
"Tapi kenapa? bulan depan kamu naik jabatan loh.. saya baru di konfirmasi tadi malam sama bigbos, ia udah buka cabang baru yang bakal di pegang sama kamu, gini aja deh, Kamu butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikan kuliah kamu? satu bulan? dua bulan? saya akan pertimbangkan tapi kamu jangan resign. Gimana?"
Ia mencoba membujuk. Tapi, amarah yang nenguasai terus mendorongku untuk tetap meneruskan langkahku , tak ada yang bisa menghalangiku aku tetap pada pendirianku.
"Maafkan saya bu, tapi saya benar-benar tidak bisa"
"Baik kalo itu maumu, tapi jika semua sudah selesai kamu harus kembali lagi ke sini, tangan saya terbuka untuk kamu. Gajih terakhir akan saya transfer malam ini" Sedikit kecewa, akhirnya ia menyetujuinya.
"Baik bu, terima kasih. Saya pamit" Aku keluar dari ruangan itu, dadaku terasa pengap , kakiku sangat berat ku langkahkan. Ada rasa kecewa, sedih dan juga sesal di benakku, meninggalkan pekerjaan yang sangat ku sukai itu juga teman-teman yang asik yang selalu menghiburku di kala suka maupun duka.
Di depan Evi dan yang lainnya sudah menunggu, tersirat wajah khawatir mereka, seperti tak sabar ingin mendengar cerita dariku.
"Kamu kenapa?" Evi menatapku penuh dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja. Oh ya, besok aku pulang ke Bandung. Kalian jaga diri baik-baik ya, aku bakalan sering-sering berkunjung ke sini" Ku tatap wajah mereka satu persatu.
"Jangan resign" Satu persatu dari mereka meneteskan air mata, aku berlalu pergi meninggalkan kesedihan di antara mereka, rasanya tak sanggup berpisah dengan mereka.
Ku langkahkan kaki menuju pintu keluar, air mataku kembali mengalir deras meski telah ku coba untuk menahannya.
Kembali aku berjalan menuju kontrakan Wina, jalanan ramai terasa sepi , begitu banyak orang berlalu lalang tapi entah kenapa mereka seakan berjalan layaknya mayat hidup, sama sekali tak membuat perasaanku membaik.
Ku lihat Dav di depan sana, ia memperhatikan langkahku yang mulai goyah, ia segera menghampiriku dengan setengah berlari.
"JANGAN PERNAH BERANI MEMPERLIHATKAN WAJAHMU DI HADAPANKU MULAI SAAT INI, jika tidak, aku tidak akan mempertemukanmu lagi dengan anakmu"Aku melepas tanganku dari genggamannya, lalu pergi meninggalkannya yang mematung di tempatnya berdiri.
Kembali ku tumpahkan air mata dengan sesak yang mengganggu pernafasanku, rasanya aku ingin mati saat ini juga.
__ADS_1
Ku bereskan pakaianku satu persatu ku masukkan ke dalam koper.
Tak sabar rasanya menanti hari esok, aku ingin segera pulang dan memeluk Bintang.
"Lu kenapa?" Mas Agum berdiri di depan pintu, membuyarkanku dari kelamnya pikiranku.
"Gw mau minum dalam rangka merayakan perpisahan, besok gue balik ke Bandung" Aku melemparkan senyum padanya, berusaha untuk terlihat tegar di hadapannya.
"Oke, tapi kenapa? lu cerita aja ama gue , ya kali gue bisa bantu" Tutur mas Agum.
"Gue baik-baik aja mas, ya udah yuk" Sengaja ku alihkan pembicaraan dengan mengajaknya ke luar, agar ia tak lagi bertanya akan keadaanku.
Malam trakhir aku di ibu kota , ku habiskan dengan party, bermain gitar dan membakar beberapa jagung yang Wina bawa dari Cafe Taria, kata Wina SVP sengaja membelinya untuk semua karyawan, tapi karena tidak ada yang mau mengolahnya jadi ia membawanya pulang untuk kami bakar bersama.
__ADS_1
Kami semua bergadang semalaman, melupakan sejenak kesedihan sekaligus melepas rindu yang akan kami rasakan ketika berjauhan nanti.