
"Apa itu yang kau bawa?" Doni bangun dari tidurnya, ia mengucek kedua matanya, lalu duduk di sebelahku.
"Ini hadiah kecil untukmu, aku tak yakin kau akan menyukainya. Tapi ku harap kau suka" Aku memberikan bingkisan yang ku beli tadi.
Doni tampak senang dengan hadiah kecil yang ku berikan, aku menyandarkan kepalaku pada pundak Doni rasa kantuk mulai datang menghampiriku, tak butuh waktu lama aku pun terlelap di pundaknya, Doni segera menggendongku memindahkan tubuh kurusku ke atas ranjang.
Keesokan harinya..
Seperti biasa Doni akan mengantarkanku ke tempat kerja setiap jam 9 malam, kali ini ia terlihat panik dan buru-buru.
Kado kecil pemberian yang ku beli kemarin ia kenakan semuanya, aku merasakan adanya kejanggalan dalam diri Doni. Tapi, semua itu ku tepis jauh-jauh. Aku tidak ingin beradu argumen hanya karena prasangka tak jelas.
"Ayok cepet, udah malam nanti kamu telat" Doni segera mengambil motor, ia menungguku di depan kosan.
"Kok kamu buru-buru sih , kan harusnya aku yang buru-buru, yang kerja juga aku" Aku menaiki motor tersebut Doni menyalakan stater motor ia membawa motor dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Jalanan ibu kota masih ramai malam ini, semua orang masih berlalu lalang dengan aktifitasnya masing-masing, terlebih ini adalah malam minggu. Para kaula muda keluar untuk sekedar nongkrong, jalan pun cukup macet karena nya.
"Aku anterin kamu sampai sini ya, lihat ! ikuti jalan ini, sebelum lampu merah sebelah kiri ada kantor pegadaian , nah sebelum kantor itu adalah tempat kamu bekerja. Aku tidak bisa mengantarkanmu ke sana karena jalanan macet dan kamu sudah terlambat kalo harus muter jalan nanti kamu kena masalah" Doni berhenti tepat di persimpangan jalan, ia menunjuk jalan lurus di depan sana yang berakhir dengan lampu merah. Tanpa basa basi aku mengikuti intruksi dari Doni, dengan rasa takut yang mengganggu pikiranku. Bagaimana tidak? tempat ini masih begitu asing bagiku, bahkan aku tidak pernah berjalan seorang diri di tempat ini apalagi dalam kegelapan malam.
Di sinipun termasuk tempat yang rawan, segala macam kejahatan dapat dengan mudah menemui siapa saja yang berjalan sendirian. Seperti satu minggu yang lalu seseorang menemukan mayat seorang perempuan yang sepertinya meninggal karena di rampok sekaligus di perkosa lalu mayatnya di buang ke sungai tepat di samping tempatku bekerja.
Berita yang tiba-tiba ku ingat membuatku semakin takut dan mempercepat langkahku, jalanan pun terlihat agak gelap karena pencahayaan yang hanya bersumber dari kendaraan mereka yang lewat.
TING TENG
Nafas yang tak beraturan serta keringat yang terus mengalir membuat tubuhku lemas.
"Kamu kenapa ngos-ngosan gitu?" Tanya kak Desy , ia mempersilahkanku masuk dan mengunci kembali pintu gerbang.
"Aku jalan kak dari persimpangan jalan sana" Aku menunjuk jalanan yang ku maksud.
__ADS_1
"Berani banget kamu jalan kaki dari sana, kan lumayan jauh. Mana rawan lagi, lain kali kamu pesan gojek aja, nanti biar kakak yang bayar"
"Iya kak"
Aku duduk di kursi , memulai pekerjaanku dengan mengiris bawang daun dan juga seledri. Sambil menunggu pesanan yang semakin malam semakin ramai.
KRING KRING
"Ya beb kenapa?" Aku mengangkat telpon yang terus berdering.
"Apa Doni masih di sana? dia belum pulang" Putri menelponku.
Aku terlalu asik dengan pekerjaanku sehingga aku lupa untuk menelpon Doni, Doni pun tidak mengabariku tidak seperti biasanya. Biasanya ia akan menelponku untuk memberiku kabar jika ia sudah sampai kembali di kosan.
Waktu sudah menunjukan pukul 00:30 malam, aku mulai panik khawatir akan keadaan Doni, terlebih Putri belum juga mengabariku padahal sudah 30 menit yang lalu ia menelponku.
__ADS_1