Pena Hitam

Pena Hitam
89


__ADS_3

Mendengar penuturan Putri, jelas seketika membuatku mati rasa. Berkali-kali di kecewakan , membuatku sulit menyembunyikan perasaan kecewa yang mengendap di dadaku.


Aku masih berusaha untuk tidak memperdulikannya, tetap menahan ego agar semua terlihat baik-baik saja, tentu tidaklah mudah.


"Itukah yang membuat dia pindah ? karena adanya aku di sini?" Kembali ku tahan air mata yang tak sabar ingin keluar dari kedua pelupuk mataku.


"Aku sangat mengerti perasaanmu, tapi semua sudah berlalu" Putri menyentuh pundakku, memberikanku isyarat seolah aku harus melupakan kejadian ini, dan memulai kembali semuanya dengan hati yang lapang.


"Kau benar ! mungkin aku memiliki banyak kesalahan yang membuat ia berkali-kali mengkhianatiku" Aku berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Putri yang masih duduk di tempatnya.


Hari dengan begitu cepat berganti, rasanya masih berat untuk berbicara dengan Doni, kami tidur di ranjang yang sama namun seakan terasa asing. Kami saling menutup mulut tak ada yang berani berbicara lebih dulu.


Hingga pada hari berikutnya aku di berhenti paksakan dari pekerjaanku, omset go-food milik kak Desy menurun drastis, ia tak mampu membayar karyawan dan kemungkinan besar usahanya akan di tutup karena beberapa alasan lain juga yang tidak di ketahui oleh karyawan.


"Loh kamu ngga kerja?" Doni melongo melihatku, antara kaget dan penasaran. Akan tetapi, tak membuat raut wajahnya berubah . Ia masih memperlihatkan rasa bersalahnya, terlihat dari caranya berbicara yang kaku dan sedikit tegang.

__ADS_1


Tanpa berbicara sepatah katapun aku melemparkan satu buah amplop berwarna putih berisi surat pemberhentian paksa kerja beserta struk gajih di dalamnya, Doni membuka amplop putih tersebut dan langsung membacanya.


"Kamu masib marah? tak apa mungkin belum rezeki kita. Maaf untuk yang kemarin. Itu benar-benar salah faham" Aku memilih untuk tidak beradu argumen meski yang Putri ceritakan kemarin masih mengganggu pikiranku.


***


Keesokan harinya, aku kembali menyusuri ibu kota dengan berjalan kaki, ku kenakan kemeja putih beserta celana hitam dengan tas berisi amplop cokelat, berharap mendapatkan sebuah pekerjaan kembali secepatnya.


Hampir seharian aku berjalan di tengah teriknya matahari sebelum akhirnya aku menemukan sebuah papan pengumuman yang berisi lowongan pekerjaan, papan pengumuman itu tertera tepat di depan sebuah Cafe yang tak jauh dari tempat Doni bekerja.


WAITER/WAITRESS USIA 18-25 TAHUN


PENDIDIKKAN MINIMAL SMA


Aku segera masuk ke dalam cafe tersebut, cafe yang bernuansa serba cokelat dengan beberapa pajangan bunga serta papan motivasi yang menggantung di dinding menambah kesan elegan, cafe tersebut terlihat sangat sepi bahkan tak ada satupun pengunjung di dalamnya.

__ADS_1


"Hallo, permisi ! saya mau melamar pekerjaan di sini" Ucapku pada seorang Waitress yang tengah berdiri di meja kasir.


"Boleh kak, tapi mohon maaf sekali SVP nya sedang keluar, paling lamarannya di titip dulu" Perempuan itu mengenakan kemeja orange, celana hitam panjang dengan rambut yang di ikat ke belakang, ia terlihat manis dengan senyuman yang merekah di bibirnya.


Aku memberikan amplop cokelat yang sudah ku sertakan nomor hanphone yang ku bawa dalam tas berwarna salem, lalu aku menyerahkannya pada perempuan tersebut.


Setelah memberikan amplop cokelat aku bergegas pulang, berharap secepatnya mendapatkan panggilan untuk bekerja.


Baru saja sampai beberapa menit yang lalu, tiba-tiba ponselku berdering. Satu pesan telah masuk.


"Selamat sore, dengan Saudari Naura. Saya Supervisor dari Cafe Taria mengundang anda untuk melakukan interview pada hari Selasa pukul 10 di Cafe Taria, terima kasih"


SVP. Cafe Taria


Aku berjingkrak kegirangan seperti seorang bayi yang baru saja menemukan mainan baru, perasaan haru sekaligus senang yang tak dapat di gambarkan oleh kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2