitar 10 menit yang lalu, ia sudah menungguku di depan gerbang. Seorang driver membuka pintu mobil, secepatnya ia turun untuk membantuku memasukkan koper ke dalam mobil.


"Terminal kebon jeruk ya neng?" Suara pak tua sang pengemudi terdengar begitu gagah.


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya tanpa mengeluarkan kalimat sepatah katapun. Avanza berwarna hitam itu segera melaju dengan kecepatan sedang, gerimis seolah mengiringi kepergianku bersama luka yang kian menyayat.


"Sudah sampai ya pak, cepat sekali" Tuturku, sambil membuka pintu mobil.


Aku kembali berjalan menyusuri jalanan yang sudah basah karena gerimis, dengan tas dan koper yang ku bawa.


"Bandung Bandung Bandung" Seorang kondektur berteriak tepat di depanku.


"Bandung neng? berangkat sekarang ayok" Ia menawarkanku untuk masuk ke dalam bisnya.


Hujan mulai turun dengan lebat, petir menyambar dari berbagai arah, segera ku naikkan koperku dan mencari tempat duduk, bajuku sedikit basah terkena percikan air hujan.

__ADS_1


Di kejauhan sana Doni mulai gelisah, perasaannya bercampur antara sesal dan sedih. Ia mendatangi tempat Wina, tapi Wina masih terlelap pintu kamarnya terkunci rapat hingga ia tak menemukan apapun yang membuat hatinya tenang. Berkali-kali ia menghubungiku , tak ada jawaban apapun dariku. Tersirat kekhawatiran di wajahnya .


"Dimana kamu Bu?" Benaknya terus bertanya-tanya akan keberadaanku.


Pikirannya kacau, air matanya tiba-tiba menetes merasakan penyesalan yang sangat dalam.


"Maafkan aku, aku sungguh menyesal. Kenapa kamu tidak pulang? aku khawatir" Suara Doni lirih, bibirnya bergetar hebat. Pandangannya tak lepas dari layar ponsel miliknya.


Ia pandangi jendela, di luar hujan sangat deras tiba-tiba ia teringat masa dimana aku dan Doni masih berpacaran. Masa-masa yang indah yang membuat hati Doni semakin menyesal.


Sedangkan aku, ku sandarkan kepalaku pada kursi bis yang empuk, ku ambil ponsel dan earpone di dalam tas, ku putar lagu yang biasa Akbar putarkan untukku.


Heart beats fast


Colors and promises


How can I love when I'm afraid to fall


But watching you stand alone


All of my doubt, suddenly goes away somehow


One step closer


I have died everyday, waiting for you


Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years

__ADS_1


I'll love you for a thousand more


Time stands still


Beauty in all she is


I will be brave


I will not let anything, take away


What's standing in front of me


Every breath, every hour has come to this


One step closer


I have died everyday, waiting for you


Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


And all along I believed, I would find you


Time has brought your heart to me, I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thausand more..

__ADS_1


Lagu yang membuat pikiranku relax, lagu yang selalu menghiburku kala aku mengingat Akbar, ku pejamkan mata, ku biarkan pikiran dan perasaanku melayang hingga aku terhanyut dalam mimpi yang indah, rasanya tak ingin bangun lagi.


__ADS_2